Bab [4] Kamu Benar-Benar Membuatku Mual
Perjanjian perceraian ini memang bukan yang ia siapkan. Padahal, ia sudah meninggalkan uang yang lebih dari cukup untuk Anna Lim, yang bisa menjamin hidupnya tanpa perlu khawatir soal materi sampai tua.
Terdengar suara orang berbisik di sekitar, "Anna Lim pergi tanpa harta sepeser pun? Mobil, rumah, saham, semua dia lepas? Bahkan mau ganti biaya pengobatan selama dua tahun? Serius nih? Jangan-jangan ini cuma strategi pura-pura mundur untuk maju lagi?"
"Kelihatan banget lagi main trik licik. Paling beberapa hari lagi juga balik ngejar-ngejar Mas Fajar!"
Dulu, Arjuna Pratama selalu merasa kehadiran Anna Lim adalah penghalang bagi Melati untuk bisa benar-benar menerimanya. Setiap hari ia memikirkan cara untuk lepas sepenuhnya dari Anna. Selembar surat nikah itu tak lebih dari belenggu yang mengikatnya. Dan Anna, adalah batu sandungan di jalannya menuju kebahagiaan.
Tapi saat ini, menatap surat perjanjian cerai di tangannya, Arjuna justru tidak merasakan kelegaan yang ia harapkan.
Tepat pada saat itu, ponselnya berdering. Panggilan dari Melati Kusuma. Arjuna melirik layar ponselnya dan langsung tersenyum. Sambil menerima panggilan itu, ia mendorong pintu. "Imut!"
Melati Kusuma yang sedang berdiri di lobi, kebetulan melihat Anna Lim. Dengan sikap tenang, ia maju untuk menyapa, "Kak Lim, soal insiden obat perangsang waktu itu sudah ada titik terang? Seharusnya Kakak lapor polisi."
Anna Lim tersenyum padanya. "Terima kasih kamu sudah mau percaya padaku. Aku sudah lapor polisi, kok. Nona Kusuma, aku doakan kamu dan Arjuna langgeng sampai tua."
Arjuna tidak percaya padanya, tapi Melati percaya. Tak peduli ucapan itu tulus atau tidak.
Melati bertanya dengan sedikit cemas, "Apa Mas Fajar sudah ingat semuanya?"
Anna menggeleng. "Aku tidak tahu. Surat cerainya sudah aku kasih ke dia. Aku sudah memutuskan untuk melepaskannya."
Sebelum Melati sempat menjawab, Arjuna tiba-tiba muncul dan langsung menarik Melati ke sisinya.
Arjuna tidak ingin mereka berdua bertemu. Ia takut Anna akan mengungkit masalah obat perangsang dan upaya merayunya di ranjang pada Melati.
Ia merangkul Melati dan membawanya menuju ruang privat. "Imut, kita masuk dulu, yuk!"
Namun, Melati mundur selangkah sambil tersenyum. "Mas Fajar, aku masih ada urusan lain, nggak bisa nemenin kalian. Selamat ulang tahun, ya!"
Arjuna maju dan dengan lembut memegang pergelangan tangan Melati. Sambil mengerutkan kening, ia memohon dengan suara rendah, "Imut, sepenting apa pun urusanmu, nggak bisakah besok saja? Hari ini ulang tahunku, lho. Tolong, temani aku di sini, ya?"
Nadanya terdengar seolah-olah ia sedang sangat bersedih.
Merasa sudah tidak ada urusannya lagi di sana, Anna Lim pun berbalik untuk pergi.
Melati meliriknya sekilas, lalu kembali menatap Arjuna. "Maaf, Mas Fajar, aku benar-benar ada urusan penting. Aku tetap pada pendirianku: nanti, kalau ingatanmu sudah pulih dan perasaanmu padaku masih sama seperti hari ini, aku pasti akan bersamamu sepenuh hati. Aku tidak mau kamu menyesal di kemudian hari dan malah menyalahkanku."
Mendengar itu, amarah Arjuna langsung tersulut. Ia mengerutkan kening dan bertanya tajam, "Anna Lim ngomong omong kosong apa sama kamu?"
Urat di dahi Arjuna menonjol. Tanpa menunggu jawaban Melati, ia melangkah maju, mencengkeram lengan Anna Lim, dan menariknya hingga tubuh perempuan itu terhuyung.
Lalu ia mendorong Anna dengan kasar. "Anna Lim! Kamu ngomong apa saja ke Melati?! Kamu benar-benar bikin aku muak!"
"Kak Lim!" pekik Melati kaget.
Dorongan keras Arjuna membuat Anna yang sama sekali tidak siap, terbentur pilar marmer di lobi kelab malam itu.
Anna langsung terduduk lemas di lantai, darah segar mengalir dari dahinya.
Pada saat yang sama, Steven Santoso yang baru saja keluar, melihat kejadian itu. Ia segera berlari menghampiri dan mencoba membantu Anna berdiri.
Melihat darah di dahi Anna, Steven menoleh dan berteriak pada Arjuna, "Arjuna, kamu gila, ya?!"
Steven membantu Anna untuk bersandar dengan baik, lalu berkata padanya, "Anna, aku antar kamu ke rumah sakit!"
