Bab 6

POV Amara

Aku lagi tenggelam dalam buku ketika melihat Masha berlari ke arahku, ngoceh sendiri sambil nelepon. Ponselnya langsung dia sodorkan ke tanganku, dan aku menatapnya dengan alis terangkat.

“Aku harus ngapain dengan ini?”

“Remi mau ngomong sama kamu,” katanya.

Mataku membesar, dan refleks aku buru-buru balikin ponsel itu ke dia. Remi dan Masha sama-sama punya sifat nyelonong yang bikin kepala pening.

“Udah, angkat,” Masha maksa.

Aku menggeleng, memicingkan mata dengan rasa sebal setengah jijik, tapi dia cuma mengangkat bahu lalu nyodorin lagi, seolah bilang aku nggak punya pilihan. Aku menarik napas panjang, setengah pasrah, lalu menempelkan ponsel ke telinga dan menyapa Remi dengan nada ketus.

“Amara!” Suara cerianya hampir bikin telingaku budek.

“Apa?!” balasku datar.

Dia malah ketawa denger aku jutek. “Kamu sadar nggak sih kamu itu cantik dan beruntung banget? Gila, Dewi Bulan baik banget ngasih kamu pasangan yang seganteng itu!”

Pasti Masha udah bocorin semuanya. Aku melirik Masha tajam. Dia nyengir canggung, ngasih tanda damai, sambil tetap dengerin percakapan kami.

“Kamu mau ngapain? Aku pengin ketemu kamu, nanya-nanya detail kalian berdua. Kalian udah mulai proses kawin belum? Coba dulu lah, beb!”

Aku menepuk dahi.

Inilah maksudku.

Bukan aku nggak mau ngobrol sama dia, tapi orang nggak bakal ngerti seberapa menyebalkannya Remi kalau belum kenal. Mulutnya nggak punya rem. Aku bahkan nggak inget gimana dulu bisa berteman sama orang kayak dia.

“Jaga omongan, Remi! Suami kamu bisa denger!” aku memperingatkan.

Suaminya posesifnya kebangetan. Entah Remi ngasih mantra apa ke dia. Terakhir kali Max cemburu, dia sampai main tangan.

Remi cekikikan. “Santai, Amara. Dia suka kok sama mulutku.”

Mataku melebar, jijik mendengar kata-kata menjijikkan yang dia ocehin. Masha malah berseri-seri dan menjerit heboh. Ya Tuhan. Nggak habis pikir aku berteman sama dua orang ini.

“Diam, atau aku tutup!”

“Oke, oke. Aku berhenti. Jangan tegang gitu,” katanya cepat, mencegahku memutuskan telepon. “Jadi balik lagi. Rencanamu apa?”

Aku menarik napas, menimbang-nimbang dengan muka pasrah. “Aku nggak punya rencana. Ya jalanin aja. Apa pun yang terjadi, ya terjadi.”

“Kamu kedengeran nggak tertarik. Kamu nggak suka dia?”

Aku melirik Masha yang juga nunggu jawabanku. Aku tahu dia gatal pengin nanya hal yang sama, tapi aku belum siap ngebahasnya.

“Bukan aku nggak suka, tapi aku nggak yakin aku siap buat apa pun sekarang,” jelasku.

“Jadi kamu mau nolak dia?”

Aku mengembuskan napas pelan. “Kayaknya aku memang pengin nolak dia—” Tapi aku tahu pikiranku sendiri bahkan nggak bakal ngizinin…

“Aku nggak bakal biarin!”

Aku tersentak begitu mendengar suara yang kukenal berteriak dari belakang. Aku langsung menoleh. Dan jantungku seperti ditarik keras—dia.

Dia berdiri di dekat pintu tanpa baju, tubuhnya basah oleh keringat. Aku sempat dengar kabar dia baru pulang dari berburu para rogue yang menyusup ke wilayah kami. Di sampingnya ada Beta, Gamma, dan sepuluh prajurit pack, semuanya tampak tegang setengah ketakutan.

Aku juga kaget. Aku belum selesai ngomong. Aku baru mau jelasin ketika dia memotong, gerakannya cepat sampai aku tersandung kata-kataku sendiri. Aku baru sadar kami sudah sampai di kamarnya. Ini baru kali kedua aku ada di sini karena aku menolak berbagi ranjang dengannya.

Dia membanting pintu sampai menutup rapat, lalu mendorongku dan menahanku menempel ke dinding. Aku nggak bisa bohong—ada sedikit gugup saat melihat amarah di matanya, warnanya sama dengan mata serigalanya… sama seperti punyaku. Aku meringis ketika dia mencengkeram rahangku dan mengangkat wajahku sedikit. Nggak sampai menyakitkan, tapi cengkeramannya cukup bikin rahangku terasa kencang.

“Aku nggak akan pernah mengizinkan kamu menolak aku. Aku nggak nunggu selama ini cuma buat nyia-nyiain kesempatan,” geramnya.

“Tunggu—lepasin aku!”

Cengkeramannya makin kuat, dan dia sudah marah bahkan sebelum dengar kelanjutan yang mau kukatakan.

“Jangan coba-coba, Amara Dale! Aku nggak akan berubah pikiran,” bentaknya.

Aku menatap matanya yang menyala. Aku tahu, apa pun penjelasanku, dia nggak bakal dengerin. Dia benar-benar marah.

Aku mengembuskan napas lewat hidung. “Aku nggak akan nolak kamu. Aku janji,” kataku, berusaha menenangkannya.

Dia menatapku penuh curiga, dan bara di matanya pelan-pelan padam. Perlahan dia melepas cengkeramannya dan mundur selangkah, menatapku tajam seolah sedang menimbang-nimbang. Aku membalas tatapannya tanpa berkedip. Kalau serigala lain mungkin sudah ciut, tapi bukan aku. Bahkan seandainya dia bukan pasanganku, aku tetap nggak akan takut. Aku tidak—tidak takut pada siapa pun, pada apa pun. Saat kamu tak punya apa-apa lagi untuk hilang, rasa takut jadi nggak ada artinya.

“Jangan bilang itu lagi, ya?”

Aku duduk di tepi ranjang dan mengangguk. Dia bersandar di dekat pintu, dan itu langsung menarik perhatianku. Keningku berkerut saat menyadari dia masih belum pakai kaus.

“Pakai baju. Nanti masuk angin,” tegurku.

Dia mengangkat kedua alisnya dan memiringkan kepala, menatapku dengan ekspresi di antara mengejek dan… kagum. “Makasih udah khawatir, Sayang, tapi aku nggak bakal mati cuma gara-gara itu.”

“Terserah,” jawabku datar.

“Kenapa? Nggak suka yang kamu lihat? Kamu maunya yang mana? Atasannya doang atau telanjang sekalian?” godanya.

“Telanjang.”

Pipiku langsung panas saat mendengar suara Selene di kepalaku menjawab pertanyaannya. Keterlaluan beraninya!

“Apa-apaan sih? Kamu bikin malu, Selene!” omelku dalam hati.

Damien terkekeh pelan. “Oh, serigala kecilmu pengin lihat aku telanjang, ya?”

“Diam, sialan!” sentakku, wajahku makin membara.

“Jangan pakai kata itu ke aku, Sayang. Nanti kamu nyesel,” ancamnya sambil bercanda.

Tanpa peringatan, aku berdiri dan menerjang dia. Tanganku meraih benda terdekat di atas meja lalu kulempar sekuat tenaga, tapi refleksnya cepat—dia menangkapnya dengan satu tangan sebelum sempat mengenainya.

Kesal, aku melayangkan bogem dan menyabetkan tendangan, tapi dia menghindar dengan enteng. Amarahku makin naik karena tak satu pun seranganku masuk. Alih-alih membalas, dia cuma menahan pukulan dan tendangan cepatku. Dia jago sekali mengelak, dan itu justru bikin darahku mendidih.

Di tengah adu fisik itu, aku tak tahan bertanya, “Kamu nggak tahu ya kalau kebanyakan orang menganggap aku menakutkan?”

Ada kilat geli di matanya. “Tentu aku tahu. Tapi yang mereka takuti, justru aku kagumi.”

Begitu perhatiannya sempat melirik celah kecil di antara kami, aku melihat kesempatan dan cepat-cepat melingkarkan lenganku ke kepala dia. Tapi dia langsung lepas, membalik posisi, dan menekanku ke dinding. Aku meronta dalam cengkeramannya yang kuat, tapi sia-sia. Aku terdiam kaget saat dia menarik pinggangku lebih dekat, lalu seringai congkak merekah di wajahnya.

“Aku nggak nyangka… dari dekat kamu malah lebih cantik…”

“Berhenti mancing aku, brengsek!” teriakku, mengumpulkan tenaga untuk lepas dengan menghantamnya lagi.

Dia cuma menyeringai sambil menepis seranganku, membuatku semakin murka. Setiap kali dia bertahan, aku mengamati gerakannya dengan saksama. Sebagai salah satu pelindung terkuat di kawanan, aku belajar cepat dan segera menyesuaikan diri dengan gaya bertarungnya. Tanpa memberi tanda apa pun, aku mengubah taktik dan mendaratkan tendangan keras tepat ke dadanya.

Dia lengah dan terpental melewati balkon—memuaskan sekali. Tapi saat aku menunduk melihat ke bawah, rahangku mengeras karena dia terlihat… menikmati ini. Aku mengepal kedua tangan. Raja Alpha sombong ini nggak akan lolos begitu saja setelah main-main sama aku. Aku harus kasih dia pelajaran.

Anggota kawanan di bawah membeku, terpaku menyaksikan bentrokan kami yang brutal. Oh, kekacauan bahkan belum benar-benar dimulai. Mereka tidak tahu, ini baru permulaan. Raja Alpha ini sedang menguji kesabaranku, dan aku menolak kalah.

“Coba aja tunjukin kemampuanmu, Sayang,” godanya di kepalaku.

Amarahku meluap saat aku merobek jaket yang kupakai dengan kasar. Aku sudah tak sabar mencengkeramnya dan menghancurkannya sampai remuk. Mataku menyala oleh murka, sejelas-jelasnya.

Aku mengertakkan gigi. “Kamu bakal bayar ini!”

“Aku pengin lihat kamu coba,” tantangnya, lalu berlari menuju hutan, memancingku dengan kata-katanya.

Aku meregangkan jemari. “Oh, jadi kamu mau aku memburumu?”

Tantangan diterima.

“Tangkap aku kalau bisa…”

Bab Sebelumnya
Bab Selanjutnya