Bab [3] Menghadapi Perubahan Besar

Melihat Sari yang seolah tidak peduli, Ronald Wijaya langsung naik pitam dan melontarkan sumpah serapah ke punggung putrinya itu.

“Jangan mentang-mentang kamu diterima di universitas bagus, kamu jadi hebat! Nanti juga, ujung-ujungnya kamu minta uang kuliah dan uang jajan sama Ayah, kan? Apa yang mau kamu sombongkan? Muka masam begitu kamu tunjukkan ke siapa? Sama saja kelakuanmu seperti ibumu yang sudah mati itu!”

Sebuah vas bunga melayang dari atas.

PRAANG!

Vas itu pecah berkeping-keping tepat di depan kaki Ronald Wijaya.

Sontak ia mundur selangkah, mulutnya kembali mengumpat tanpa henti.

Yang membalasnya hanyalah suara pintu yang dibanting keras dari lantai atas.

Sari Wijaya menutup pintu kamarnya. Ia terlalu malas untuk membersihkan diri, langsung saja merebahkan tubuhnya di kasur dan menarik selimut untuk tidur.

Sejak masuk kuliah, Sari selalu merasa tubuhnya lemas setiap hari.

Nafsu makannya meningkat, dan ia juga jadi sangat mudah mengantuk.

Akhirnya, liburan semester pun tiba. Sebelum pulang ke rumah, ia pergi ke rumah sakit untuk memeriksakan diri.

Hasil pemeriksaan itu bagaikan petir di siang bolong.

Dokter memberitahunya bahwa ia sudah hamil lima bulan.

Sari menggenggam lembar laporan itu, tak bisa percaya.

Tapi ia harus percaya.

Ini pasti terjadi pada malam saat liburan musim panas itu, malam ketika ia dibius.

Hasil dari malam yang kacau bersama pria itu.

Pikirannya kalut. Ia bertanya pada dokter apa yang harus ia lakukan.

Melihat usianya yang masih sangat muda, dokter bertanya apakah ia masih kuliah.

Sari baru mahasiswi tahun pertama, tentu saja ia tidak bisa hamil dan melahirkan anak.

Kalau tidak, pendidikannya akan hancur.

Ia memohon pada dokter untuk membantunya menggugurkan kandungan itu.

Dengan menyesal, dokter memberitahunya bahwa dinding rahimnya sangat tipis. Menggugurkan kandungan secara paksa akan sangat berisiko.

Dan kemungkinan besar, ia tidak akan bisa memiliki anak lagi di masa depan.

Akhirnya, Sari memutuskan untuk mengambil cuti kuliah dan melahirkan anak ini.

Namun, saat ia kembali ke kampus untuk mengurus surat cuti, pihak universitas memberitahunya bahwa berita kehamilannya di luar nikah telah tersebar di internet.

Masalah utamanya adalah, ayah biologis dari anak itu tidak diketahui.

Di internet, gosip menyebar liar. Sari Wijaya dibilang memiliki kehidupan pribadi yang berantakan. Bukan hanya hamil sejak SMA, tapi juga sering melakukan aborsi. Tidur dengan terlalu banyak pria hingga tidak tahu benih siapa yang ada di dalam perutnya. Orang ini kelihatannya begitu tenang dan angkuh, siapa sangka di belakang ternyata seorang wanita genit dan tidak setia, murahan...

Semua isinya adalah hujatan untuknya.

Demi menjaga nama baik mahasiswa lain, pihak universitas membujuknya untuk mengundurkan diri.

Bagaimanapun, keberadaan mahasiswi sepertinya adalah aib bagi universitas.

Maka, pihak kampus pun mengeluarkannya dari universitas ternama itu.

Dengan pikiran kosong, Sari meninggalkan kampusnya.

Akhirnya, hari perkiraan lahir pun tiba.

Setelah berjuang antara hidup dan mati di ruang bersalin, ia akhirnya berhasil melahirkan bayinya.

Namun, bidan memberitahunya bahwa karena ia terlalu lama di perjalanan, janinnya mengalami kekurangan oksigen di dalam rahim. Saat dilahirkan, bayi itu sudah tidak bernapas dan tidak memiliki detak jantung.

Sari terbaring lemas di ranjang bersalin. Mendengar kabar itu, ia langsung pingsan.

Setelah Ronald Wijaya mendengar berita itu, ia sama sekali tidak peduli bahwa Sari baru saja melahirkan dan tubuhnya masih sangat lemah. Ia langsung mengurus kepulangannya dari rumah sakit dan mengirimnya ke luar negeri. Sejak saat itu, ia tidak pernah lagi peduli hidup dan mati Sari.

Seolah-olah Sari tidak pernah menjadi putrinya.

Saat itu, Sari Wijaya sebatang kara di negeri orang, menanggung penderitaan fisik dan mental yang luar biasa.

Setelah kondisi tubuhnya sedikit membaik, ia mulai melakukan berbagai pekerjaan paruh waktu untuk menghidupi dirinya sendiri.

Hingga suatu hari, ia bertemu dengan seorang pria muda bernama Vincent Yanto.


Tujuh tahun kemudian.

Di hotel termewah di Jakarta Utara.

Di dalam ruang ganti.

Sari Wijaya, dalam balutan gaun pengantin, tampak anggun dengan riasan yang sempurna.

Ia berdiri di depan cermin besar, mengangkat sedikit ujung gaunnya, lalu berputar pelan dengan sepatu hak tingginya.

Sosok di cermin itu memiliki postur tubuh yang indah, wajah secantik lukisan, dan sorot mata yang menawan. Senyumnya begitu manis dan tulus.

Senyum yang datang dari lubuk hatinya.

Orang sehina dirinya pun ternyata bisa mendapatkan kebahagiaan.

Hari ini adalah hari pertunangannya dengan Vincent Yanto.

Karena kejadian di usianya yang kedelapan belas, ia diusir dari keluarga Wijaya, dikeluarkan dari universitas, dan nama baiknya hancur lebur.

Orang-orang menghinanya sebagai perempuan jalang dan memandangnya dengan sebelah mata.

Tapi Vincent Yanto berbeda. Selama tiga tahun, ia selalu ada di sisi Sari, tidak pernah meninggalkannya.

Yang terpenting, Vincent tahu masa lalunya, dan ia menyayangi serta mencintai Sari.

Senyum terus terukir di wajah Sari, penuh dengan harapan indah akan masa depan.

Ia merapikan rambutnya di depan cermin, mengangkat dagunya sedikit, lalu berbalik dan berjalan menuju pintu sambil menjinjing gaunnya.

Tiba-tiba, aroma asap yang menyengat membuatnya refleks menutup mulut dan terbatuk.

Matanya pun terasa perih, hampir mengeluarkan air mata.

Dengan tangan yang terbalut sarung tangan renda putih, ia membuka pintu pelan. Namun, kepulan asap tebal langsung menyambutnya.

Asap itu membuatnya terhuyung mundur beberapa langkah.

Ada apa ini? Kebakaran?

Padahal tadi semuanya baik-baik saja.

Tanpa ragu lagi, Sari Wijaya mengangkat ujung gaunnya yang panjang, lalu mengikatnya di depan.

Di atas meja, ada sebotol air mineral yang baru diminum oleh penata rias. Ia mengambilnya, menuangkannya ke telapak tangan untuk membasahi sarung tangannya, lalu segera menutup hidung dan berlari keluar dari ruang ganti.

Aula perjamuan yang tadinya ramai dengan hiruk pikuk tamu kini dipenuhi asap tebal dan berantakan.

Aula itu hampir kosong.

Api sepertinya tidak muncul tiba-tiba.

Tampaknya para tamu sudah berhasil dievakuasi dengan aman.

Sari merasa sedikit lega.

Tapi ia tidak mengerti, kenapa tidak ada yang memberitahunya kalau ada kebakaran?

Tunangannya, sang mempelai pria di pesta ini, Vincent Yanto, ke mana dia?

Di sudut dinding dan pilar-pilar aula, beberapa kobaran api yang membara tampak seperti monster ber mulut lebar yang siap menelan segalanya, termasuk Sari Wijaya yang terpaku di tempat, bingung harus berbuat apa.

Ia tidak berani ragu lagi. Ia berlari sekuat tenaga ke arah pintu keluar yang ia ingat.

Rasa takut yang luar biasa menyelimutinya.

Keputusasaan yang mendalam menjalari hatinya, membuat seluruh tubuhnya gemetar.

Langkahnya gontai, susah payah ia terus maju.

Hawa panas yang membakar kulit terasa di sekelilingnya. Gulungan asap tebal di hadapannya membuatnya tidak bisa melihat apa pun yang berjarak beberapa meter.

Tepat saat ia hampir kehabisan napas, ia mendengar suara yang familier.

Suara itu berteriak, “Siapa yang masih di dalam?”

Itu adalah tunangannya, Vincent Yanto, yang nekat menerobos masuk.

Pada saat itu, Sari seolah melihat pahlawannya turun dari langit.

Tanpa memedulikan asap yang menyesakkan, ia berteriak panik ke arah suara itu, “Vincent, aku di sini… uhuk, uhuk…”

Asap tebal menyergapnya, membuatnya tidak bisa bersuara lagi.

Ia hanya bisa menatap nanar saat Vincent Yanto, seolah tidak mendengar suaranya atau melihat sosoknya, terus mencari ke sana kemari dengan wajah cemas.

Kemudian, seolah menemukan sesuatu, Vincent segera berlari ke arah lain.

Dan Sari, hanya bisa terpaku menatap Vincent Yanto menggendong seorang wanita lain, menerobos kobaran api, dan bergegas keluar.

Meninggalkannya begitu saja.

Di tengah kepulan asap, Sari mendengar dengan jelas suara wanita itu, terdengar sangat lemah, lembut, dan manja. Ia berkata, “Kak Vincent, aku tahu Kakak pasti datang menyelamatkanku… Kakak nggak tahu betapa takutnya aku tadi, aku takut nggak bisa bertemu Kakak lagi…”

Sambil menggendongnya lari keluar, Vincent membujuknya dengan lembut, “Tenang ya, Nina, jangan takut. Apa pun yang terjadi, aku nggak akan pernah meninggalkanmu!”

Seketika, Sari seolah dipukul benda tumpul, tubuhnya oleng, pandangannya menggelap, dan dadanya terasa nyeri luar biasa.

Ternyata, wanita itu adalah adik tirinya, Nina Wijaya.

Bab Sebelumnya
Bab Selanjutnya