
Dari Berpisah Menuju Kebahagiaan
Rina Wati · Sedang Diperbarui · 102.7k Kata
Pendahuluan
Aku tak punya pilihan lain. Dengan berat hati kuterima kenyataan pahit itu, lalu berbalik arah dan menikahi seorang CEO triliunan.
Begali tahu kabar itu, sang mantan langsung menjadi gila!
Bab 1
Liburan musim panas setelah kelulusan SMA, Sari Wijaya akhirnya menerima surat penerimaan dari universitas negeri ternama.
Dia sangat bahagia begitu surat dari universitas impiannya itu ada di tangannya.
Sesampainya di rumah, begitu melangkah masuk ke ruang keluarga, dia melihat ayahnya, Ronald Wijaya, ibu tirinya, Ratna Salim, dan adik tirinya, Nina Wijaya, sedang duduk bersama di sofa.
Nina Wijaya sepertinya habis menangis, terlihat dari lingkaran matanya yang tampak merah.
Ratna Salim sedang menghiburnya. "Nina kan sudah berusaha keras. Waktu ujian kemarin kebetulan lagi nggak enak badan, makanya hasilnya kurang maksimal. Kalau kita kasih Nina satu kesempatan lagi, dia pasti bisa dapat hasil yang lebih baik."
Ronald Wijaya pun ikut membujuk dengan suara lembut. "Nina, walaupun universitas ini bukan yang terbaik, tapi nanti setelah lulus S1, kita bisa lanjut S2 di luar negeri. Pulang-pulang juga sama saja, kok."
Begitu Sari Wijaya masuk, pemandangan keluarga harmonis yang menyambutnya terasa begitu ironis.
Dia segera menyembunyikan surat penerimaan di tangannya. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, dia berbalik badan, lalu naik ke lantai atas menuju kamarnya.
Suka dan duka keluarga ini, sama sekali bukan urusannya.
Begitu dia kuliah nanti, dia akan memastikan untuk menjaga jarak sejauh mungkin dari mereka.
Namun, Nina Wijaya sepertinya tidak mau melepaskannya begitu saja. Sambil mengangkat wajahnya yang berlinang air mata, dia bertanya, "Kak, Kakak sudah terima surat penerimaan?"
Sejak masuk tadi, wajah Sari Wijaya terus terlihat dingin. 'Pasti nilainya tidak bagus', pikir Nina, 'dia tidak diterima di universitas favoritnya itu.'
Nina berpikir, meskipun dia sendiri hanya masuk universitas kelas dua, setidaknya itu lebih baik daripada Sari Wijaya yang tidak punya tempat kuliah sama sekali. Dia sudah tidak sabar menunggu Sari dipermalukan di depan Ayah.
Melihat ekspresi Nina, Sari Wijaya tentu bisa menebak apa yang ada di pikirannya.
Sari tersenyum sinis. Dia berdiri di hadapan mereka dan perlahan membuka surat penerimaannya.
Kertas surat yang dirancang dengan indah itu seakan menusuk mata Nina Wijaya.
Nina menekan kuat-kuat rasa iri dan benci yang bergejolak di dalam hatinya. Namun, di wajahnya, dia tetap memasang senyum manis. "Wah! Universitas ternama! Kakak memang hebat! Selamat ya, Kak!"
Ronald Wijaya melirik nama universitas itu, sudut bibirnya sedikit terangkat. "Sari dari kecil memang pintar."
Mendengar suaminya berkata demikian, Ratna Salim segera memainkan perannya sebagai ibu yang baik hati. Dia berpura-pura peduli dan bertanya, "Sari, kamu lapar nggak? Mau Ibu suruh Bi Inah masakin sesuatu?"
"Nggak perlu," jawab Sari Wijaya dingin, lalu berbalik dan naik ke kamarnya.
Sekelompok orang yang telah merebut rumahnya dan menyebabkan kematian ibunya ini, dia sama sekali tidak ingin berurusan dengan mereka.
Beberapa hari sebelum perkuliahan dimulai, Sari Wijaya sedang membereskan barang-barangnya di kamar.
Tiba-tiba, Nina Wijaya meneleponnya.
"Kak, kita berdua kan sebentar lagi mau berangkat kuliah. Ayah dan Ibu izinin kita pergi ke bar bareng buat merayakannya."
Sari Wijaya tidak tertarik dan hanya ingin segera menutup telepon. "Nggak, aku sibuk."
"Kak, aku tahu Kakak nggak suka sama Ibu dan aku. Tapi kan kita sebentar lagi nggak tinggal di rumah, setengah tahun lebih nggak akan ketemu. Lagipula, kita kan sudah delapan belas tahun, sudah boleh minum. Tolong ya, kali ini saja, Kak?" bujuk Nina.
Sari Wijaya berpikir sejenak. Ada benarnya juga, dia akan segera meninggalkan rumah ini, dan tidak ada sedikit pun rasa rindu yang akan tertinggal.
Bar? Kenapa tidak.
Dia menutup ritsleting kopernya dan menjawab Nina, "Oke, tunggu aku ganti baju."
Di seberang telepon, Nina bersorak gembira. "Oke, Kak! Aku tunggu ya, alamatnya aku kirim ke HP Kakak."
Bagi siapa pun yang mendengar, suaranya terdengar seolah-olah dia benar-benar senang bisa pergi bersama kakaknya.
Namun, di sudut yang tak terlihat oleh siapa pun, bibir Nina sedikit terangkat membentuk senyuman licik.
Sambil menatap layar percakapannya dengan Sari Wijaya, hatinya berkata dengan kejam, 'Kakakku tersayang, kalau aku tidak bisa masuk universitas bagus, maka kamu juga jangan harap bisa kuliah.'
Nina menyimpan ponselnya, lalu kembali bersikap seolah tidak terjadi apa-apa sambil tersenyum ramah kepada orang-orang di sekitarnya.
Dia terlihat begitu penurut, manis dan tidak berbahaya.
Sari Wijaya selesai berganti pakaian dan bercermin.
Di usianya yang kedelapan belas, Sari Wijaya telah tumbuh menjadi gadis yang sangat cantik dan mempesona.
Ini adalah pertama kalinya dia datang ke bar.
Meskipun dia sudah terbiasa dengan berbagai macam acara, tetapi berada sendirian di tengah lingkungan yang hingar-bingar oleh musik yang memekakkan telinga dan lampu warna-warni, tetap saja membuat dia sedikit gugup.
Dia menelepon Nina Wijaya. "Ruangan yang mana? ... Hmm, oke."
Sambil memegang ponsel, dia berjalan merapat ke dinding, dan terus-menerus berusaha menghindari orang-orang yang mabuk.
Saat berbelok di sudut lorong, dia tidak sengaja menabrak dinding daging yang kokoh. "Maaf," ucapnya cepat, lalu segera mundur selangkah.
Aroma pinus yang wangi tercium dari tubuh pria itu, bercampur dengan sedikit aroma tembakau yang samar.
Sari Wijaya terus menunduk. Dari sudut pandangnya, yang terlihat adalah sepasang sepatu kulit hitam mengkilap dan celana setelan hitam lurus. Dari situ, dia bisa menebak bahwa pria ini sangat tinggi, dengan kaki yang jenjang.
Pinggangnya sangat ramping.
Pria itu sedikit memiringkan tubuhnya dan memberi isyarat dengan tangan, mempersilakannya lewat.
Sari Wijaya melihat tangannya yang besar dengan buku-buku jari yang tegas. Sepertinya dia masih muda.
Di pergelangan tangannya, melingkar sebuah jam tangan Patek Philippe berwarna emas.
Sari Wijaya mengangguk kecil sebagai tanda terima kasih, lalu mengangkat sedikit gaun putih panjangnya dan bergegas pergi.
Dia tidak menyadari tatapan tajam yang terus mengawasinya dari belakang.
Sari Wijaya masuk ke dalam ruang privat, dan Nina Wijaya langsung menyodorkan segelas minuman kepadanya.
Mata Nina tidak berkedip saat menatap Sari Wijaya menenggak minuman itu.
Sudut bibir Nina melengkung naik, matanya menyiratkan kepuasan yang tidak bisa diartikan. Dia menggunakan gelasnya untuk menutupi wajah, guna menyembunyikan senyum licik penuh kemenangan karena rencananya akan segera berhasil.
Membayangkan reputasi Sari Wijaya yang akan segera hancur, Nina merasa begitu bersemangat hingga seluruh tubuhnya gemetar.
Sari Wijaya tidak berpikir macam-macam. Dia menunduk dan meminum minumannya lagi tanpa melihat tatapan penuh kebencian dan kepuasan di mata Nina.
Suasana bar begitu riuh, dan lampu-lampu menyilaukan mata. Beberapa menit kemudian, kepala Sari mulai pusing, disertai perasaan gelisah dan rasa haus yang aneh.
Dalam pandangannya yang mulai kabur, dia menatap Nina di seberangnya yang tampak khawatir.
Nina masih bertanya, "Kak, kamu merasa pusing, ya? Aku sudah pesan kamar di lantai atas, mau aku panggil orang untuk antar Kakak istirahat?"
Pipi Sari Wijaya sudah memerah, napasnya menjadi cepat, dan butiran-butiran keringat sebesar biji jagung pun membasahi dahinya.
Saat itulah, dia curiga kalau minumannya telah dibubuhi obat.
Tidak mungkin reaksi sekuat ini hanya karena seteguk minuman.
Orang yang melakukannya, selain Nina Wijaya, siapa lagi?
Pandangan Sari Wijaya sudah benar-benar kabur.
Dia mencengkeram kerah baju Nina Wijaya dan menggeram. "Nina Wijaya! Kamu meracuniku!"
Itu bukan pertanyaan, melainkan sebuah pernyataan.
Nina meletakkan gelasnya, lalu dengan dingin menepis tangan Sari Wijaya, dan berkata, "Kak, kamu ngomong apa, sih? Minuman kita kan sama persis. Kalau kamu nggak kuat minum, jangan salahkan aku dong."
Sari Wijaya merasa seluruh tubuhnya lemas. Begitu ditepis, dia langsung terjatuh ke sofa dan terengah-engah.
Sekalipun Sari biasanya sangat tenang, tetapi dia belum pernah mengalami hal seperti ini.
Otaknya seakan berhenti bekerja dan dia tidak tahu harus berbuat apa.
Atas isyarat dari Nina, seorang pria muncul dari sudut bar.
Pria itu tersenyum mesum, memandangi Sari Wijaya dari atas ke bawah dengan tatapan menjijikkan.
Dia berjalan mendekat, lalu memapah Sari Wijaya yang sudah tak berdaya, dan hampir setengah memeluknya saat membawanya keluar.
Sari Wijaya berusaha keras menolak sentuhan pria itu.
Namun, di saat seperti ini, tenaga yang menurutnya sudah sekuat tenaga itu tidak lebih dari sekadar gelitikan bagi seorang pria dewasa.
Pria itu memeluknya sambil berjalan menuju kamar di lantai atas.
Dia berpura-pura seolah mengenalnya. "Sayang, sabar ya, sebentar lagi sampai."
Keputusasaan mulai merayap di hati Sari Wijaya.
Dia tahu, saat ini, dia tidak punya kekuatan untuk menyelamatkan diri. Dan dia tidak tahu siapa yang akan datang menolongnya.
Karena Nina yang mengajaknya ke sini dan memberinya obat, pasti dia sudah mempersiapkan segalanya dengan matang.
Mungkin sebentar lagi akan ada orang yang masuk ke kamar, mengambil foto-foto tidak senonohnya, dan menyebarkan aibnya ke semua orang.
Membuatnya tidak akan pernah bisa mengangkat kepala lagi.
Dia berusaha melawan sekuat tenaga, tetapi kekuatannya tidak sebanding dengan pria itu.
Pria itu memeluknya sambil membawanya naik ke lantai atas, dan masuk ke koridor.
Sari Wijaya mencubit telapak tangannya sendiri dengan keras, mencoba menggunakan rasa sakit untuk membuatnya tetap sadar.
Dia berusaha keras memikirkan cara untuk menyelamatkan diri.
Dia merasakan gelombang panas menyebar dari perut bagian bawahnya, lalu terus menyerang tubuhnya yang muda dan sensitif.
Panas itu menjalar ke seluruh anggota tubuhnya, seolah menyelimuti dirinya tanpa sisa.
Obat itu sudah mulai bekerja. Kepala Sari terasa berat dan kakinya sudah lemas.
Pria menjijikkan itu pun dengan mudah menyeretnya.
Sari Wijaya terus berjuang sekuat tenaga.
Namun, dia tidak bisa melepaskan diri dari lengan kekar yang mencengkeramnya.
Sari terus mendorong pria itu. "Lepasin! Lepasin aku! ... Tolong! Siapa pun, tolong aku!"
Suaranya terdengar jelas menahan tangis.
Pria itu tersenyum menyeringai melihatnya berjalan terhuyung-huyung, lalu mengangkat tubuhnya dan berbisik dengan cabul di telinganya, "Dasar jalang kecil, adikmu bilang kamu masih perawan. Aku harus jadi yang pertama mencicipinya. Jangan sok menolak sekarang, nanti kalau sudah di kamar, di atas ranjang, aku jamin kamu bakal nangis-nangis memohon kepadaku untuk menggarapmu habis-habisan. Tenang saja, kalau kamu nurut, Abang pasti bikin kamu keenakan sampai nggak bisa berhenti ...."
Pria itu melilitnya seperti ular berbisa.
Kata-kata kotornya belum selesai, tetapi tiba-tiba dia menjerit kesakitan, "Aduh!" Dan langsung berlutut di lantai.
Dia bangkit, meludah, lalu mengumpat dengan kasar, "Anjing! Siapa yang berani mukul gue?!"
Sepertinya dia dipukul lagi dengan keras. Sambil memegangi wajahnya, dia hanya bisa merintih dan tidak bisa bersuara lagi.
Sari Wijaya mendengar suara pria lain yang lebih muda, sebuah geraman marah. "Pergi!"
Kemudian, pria tadi lari terbirit-birit.
Sari Wijaya sudah tidak sanggup lagi berjalan.
Di tengah keputusasaan terakhirnya, saat tubuhnya perlahan merosot di dinding, tiba-tiba dia jatuh ke dalam sebuah pelukan hangat.
Kemudian, dia digendong masuk ke sebuah kamar.
Hidungnya mencium aroma parfum ruangan, bercampur dengan bau alkohol dari tubuh pria yang memeluknya saat ini.
Dengan sisa kesadarannya, dia membuka mata dan samar-samar melihat seorang pria tinggi dan tegap.
Dia mengalungkan tangannya ke leher pria itu, tubuhnya gemetar, tetapi yang keluar dari mulutnya adalah sebuah gigitan.
Terdengar erangan tertahan dari pria itu.
Di telinga pria itu, dia berbisik, "Tolong ... bantu aku."
Bab Terakhir
#89 Bab [90] Hanya Memberimu Waktu Tiga Bulan
Terakhir Diperbarui: 5/2/2026#88 Bab [89] Wanita Itu Seharusnya Buta
Terakhir Diperbarui: 5/2/2026#87 Bab [88] Kakakku Adalah Pria yang Sangat Menjaga Diri, Nyaris Tak Pernah Tergoda oleh Wanita
Terakhir Diperbarui: 5/6/2026#86 Bab [87] Nona Besar Keluarga Fauzi
Terakhir Diperbarui: 5/1/2026#85 Bab [86] Pencarian Populer yang Tertunda tetapi Tetap Datang
Terakhir Diperbarui: 5/1/2026#84 Bab [85] Apakah Saya Orang yang Sangat Rendah?
Terakhir Diperbarui: 5/1/2026#83 Bab [84] Teman Sekelas Pria yang Punya Cerita
Terakhir Diperbarui: 5/1/2026#82 Bab [82] Iri Hati Membuat Wajah Orang Berubah
Terakhir Diperbarui: 4/30/2026#81 Bab [81] Kalian Tidak Layak
Terakhir Diperbarui: 4/30/2026#80 Bab [80] Makan Milikku, Keluarkan Kembali
Terakhir Diperbarui: 4/30/2026
Anda Mungkin Suka 😍
Cinta Terlarang: Aku dan Ayah Sahabatku
BUKU INI MENGANDUNG BANYAK ADEGAN EROTIS, PERMAINAN NAFAS, PERMAINAN TALI, SOMNOPHILIA, DAN PERMAINAN PRIMAL. ISINYA DEWASA KARENA DIBERIKAN RATING 18+. BUKU-BUKU INI ADALAH KOLEKSI BUKU YANG SANGAT PANAS YANG AKAN MEMBUAT KAMU MENCARI VIBRATOR DAN MENINGGALKAN CELANA DALAMMU BASAH. Nikmati, cewek-cewek, dan jangan lupa untuk berkomentar.
XoXo
Dia menginginkan keperawananku.
Dia ingin memiliki diriku.
Aku hanya ingin menjadi miliknya.
Tapi aku tahu ini lebih dari sekadar membayar hutang. Ini tentang dia yang ingin memiliki diriku, bukan hanya tubuhku, tapi setiap bagian dari siapa diriku.
Dan yang paling gila dari semuanya adalah kenyataan bahwa aku ingin memberikan segalanya padanya.
Aku ingin menjadi miliknya.
Guru Montok dan Menggoda Saya
(Terdapat banyak konten seksual dan merangsang, anak di bawah umur tidak diperbolehkan membaca!!!)
Tak Terjangkau
Ketika wanita lain menuduhku dengan fitnah, bukan hanya dia tidak membelaku, tapi dia malah berpihak pada mereka untuk menindasku dan menyakitiku...
Aku benar-benar kecewa padanya dan menceraikannya!
Setelah kembali ke rumah orang tuaku, ayahku memintaku untuk mewarisi miliaran aset, dan ibuku serta nenekku memanjakanku, membuatku menjadi wanita paling bahagia di dunia!
Pada saat ini, pria itu menyesal. Dia datang padaku, berlutut, dan memohon agar aku menikah lagi dengannya.
Jadi, katakan padaku, bagaimana seharusnya aku menghukum pria tak berperasaan ini?
Kecanduan Teman Ayahku
BUKU INI MENGANDUNG BANYAK ADEGAN EROTIS, PERMAINAN NAFAS, PERMAINAN TALI, SOMNOPHILIA, DAN PERMAINAN PRIMAL.
BUKU INI DIBERIKAN RATING 18+ DAN PENUH DENGAN KONTEN DEWASA.
BUKU INI ADALAH KOLEKSI BUKU-BUKU YANG SANGAT PANAS YANG AKAN MEMBUAT CELANA DALAMMU BASAH DAN MENCARI VIBRATORMU.
SELAMAT BERSENANG-SENANG, DAN JANGAN LUPA TINGGALKAN KOMENTARMU.
**XoXo**
"Kamu akan menghisap kontolku seperti gadis baik yang kamu adalah, oke?"
Setelah bertahun-tahun dibully dan harus menghadapi hidupnya sebagai tomboy, ayah Jamie mengirimnya ke sebuah peternakan untuk bekerja pada seorang pria tua, tetapi pria tua ini ternyata adalah fantasi terliarnya.
Seorang pria yang menidurinya dan mengeluarkan sisi femininnya. Jamie jatuh cinta pada Hank, tetapi ketika wanita lain muncul, apakah Jamie memiliki dorongan untuk memperjuangkan pria yang memberi hidupnya sedikit bumbu dan makna untuk terus hidup?
Setelah Bercinta di Mobil dengan CEO
Suamiku Miliarder Memanjakanku Habis-Habisan
(Pembaruan harian dengan dua bab)
Bermain Dengan Api
“Kita akan ngobrol sebentar lagi, oke?” Aku tidak bisa bicara, hanya bisa menatapnya dengan mata terbelalak sementara jantungku berdegup kencang. Aku hanya bisa berharap bukan aku yang dia incar.
Althaia bertemu dengan bos mafia berbahaya, Damiano, yang tertarik pada mata hijaunya yang besar dan polos, dan tidak bisa mengeluarkannya dari pikirannya. Althaia telah disembunyikan dari iblis berbahaya itu. Namun takdir membawanya kembali padanya. Kali ini, dia tidak akan pernah membiarkannya pergi lagi.
Cinderella Sang Miliarder
Benar, ini hanya urusan bisnis...
Tapi sentuhannya hangat dan...menggoda.
"Masih perawan?" dia tiba-tiba menatapku...
Emma Wells, seorang mahasiswi yang akan segera lulus. Dia disiksa dan dianiaya oleh ibu tirinya, Jane, dan saudara tirinya, Anna. Satu-satunya harapan dalam hidupnya adalah pacarnya yang seperti pangeran, Matthew David, yang berjanji akan membuatnya menjadi wanita paling bahagia di dunia.
Namun, dunianya hancur berantakan ketika ibu tirinya menerima $50000 sebagai hadiah pertunangan dari seorang pria tua dan setuju untuk menikahkannya. Lebih buruk lagi, dia menemukan pacarnya yang tercinta berselingkuh dengan teman sekamarnya, Vivian Stone.
Berjalan di jalan di bawah hujan deras, dia putus asa dan tanpa harapan...
Menggenggam erat tinjunya, dia memutuskan. Jika dia memang harus dijual, maka dia akan menjual dirinya sendiri.
Berlari ke jalan dan berhenti di depan mobil mewah, dia hanya bertanya-tanya berapa harga keperawanannya...
Update Harian
Malaikat Tawanan Mafia
☆☆☆
Ketika seorang penculik berbahaya mengincar seorang gadis muda dan dia tahu dia harus memilikinya, bahkan jika itu berarti mengambilnya dengan paksa.
Istri Kontrak CEO
Guru Pendidikan Seks Pribadiku
Keesokan harinya, Bu Romy, dengan sikap serius, mendekati Leonard dengan sebuah usulan yang tak terduga. "Leonard," ia memulai, "Saya akan mengajarkanmu tentang seni bercinta," sebuah pernyataan yang membuatnya sangat terkejut. Tutorial pribadi ini tiba-tiba terhenti ketika Scarlett, putri Bu Romy, menerobos masuk. Dengan tatapan penuh tekad, ia menyatakan, "Aku berencana untuk bergabung dan menjadi pengajar Leonard dalam urusan keintiman."
Anak Sambung? Sang Putri Palsu Kembali ke Pangkuan Konglomerat Triliunan
Pada kehidupan sebelumnya, Ayu Hartatiberjuang mati-matian untuk mempertahankan apa yang disebut 'ikatan keluarga'. Ia bersaing sengit dengan putri kandung yang bangkit kembali, berusaha mencengkeram segalanya justru berakhir dengan kehilangan segalanya, dan mati penuh dendam.
Setelah terlahir kembali, ia memutuskan untuk melepaskan.
Siapa peduli! Ia tidak akan melayani lagi!
Dengan gesit ia membereskan koper dan mengosongkan tempatnya, pergi mencari orang tua kandungnya.
Dengan persiapan hati untuk menerima takdirnya, tapi ternyata! Ini tidak seperti yang ia bayangkan!
Bukannya katanya keluarganya miskin melarat dan tak punya apa-apa?
Lalu, dinding bata emas yang berkilauan di sekeliling ini apa ini!?
Bukannya katanya ayahnya seorang penjudi yang menghabiskan semua harta keluarga dan lelaki tak berguna?
Pria yang memiliki setengah dari bisnis properti dengan beberapa blok jalan ini, benarkah itu dia?!
Bukannya katanya ibunya seorang perempuan pemarah dengan reputasi buruk di lingkungannya?
Seniman opera legendaris yang tiketnya sangat sulit didapat ini, benarkah itu dia?!
Bukannya katanya kakak laki-lakinya seorang lajang miskin yang mengayuh becak?
Bos tambang minyak yang kaya raya karena menggali sumur minyak ini, benarkah itu dia?!
Putri kandung yang telah dicari keluarga Hartati selama delapan belas tahun akhirnya kembali.
Titan bisnis, Jason Hartati, menyatakan: "Aku memang ditakdirkan memuja anak perempuan! Hatiku gelisah jika sehari saja tidak melihat putriku!"
Seniman legendaris, Shinta Widodo, berseru: "Kekasih hatiku! Buah jiwaku! Beli saja apa pun yang Ayu inginkan!"
Raja minyak, Keven Hartati, menggeram: "Adik perempuanku bukanlah sembarang orang yang bisa kalian incar! Siapapun yang berani menginginkan adikku, minggirlah!"












