Bab [1] Warisan
Suasana di dalam vila mewah keluarga Herman yang terletak di pinggiran kota terasa begitu meriah.
Patrick Herman, sebagai kepala keluarga Herman yang terpandang, baru saja menerima warisan dalam jumlah besar dari leluhurnya. Untuk merayakan kabar gembira ini, ia sengaja mengumpulkan seluruh anggota keluarga Herman.
Hari ini, vila itu begitu ramai hingga garasi pun tak sanggup menampung semua mobil yang datang.
Para anggota keluarga mengangkat gelas anggur mereka dengan senyum lebar di wajah, serempak berkata, "Selamat, Ayah Patrick."
Patrick membalas dengan senyum bahagia, suaranya terdengar lantang dan penuh semangat, "Terima kasih, anak-anakku. Dulu, leluhur kita menanggung penderitaan dan kerja keras yang tak terhingga hingga akhirnya bisa membangun keluarga ini sampai seperti sekarang. Melihat kalian semua sudah sukses dengan karier masing-masing, Ayah merasa sangat bangga. Belakangan ini Ayah memang menerima warisan dari leluhur kita, dan itu tentu saja hal yang menggembirakan. Tapi, Ayah sudah tua. Ayah rasa, harta ini tidak seharusnya menjadi milik Ayah seorang, tapi juga milik setiap anggota keluarga Herman yang hadir di sini. Karena itu, Ayah berencana untuk membagikannya secara adil kepada kalian semua."
Mendengar itu, wajah seluruh anggota keluarga Herman langsung berseri-seri penuh suka cita.
"Ya Tuhan! Apa ini benar? Ayah Herman, terima kasih atas kemurahan hatimu!"
Patrick tersenyum, lalu menatap para anggota keluarga yang lebih muda.
"Jackson," katanya, "Ayah tahu kamu suka selancar, jadi Ayah hadiahkan sebuah vila peristirahatan di tepi pantai, nilainya sekitar 200 juta dolar."
"Lucy, Ayah tahu kamu sangat tertarik dengan mobil sport, jadi Ayah sudah siapkan satu unit Ferrari model terbaru untukmu. Tapi ingat, hati-hati saat mengemudi, mobil itu kencang sekali."
"Emma, Ayah tahu kamu suka mengoleksi barang-barang mewah, jadi ini ada jam tangan Richard Mille untukmu, senilai 30 ribu dolar."
"Dan untukmu, Molly..."
Patrick menjelaskan rencananya kepada setiap anggota keluarga. Mereka semua tertawa bahagia dan kembali mengangkat gelas mereka.
Patrick pun tersenyum puas.
Saat itulah, Leon Corleone, yang sedari tadi hanya diam, akhirnya angkat bicara. "Pak Patrick," ujarnya, "Saya tahu saya tidak akan dapat bagian. Tapi, bolehkah Bapak membelikan saya sebuah mesin pemotong rumput? Supaya nanti pekerjaan saya merapikan halaman jadi lebih mudah."
Seketika, seluruh anggota keluarga Herman terperangah. Semua mata menatap Leon dengan tak percaya.
Apa Leon sudah mabuk?
Dia memang suami Katelin Herman, tapi di dalam keluarga besar ini, statusnya tak lebih dari orang pinggiran!
Di momen sepenting ini, apa dia punya hak untuk bicara?
Namanya saja bukan Herman, beraninya dia meminta hadiah mesin pemotong rumput dari Patrick. Benar-benar tidak tahu malu!
Empat tahun lalu, mendiang istri Patrick bertemu dengan Leon, orang asing entah dari mana, dan memaksa putrinya, Katelin, untuk menikah dengannya.
Saat itu, rekening bank Leon kosong melompong. Penampilannya kumal dan berantakan, tak ubahnya seperti gelandangan di pinggir jalan.
Namun, tepat di hari pernikahan Leon dan Katelin, istri Patrick tiba-tiba meninggal dunia karena serangan jantung. Alasan di balik keputusannya yang aneh itu pun menjadi misteri yang tak pernah terpecahkan.
Setelah menikah, seluruh keluarga Herman memandang rendah Leon. Dia dianggap sebagai pria tak berguna yang tidak bisa menghasilkan uang. Kerjanya setiap hari hanya menyapu, memasak, dan memotong rumput—lebih mirip seperti seorang ibu rumah tangga.
Sebenarnya, Leon terpaksa meminta mesin pemotong rumput itu.
Mesin yang lama sudah rusak, dan dia sendiri tidak punya uang. Sebagai seorang pria, dia tidak ingin semua kebutuhan dibebankan pada Katelin. Karena itulah, dia nekat bicara di saat seperti ini.
Melihat suasana pesta yang begitu hangat dan Patrick yang tampak sangat gembira, Leon berpikir permintaannya mungkin akan dikabulkan.
Namun, di luar dugaannya, raut wajah Patrick langsung berubah masam begitu Leon selesai bicara.
Patrick meletakkan gelasnya dengan kasar. "Leon, kamu sengaja datang untuk membuat onar, ya?" tanyanya dengan nada penuh penghinaan.
Katelin buru-buru mencoba menenangkan. "Ayah, tolong jangan marah. Leon hanya bercanda, jangan dianggap serius."
Setelah itu, ia hendak menarik Leon ke sudut ruangan.
Tetapi, Molly Herman, sepupu Katelin, menyela dengan sinis, "Katelin, kasihan sekali kamu. Suamimu ternyata pria tak berguna seperti ini! Dia sama sekali bukan bagian dari keluarga Herman, tapi berani-beraninya mengharapkan warisan. Apa dia tidak punya rasa malu?"
"Benar sekali! Orang ini tidak punya sopan santun. Hari ini bukan hanya ada keluarga Herman, tapi juga banyak tamu lain. Dia bicara seperti itu, benar-benar membuatku malu!" timpal Jackson Herman, cucu kesayangan Patrick, yang berdiri di sisi kanannya.
Jackson sejak kecil tidak pernah menyukai Katelin, jadi ucapannya sangat tajam dan tanpa ampun.
"Orang rendahan tidak beradab seperti dia seharusnya diusir dari keluarga Herman!"
"Betul, dia sudah mencoreng nama baik keluarga."
"Dia minta mesin pemotong rumput? Ya Tuhan, apa dia sedang mengejek kita?"
"Kemampuannya bahkan tidak lebih baik dari pembantu di vila ini!"
"Sebagai laki-laki, dia tidak punya harga diri sama sekali. Hidup menumpang pada istri, menjijikkan sekali."
"Keluar dari sini! Keluarga Herman tidak sudi menerima pecundang sepertimu!"
"..."
Mendengar rentetan hinaan dari anggota keluarga Herman, Leon hanya bisa menundukkan kepala tanpa membantah.
Empat tahun lalu, mendiang istri Patrick-lah yang memberinya sebuah keluarga, menyelamatkannya dari kehidupan jalanan dan membuatnya bisa bertahan hidup sampai sekarang.
Leon sangat berterima kasih untuk itu. Maka dari itu, meskipun terus-menerus dihina, dia tidak pernah sekalipun mengeluh.
Tiba-tiba, terdengar suara dari arah pintu utama.
"Pak Patrick, Presiden Direktur dari Corleone Investment Bank, Bapak Steve, telah tiba!"
Semua orang menoleh ke arah pintu. Seorang pria berpenampilan necis dan karismatik dalam balutan setelan jas mahal melangkah masuk.
Corleone Investment Bank adalah bank investasi sekaliber Goldman Sachs dan Morgan Stanley, sebuah nama besar di kancah internasional.
Steve, sebagai Presiden Direkturnya, tentu saja merupakan figur penting di kalangan atas.
Banyak orang yang ingin menjilat Steve tapi tak pernah mendapat kesempatan. Namun hari ini, ia justru datang sendiri ke vila keluarga Herman.
"Pak Patrick yang terhormat, maafkan saya datang tanpa diundang. Sebagai tanda permintaan maaf, saya sudah menyiapkan sebuah hadiah!" sapa Steve ramah sambil menyodorkan sebuah kotak kado yang terbungkus indah.
"Tidak, tidak, Tuan Steve yang terhormat. Kehadiran Anda di rumah saya adalah sebuah kehormatan bagi keluarga Herman," balas Patrick dengan nada paling antusias.
Ia menerima kotak itu dan membukanya. Di dalamnya, ternyata ada sebuah kartu bank!
"Pak Patrick, di dalam kartu ini ada dana sebesar 5 juta dolar. Ini adalah hadiah yang saya siapkan untuk Katelin. Sejak pertama kali melihatnya, saya sudah jatuh cinta padanya. Saya juga sudah mendengar bahwa pernikahannya tidak bahagia. Saya bukan tipe orang yang suka merusak rumah tangga orang lain, tapi jelas sekali pria itu tidak pantas menjadi suami Katelin."
"Asalkan Katelin bersedia menikah dengan saya, 5 juta dolar ini akan menjadi miliknya selamanya!"
Setelah Steve selesai bicara, seluruh anggota keluarga Herman kembali terkejut.
Tahu bahwa Leon adalah suami Katelin, tapi Steve berani mengatakan hal seperti itu di depan semua orang. Betapa rendahnya dia memandang Leon!
Tapi, Leon memang hanya seorang pecundang. Jadi, selain marah dalam hati, tidak ada yang bisa ia lakukan.
"Katelin, saya tahu ini mungkin terlalu mendadak bagimu, tapi saya benar-benar mencintaimu. Saya tidak tahan melihatmu hidup bersama pecundang seperti itu. Jadi, tolong pertimbangkan baik-baik," kata Steve sambil tersenyum menatap Katelin, lalu berbalik dan pergi.
Sejak masuk hingga keluar, Steve tidak mengucapkan sepatah kata pun pada Leon. Di matanya, Leon hanyalah pecundang dari kelas bawah yang tidak punya hak untuk berbicara dengannya.
Setelah Steve pergi, barulah orang-orang di vila mulai berbisik-bisik. Wajah mereka dipenuhi ekspresi kaget, iri, dan cemburu.
"Ya Tuhan, orang sekaliber Steve datang langsung untuk melamar Katelin? Aku tidak sedang berhalusinasi, kan?"
"Astaga, kenapa Katelin beruntung sekali? Kalau dia bisa menikah dengan Steve, aku tidak bisa membayangkan betapa mewahnya hidupnya nanti!"
"Kalau Katelin menikah dengan Steve, itu juga akan membawa keuntungan besar bagi keluarga Herman!"
Lucy Herman, sepupu Katelin yang lain, segera menghampiri Leon. "Leon," katanya, "Asal kamu mau menceraikan Katelin, aku akan belikan kamu mesin pemotong rumput yang paling bagus. Bagaimana?"
"Leon, aku juga bisa membelikanmu satu!"
"Aku juga, Leon. Kalau kamu masih punya harga diri, ceraikan saja Katelin. Biarkan dia mengejar kebahagiaannya sendiri!"
Patrick berpikir selama beberapa menit, lalu berkata, "Leon, asalkan kamu mau menceraikan Katelin, aku bersedia atas nama keluarga memberimu 2 juta dolar, ditambah sebuah rumah. Bagaimana?"
Leon mengangkat kepalanya, menatap Katelin yang berdiri di sampingnya, lalu berkata dengan sangat tegas, "Pak Patrick, saya tidak peduli dengan uang. Saya hanya ingin bersama Katelin. Jadi tolong, jangan katakan hal seperti itu lagi."
Patrick mengerutkan keningnya, lalu membentak marah, "Keluar! Keluar dari sini sekarang juga! Dasar benalu yang hanya bisa menumpang hidup pada istri, keluarga Herman tidak sudi menerimamu!"
Leon tertegun sejenak. Reaksi Patrick membuatnya sangat sakit hati. Namun, para penjaga keamanan sudah melangkah maju. Terpaksa, ia berbalik dan berjalan menuju pintu.
"Leon."
Katelin tampak ragu, tidak tahu apakah harus ikut pergi atau tidak.
"Katelin, kalau kamu berani melangkah keluar juga, mulai hari ini kamu bukan lagi anggota keluarga Herman!"
Melihat keraguan di wajah Katelin, Patrick berkata dengan nada sedingin es.
Langkah Katelin terhenti. Ia tidak menyangka ayahnya akan mengucapkan kata-kata yang begitu dingin dan kejam.
Leon berkata, "Katelin, aku bisa menjaga diriku sendiri. Kamu tetaplah di sini."
Setelah itu, ia pun pergi.
Jackson bersiul mengejek, "Oh, Leon sayang. Apa kamu lupa? Ini kan daerah pinggiran kota, tidak ada bus. Kamu mau pulang naik apa? Perlu aku beri kamu tip 5 dolar? Cukup untuk ongkos taksi."
Sambil berkata begitu, Jackson mengeluarkan segenggam koin dan melemparkannya ke arah Leon.
Seluruh anggota keluarga Herman tertawa terbahak-bahak.
Leon tidak mengatakan apa-apa, terus berjalan keluar.
Tepat pada saat itu, ponselnya bergetar, menerima sebuah pesan singkat.
Ia meraih ponselnya dan melihat pesan itu datang dari nomor yang sangat ia benci.
"Leon, kami sedang dalam kesulitan. Keluarga Corleone membutuhkanmu."
"Pesan dari keluarga Corleone," gumam Leon sambil mengerutkan kening membaca isi pesan itu.
Keluarga Corleone adalah keluarga paling berpengaruh di pulau ini, dan Leon adalah salah satu anggotanya.
Empat tahun lalu, ia dijebak oleh beberapa anggota keluarga Corleone. Mereka menuduhnya menggelapkan dana keluarga, mencabut haknya sebagai pewaris, dan mengusirnya dari keluarga.
Bahkan kedua orang tua Leon juga diusir ke luar negeri, diasingkan ke sebuah benua yang dipenuhi hutan belantara dan binatang buas.
Saat meninggalkan keluarga Corleone, Leon tidak punya uang sepeser pun dan sialnya, ia jatuh sakit parah.
Untungnya, saat menggelandang di jalanan, ia bertemu dengan nenek Katelin, Harris Herman, orang yang paling ia hormati.
Harris membawa Leon ke keluarga Herman dan menjodohkannya dengan Katelin. Berkat itulah, Leon bisa bertahan hidup sampai sekarang.
Untuk itu, Leon selalu menyimpan rasa terima kasih yang mendalam.
Namun, sudah empat tahun berlalu sejak pernikahan mereka, Leon tidak pernah tidur sekamar dengan Katelin. Mereka hanyalah suami-istri di atas kertas.
Selama empat tahun ini, Leon selalu tidur di lantai ruang tamu atau di gudang.
Tapi, Leon sebenarnya sudah terbiasa dengan kehidupan seperti itu.
Yang membuatnya menderita adalah, meskipun Katelin bersikap sangat dingin padanya, ia sadar bahwa dirinya telah jatuh cinta pada wanita itu.
Saat Leon sedang bernostalgia, sebuah pesan lagi masuk.
"Leon yang terhormat, mohon segera balas. Empat tahun lalu Anda membeli sebuah sumur minyak di Timur Tengah. Sumur itu kini telah berhasil menemukan minyak dan perusahaannya sudah melantai di bursa! Akibat konflik Rusia-Ukraina, harga energi internasional terus meroket, dan nilai sumur minyak itu kini telah mencapai 10 miliar dolar! Keluarga Corleone sedang di ambang kebangkrutan karena investasi yang gagal. Keluarga membutuhkan bantuan Anda, jika tidak, keluarga Corleone akan musnah."
Leon sangat terkejut. Empat tahun lalu, ia memang menggunakan lebih dari 100 juta dolar untuk membeli sebuah sumur minyak. Itulah yang menjadi alasan keluarga Corleone menuduhnya menggelapkan dana keluarga.
Tapi sekarang, sumur minyak itu benar-benar ditemukan dan nilainya meroket ratusan kali lipat?
Leon segera mengeluarkan sebuah kartu bank berwarna abu-abu dari dompetnya. Ini adalah kartu bank khusus. Pemilik kartu jenis ini akan mendapatkan pelayanan paling istimewa selama 24 jam, di mana pun di belahan bumi ini.
Ia langsung menghubungi layanan pelanggan bank penerbit kartu tersebut. Suara yang sangat merdu terdengar dari seberang telepon.
"Bapak Corleone yang terhormat, ada yang bisa saya bantu?"
"Saya ingin tahu saldo di kartu saya," kata Leon.
"Mohon ditunggu sebentar."
Dua menit kemudian, petugas itu kembali menjawab, "Bapak Corleone, dana di rekening Anda terlalu besar dan Anda telah diklasifikasikan sebagai nasabah tingkat tertinggi di bank kami. Saya tidak memiliki wewenang untuk memeriksanya. Jika Anda ingin tahu, saya perlu mengajukan permohonan ke departemen yang lebih tinggi. Mohon ditunggu, saya akan menghubungi Anda kembali."
"Baik," Leon menutup telepon, merasa sangat terkejut sekaligus gembira.
Karena jumlah aset di kartunya terlalu besar, petugas layanan pelanggan tidak bisa langsung menjawab dan bahkan mengklasifikasikannya sebagai nasabah tingkat tertinggi. Ini membuat Leon sangat senang.
Ini hanyalah investasi iseng yang ia lakukan empat tahun lalu, tapi sekarang memberinya kekayaan yang tak terhingga. Bahkan saking besarnya, sampai-sampai petugas bank pun tidak bisa langsung memeriksanya.
Leon merasa luar biasa takjub.
Ia berjalan kaki pulang ke rumah. Karena berjalan kaki, perjalanannya memakan waktu cukup lama.
Setibanya di rumah, ia melihat Katelin sudah lebih dulu sampai. Tentu saja, Katelin pulang mengendarai mobil, jauh lebih cepat darinya.
Selain Katelin, ada dua tamu di rumah, yaitu Matilda Cole dan Kaden Allen.
Pria dan wanita itu adalah sahabat terbaik Katelin.
Ketiganya melihat Leon masuk dari pintu, namun mereka menganggapnya seolah tak terlihat, sama sekali tidak menyapanya.
Matilda berkata dengan ekspresi serius, "Katelin, kamu jangan sungkan. Aku dengar belakangan ini perusahaanmu sedang kesulitan, benar?"
Katelin ragu sejenok, lalu mengangguk. "Iya, arus kas perusahaan sedang macet. Aku butuh setidaknya 8 juta dolar agar perusahaan bisa berjalan normal lagi. Aku harus segera mendapatkan uang itu, kalau tidak..."
Matilda mengerutkan kening. "8 juta dolar? Ya Tuhan, itu bukan jumlah yang kecil. Kamu mau cari uang sebanyak itu dari mana?"
Di sebelahnya, Kaden yang berpenampilan sangat modis mengangguk, setuju dengan pendapat Matilda.
Katelin merasa pusing. Melihat Leon hanya berdiri diam di sudut ruangan, ia berkata dengan nada dingin, "Leon, kenapa kamu masih berdiri di situ? Tidak lihat toilet kotor? Cepat sana bersihkan!"
Leon dengan patuh berjalan menuju kamar mandi. Tepat saat itu, ponselnya berdering. Panggilan itu dari petugas bank yang tadi.
"Bapak Corleone yang terhormat, setelah saya periksa, seluruh aset Anda ditempatkan di rekening offshore. Oleh karena itu, pihak bank menyarankan agar Anda menyempatkan diri untuk datang langsung ke bank. Saat Anda siap berangkat, Anda bisa memberitahu kami terlebih dahulu, dan kami akan mengirimkan mobil khusus untuk menjemput Anda. Apakah bisa?"
Leon mengangguk. "Oh, jadi uangku ada di rekening offshore. Boleh, nanti kalau ada waktu saya akan ke bank."
Setelah menutup telepon, Kaden yang mendengar ucapan Leon tersenyum sinis.
"Katelin, suamimu itu lucu sekali. Dia bilang punya dana di rekening offshore? Memangnya dia punya barang seperti itu?"
Katelin ikut tertawa. "Mungkin dia dengar istilah itu dari berita di TV. Membuka rekening offshore itu ada syarat minimal dananya. Leon setiap hari hanya dapat uang jajan 50 dolar dariku, mana mungkin dia punya uang untuk itu? Apa jangan-jangan uang jajannya dia tabung semua?"
"Hahaha, kalau begitu suamimu itu benar-benar pintar mengatur hidup, ya," canda Matilda. Ketiganya kembali tertawa.
Leon mendengar ejekan mereka, tapi tidak marah. Sebaliknya, ia berkata kepada Katelin, "Sayang, kalau perusahaanmu butuh dana, aku bisa bantu. Aku bisa berikan 8 juta dolar."
Begitu Leon mengucapkan kalimat itu, Matilda langsung tertawa terbahak-bahak sambil memegangi perutnya.
Pakaiannya yang sudah seksi dari sananya, kini membuatnya terlihat semakin menggoda saat tertawa seperti itu.
Matilda mengejek, "Leon, kamu sedang melawak, ya? Kamu punya 8 juta dolar? Hahaha, kamu punya delapan ratus dolar saja sudah hebat."
Leon berkata, "Matilda, apa kamu seyakin itu aku tidak punya? Bagaimana kalau aku benar-benar punya 8 juta dolar?"
"Hahaha, kalau kamu benar-benar punya 8 juta dolar? Aku bersedia menuruti semua perintahmu."
Leon berkata dengan tenang, "Aku pegang ucapanmu, Matilda. Ini kamu sendiri yang bilang, loh. Jangan sampai kamu menyesal."
