
Kisah Pewaris Konglomerat
Rina Wati · Sedang Diperbarui · 156.0k Kata
Pendahuluan
Mertua perempuannya bersimpuh memohon, "Kumohon, jangan tinggalkan putriku."
Istrinya pun berkata dengan penuh penyesalan, "Sayang, aku salah..."
Bab 1
Suasana di dalam vila mewah Keluarga Herman yang terletak di pinggiran kota terasa begitu meriah.
Patrick Herman, sebagai kepala Keluarga Herman yang terpandang, baru saja menerima warisan dalam jumlah besar dari leluhurnya. Untuk merayakan kabar gembira ini, dia sengaja mengumpulkan seluruh anggota Keluarga Herman.
Hari ini, vila itu begitu ramai hingga garasi pun tak sanggup menampung semua mobil yang datang.
Para anggota keluarga mengangkat gelas anggur mereka dengan senyum lebar di wajah, serempak berkata, "Selamat, Ayah."
Patrick membalas dengan senyum bahagia, suaranya terdengar lantang dan penuh semangat, "Terima kasih, anak-anakku. Dulu, leluhur kita menanggung penderitaan dan kerja keras yang tak terhingga hingga akhirnya bisa membangun keluarga ini sampai seperti sekarang. Melihat kalian semua sudah sukses dengan karier masing-masing, Ayah merasa sangat bangga. Belakangan ini Ayah memang menerima warisan dari leluhur kita, dan itu tentu saja hal yang menggembirakan. Tapi, Ayah sudah tua. Ayah rasa, harta ini tidak seharusnya menjadi milik Ayah seorang, tapi juga milik setiap anggota Keluarga Herman yang hadir di sini. Karena itu, Ayah berencana untuk membagikannya secara adil kepada kalian semua."
Mendengar itu, wajah seluruh anggota Keluarga Herman langsung berseri-seri penuh suka cita.
"Ya Tuhan! Apa ini benar? Ayah, terima kasih atas kemurahan hatimu!"
Patrick tersenyum, lalu menatap para anggota keluarga yang lebih muda.
"Jackson," katanya, "Ayah tahu kamu suka selancar, jadi Ayah hadiahkan sebuah vila peristirahatan di tepi pantai, nilainya sekitar 200 juta dolar."
"Lucy, Ayah tahu kamu sangat tertarik dengan mobil sport, jadi Ayah sudah siapkan satu unit Ferrari model terbaru untukmu. Tapi ingat, hati-hati saat mengemudi, mobil itu kencang sekali."
"Emma, Ayah tahu kamu suka mengoleksi barang-barang mewah, jadi ini ada jam tangan Richard Mille untukmu, senilai 30 ribu dolar."
"Dan untukmu, Molly ...."
Patrick menjelaskan rencananya kepada setiap anggota keluarga. Mereka semua tertawa bahagia dan kembali mengangkat gelas mereka.
Patrick pun tersenyum puas.
Saat itulah, Leon Corleone, yang sedari tadi hanya diam, akhirnya angkat bicara. "Pak Patrick," ujarnya. "Saya tahu saya tidak akan dapat bagian. Tapi, bolehkah Bapak membelikan saya sebuah mesin pemotong rumput? Supaya nanti pekerjaan saya merapikan halaman jadi lebih mudah."
Seketika, seluruh anggota Keluarga Herman terperangah. Semua mata menatap Leon dengan tak percaya.
Apa Leon sudah mabuk?
Dia memang suami Catherine Herman, tetapi di dalam keluarga besar ini, statusnya tak lebih dari orang pinggiran!
Di momen sepenting ini, apa dia punya hak untuk bicara?
Nama belakangnya saja bukan Herman, beraninya dia meminta hadiah mesin pemotong rumput dari Patrick. Benar-benar tidak tahu malu!
Empat tahun lalu, mendiang istri Patrick bertemu dengan Leon, orang asing entah dari mana, dan memaksa putrinya, Catherine, untuk menikah dengannya.
Saat itu, rekening bank Leon kosong melompong. Penampilannya kumal dan berantakan, tak ubahnya seperti gelandangan di pinggir jalan.
Namun, tepat di hari pernikahan Leon dan Catherine, istri Patrick tiba-tiba meninggal dunia karena serangan jantung. Alasan di balik keputusannya yang aneh itu pun menjadi misteri yang tak pernah terpecahkan.
Setelah menikah, seluruh Keluarga Herman memandang rendah Leon. Dia dianggap sebagai pria tak berguna yang tidak bisa menghasilkan uang. Kerjanya setiap hari hanya menyapu, memasak, dan memotong rumput—lebih mirip seperti seorang ibu rumah tangga.
Sebenarnya, Leon terpaksa meminta mesin pemotong rumput itu.
Mesin yang lama sudah rusak, dan dia sendiri tidak punya uang. Sebagai seorang pria, dia tidak ingin semua kebutuhan dibebankan pada Catherine. Karena itulah, dia nekat bicara di saat seperti ini.
Melihat suasana pesta yang begitu hangat dan Patrick yang tampak sangat gembira, Leon berpikir permintaannya mungkin akan dikabulkan.
Namun, di luar dugaannya, raut wajah Patrick langsung berubah masam begitu Leon selesai bicara.
Patrick meletakkan gelasnya dengan kasar. "Leon, kamu sengaja datang untuk membuat onar, ya?" tanyanya dengan nada penuh penghinaan.
Catherine buru-buru mencoba menenangkan. "Ayah, tolong jangan marah. Leon hanya bercanda, jangan dianggap serius."
Setelah itu, dia hendak menarik Leon ke sudut ruangan.
Namun, Molly Herman, sepupu Catherine, menyela dengan sinis, "Catherine, kasihan sekali kamu. Suamimu ternyata pria tak berguna seperti ini! Dia sama sekali bukan bagian dari Keluarga Herman, tapi berani-beraninya mengharapkan warisan. Apa dia tidak punya rasa malu?"
"Benar sekali! Orang ini tidak punya sopan santun. Hari ini bukan hanya ada Keluarga Herman, tapi juga banyak tamu lain. Dia bicara seperti itu, benar-benar membuatku malu!" timpal Jackson Herman, cucu kesayangan Patrick, yang berdiri di sisi kanannya.
Jackson sejak kecil tidak pernah menyukai Catherine, jadi ucapannya sangat tajam dan tanpa ampun.
"Orang rendahan tidak beradab seperti dia seharusnya diusir dari Keluarga Herman!"
"Betul, dia sudah mencoreng nama baik keluarga."
"Dia minta mesin pemotong rumput? Ya Tuhan, apa dia sedang mengejek kita?"
"Kemampuannya bahkan tidak lebih baik dari pembantu di vila ini!"
"Sebagai laki-laki, dia tidak punya harga diri sama sekali. Hidup menumpang pada istri, menjijikkan sekali."
"Keluar dari sini! Keluarga Herman tidak sudi menerima pecundang sepertimu!"
Leon terdiam.
Mendengar rentetan hinaan dari anggota Keluarga Herman, Leon hanya bisa menundukkan kepala tanpa membantah.
Empat tahun lalu, mendiang istri Patrick-lah yang memberinya sebuah keluarga, menyelamatkannya dari kehidupan jalanan dan membuatnya bisa bertahan hidup sampai sekarang.
Leon sangat berterima kasih untuk itu. Maka dari itu, meskipun terus-menerus dihina, dia tidak pernah sekali pun mengeluh.
Tiba-tiba, terdengar suara dari arah pintu utama.
"Pak Patrick, Presiden Direktur dari Corleone Investment Bank, Bapak Steve, telah tiba!"
Semua orang menoleh ke arah pintu. Seorang pria berpenampilan necis dan karismatik dalam balutan setelan jas mahal melangkah masuk.
Corleone Investment Bank adalah bank investasi sekaliber Goldman Sachs dan Morgan Stanley, sebuah nama besar di kancah internasional.
Steve, sebagai presiden direkturnya, tentu saja merupakan figur penting di kalangan atas.
Banyak orang yang ingin menjilat Steve tetapi tak pernah mendapat kesempatan. Namun hari ini, dia justru datang sendiri ke vila Keluarga Herman.
"Pak Patrick yang terhormat, maafkan saya datang tanpa diundang. Sebagai tanda permintaan maaf, saya sudah menyiapkan sebuah hadiah!" sapa Steve ramah sambil menyodorkan sebuah kotak kado yang terbungkus indah.
"Tidak, tidak, Tuan Steve Yang Terhormat. Kehadiran Anda di rumah saya adalah sebuah kehormatan bagi Keluarga Herman," balas Patrick dengan nada paling antusias.
Dia menerima kotak itu dan membukanya. Di dalamnya, ternyata ada sebuah kartu bank!
"Pak Patrick, di dalam kartu ini ada dana sebesar 5 juta dolar. Ini adalah hadiah yang saya siapkan untuk Catherine. Sejak pertama kali melihatnya, saya sudah jatuh cinta padanya. Saya juga sudah mendengar bahwa pernikahannya tidak bahagia. Saya bukan tipe orang yang suka merusak rumah tangga orang lain, tapi jelas sekali pria itu tidak pantas menjadi suami Catherine."
"Asalkan Catherine bersedia menikah dengan saya, 5 juta dolar ini akan menjadi miliknya selamanya!"
Setelah Steve selesai bicara, seluruh anggota Keluarga Herman kembali terkejut.
Sudah tahu bahwa Leon adalah suami Catherine, tetapi Steve berani mengatakan hal seperti itu di depan semua orang. Betapa rendahnya dia memandang Leon!
Namun, Leon memang hanya seorang pecundang. Jadi, selain marah dalam hati, tidak ada yang bisa dia lakukan.
"Catherine, saya tahu ini mungkin terlalu mendadak bagimu, tapi saya benar-benar mencintaimu. Saya tidak tahan melihatmu hidup bersama pecundang seperti itu. Jadi, tolong pertimbangkan baik-baik," kata Steve sambil tersenyum menatap Catherine, lalu berbalik dan pergi.
Sejak masuk hingga keluar, Steve tidak mengucapkan sepatah kata pun pada Leon. Di matanya, Leon hanyalah pecundang dari kelas bawah yang tidak punya hak untuk berbicara dengannya.
Setelah Steve pergi, barulah orang-orang di vila mulai berbisik-bisik. Wajah mereka dipenuhi ekspresi kaget, iri, dan cemburu.
"Ya Tuhan, orang sekaliber Steve datang langsung untuk melamar Catherine? Aku tidak sedang berhalusinasi, kan?"
"Astaga, kenapa Catherine beruntung sekali? Kalau dia bisa menikah dengan Steve, aku tidak bisa membayangkan betapa mewahnya hidupnya nanti!"
"Kalau Catherine menikah dengan Steve, itu juga akan membawa keuntungan besar bagi Keluarga Herman!"
Lucy Herman, sepupu Catherine yang lain, segera menghampiri Leon. "Leon," katanya, "asal kamu mau menceraikan Catherine, aku akan belikan kamu mesin pemotong rumput yang paling bagus. Bagaimana?"
"Leon, aku juga bisa membelikanmu satu!"
"Aku juga, Leon. Kalau kamu masih punya harga diri, ceraikan saja Catherine. Biarkan dia mengejar kebahagiaannya sendiri!"
Patrick berpikir selama beberapa menit, lalu berkata, "Leon, asalkan kamu mau menceraikan Catherine, aku bersedia atas nama keluarga memberimu 2 juta dolar, ditambah sebuah rumah. Bagaimana?"
Leon mengangkat kepalanya, menatap Catherine yang berdiri di sampingnya, lalu berkata dengan sangat tegas, "Pak Patrick, saya tidak peduli dengan uang. Saya hanya ingin bersama Catherine. Jadi tolong, jangan katakan hal seperti itu lagi."
Patrick mengerutkan keningnya, lalu membentak marah, "Keluar! Keluar dari sini sekarang juga! Dasar benalu yang hanya bisa menumpang hidup pada istri, Keluarga Herman tidak sudi menerimamu!"
Leon tertegun sejenak. Reaksi Patrick membuatnya sangat sakit hati. Namun, para penjaga keamanan sudah melangkah maju. Terpaksa, dia berbalik dan berjalan menuju pintu.
"Leon."
Catherine tampak ragu, tidak tahu apakah harus ikut pergi atau tidak.
"Catherine, kalau kamu berani melangkah keluar juga, mulai hari ini kamu bukan lagi anggota Keluarga Herman!"
Melihat keraguan di wajah Catherine, Patrick berkata dengan nada sedingin es.
Langkah Catherine terhenti. Dia tidak menyangka ayahnya akan mengucapkan kata-kata yang begitu dingin dan kejam.
Leon berkata, "Catherine, aku bisa menjaga diriku sendiri. Kamu tetaplah di sini."
Setelah itu, dia pun pergi.
Jackson bersiul mengejek, "Oh, Leon Sayang. Apa kamu lupa? Ini kan daerah pinggiran kota, tidak ada bus. Kamu mau pulang naik apa? Perlu aku beri kamu tip 5 dolar? Cukup untuk ongkos taksi."
Sambil berkata begitu, Jackson mengeluarkan segenggam koin dan melemparkannya ke arah Leon.
Seluruh anggota Keluarga Herman tertawa terbahak-bahak.
Leon tidak mengatakan apa-apa, terus berjalan keluar.
Tepat pada saat itu, ponselnya bergetar, menerima sebuah pesan singkat.
Dia meraih ponselnya dan melihat pesan itu datang dari nomor yang sangat dia benci.
"Leon, kami sedang dalam kesulitan. Keluarga Corleone membutuhkanmu."
"Pesan dari Keluarga Corleone," gumam Leon sambil mengerutkan kening membaca isi pesan itu.
Keluarga Corleone adalah keluarga paling berpengaruh di pulau ini, dan Leon adalah salah satu anggotanya.
Empat tahun lalu, dia dijebak oleh beberapa anggota Keluarga Corleone. Mereka menuduhnya menggelapkan dana keluarga, mencabut haknya sebagai pewaris, dan mengusirnya dari keluarga.
Bahkan kedua orang tua Leon juga diusir ke luar negeri, diasingkan ke sebuah benua yang dipenuhi hutan belantara dan binatang buas.
Saat meninggalkan Keluarga Corleone, Leon tidak punya uang sepeser pun dan sialnya dia jatuh sakit parah.
Untungnya, saat menggelandang di jalanan, dia bertemu dengan nenek Catherine, Harris Herman, orang yang paling dia hormati.
Harris membawa Leon ke Keluarga Herman dan menjodohkannya dengan Catherine. Berkat itulah, Leon bisa bertahan hidup sampai sekarang.
Untuk itu, Leon selalu menyimpan rasa terima kasih yang mendalam.
Namun, sudah empat tahun berlalu sejak pernikahan mereka, Leon tidak pernah tidur sekamar dengan Catherine. Mereka hanyalah suami-istri di atas kertas.
Selama empat tahun ini, Leon selalu tidur di lantai ruang tamu atau di gudang.
Namun, Leon sebenarnya sudah terbiasa dengan kehidupan seperti itu.
Yang membuatnya menderita adalah, meskipun Catherine bersikap sangat dingin padanya, dia sadar bahwa dirinya telah jatuh cinta pada wanita itu.
Saat Leon sedang bernostalgia, sebuah pesan masuk lagi.
"Leon yang terhormat, mohon segera balas. Empat tahun lalu Anda membeli sebuah sumur minyak di Timur Tengah. Sumur itu kini telah berhasil menemukan minyak dan perusahaannya sudah melantai di bursa! Akibat konflik Rusia-Ukraina, harga energi internasional terus meroket, dan nilai sumur minyak itu kini telah mencapai 10 miliar dolar! Keluarga Corleone sedang di ambang kebangkrutan karena investasi yang gagal. Keluarga membutuhkan bantuan Anda, jika tidak, Keluarga Corleone akan musnah."
Leon sangat terkejut. Empat tahun lalu, dia memang menggunakan lebih dari 100 juta dolar untuk membeli sebuah sumur minyak. Itulah yang menjadi alasan Keluarga Corleone menuduhnya menggelapkan dana keluarga.
Namun sekarang, sumur minyak itu benar-benar ditemukan dan nilainya meroket ratusan kali lipat?
Leon segera mengeluarkan sebuah kartu bank berwarna abu-abu dari dompetnya. Ini adalah kartu bank khusus. Pemilik kartu jenis ini akan mendapatkan pelayanan paling istimewa selama 24 jam, di mana pun di belahan bumi ini.
Dia langsung menghubungi layanan pelanggan bank penerbit kartu tersebut. Suara yang sangat merdu terdengar dari seberang telepon.
"Bapak Corleone yang terhormat, ada yang bisa saya bantu?"
"Saya ingin tahu saldo di kartu saya," kata Leon.
"Mohon tunggu sebentar."
Dua menit kemudian, petugas itu kembali menjawab, "Bapak Corleone, dana di rekening Anda terlalu besar dan Anda telah diklasifikasikan sebagai nasabah tingkat tertinggi di bank kami. Saya tidak memiliki wewenang untuk memeriksanya. Jika Anda ingin tahu, saya perlu mengajukan permohonan ke departemen yang lebih tinggi. Mohon ditunggu, saya akan menghubungi Anda kembali."
"Baik." Leon menutup telepon, merasa sangat terkejut sekaligus gembira.
Karena jumlah aset di kartunya terlalu besar, petugas layanan pelanggan tidak bisa langsung menjawab dan bahkan mengklasifikasikannya sebagai nasabah tingkat tertinggi. Ini membuat Leon sangat senang.
Ini hanyalah investasi iseng yang dia lakukan empat tahun lalu, tetapi sekarang memberinya kekayaan yang tak terhingga. Bahkan saking besarnya, sampai-sampai petugas bank pun tidak bisa langsung memeriksanya.
Leon merasa luar biasa takjub.
Dia berjalan kaki pulang ke rumah. Karena berjalan kaki, perjalanannya memakan waktu cukup lama.
Setibanya di rumah, dia melihat Catherine sudah lebih dulu sampai. Tentu saja, Catherine pulang mengendarai mobil, jauh lebih cepat darinya.
Selain Catherine, ada dua tamu di rumah, yaitu Matilda Cole dan Kaden Allen.
Pria dan wanita itu adalah sahabat terbaik Catherine.
Ketiganya melihat Leon masuk melewati pintu, tetapi mereka menganggapnya seolah tak terlihat, sama sekali tidak menyapanya.
Matilda berkata dengan ekspresi serius, "Catherine, kamu jangan sungkan. Aku dengar belakangan ini perusahaanmu sedang kesulitan, benar?"
Catherine ragu sejenak, lalu mengangguk. "Iya, arus kas perusahaan sedang macet. Aku butuh setidaknya 8 juta dolar agar perusahaan bisa berjalan normal lagi. Aku harus segera mendapatkan uang itu, kalau tidak ...."
Matilda mengerutkan kening. "8 juta dolar? Ya Tuhan, itu bukan jumlah yang kecil. Kamu mau cari uang sebanyak itu dari mana?"
Di sebelahnya, Kaden yang berpenampilan sangat modis mengangguk, setuju dengan pendapat Matilda.
Catherine merasa pusing. Melihat Leon hanya berdiri diam di sudut ruangan, dia berkata dengan nada dingin, "Leon, kenapa kamu masih berdiri di situ? Tidak lihat toilet kotor? Cepat sana bersihkan!"
Leon dengan patuh berjalan menuju kamar mandi. Tepat saat itu, ponselnya berdering. Panggilan itu dari petugas bank yang tadi.
"Bapak Corleone yang terhormat, setelah saya periksa, seluruh aset Anda ditempatkan di rekening offshore. Oleh karena itu, pihak bank menyarankan agar Anda menyempatkan diri untuk datang langsung ke bank. Saat Anda siap berangkat, Anda bisa memberi tahu kami terlebih dahulu, dan kami akan mengirimkan mobil khusus untuk menjemput Anda. Apakah bisa?"
Leon mengangguk. "Oh, jadi uangku ada di rekening offshore. Boleh, nanti kalau ada waktu aku akan ke bank."
Setelah menutup telepon, Kaden yang mendengar ucapan Leon tersenyum sinis.
"Catherine, suamimu itu lucu sekali. Dia bilang punya dana di rekening offshore? Memangnya dia punya barang seperti itu?"
Catherine ikut tertawa. "Mungkin dia dengar istilah itu dari berita di TV. Membuka rekening offshore itu ada syarat minimal dananya. Leon setiap hari hanya dapat uang jajan 50 dolar dariku, mana mungkin dia punya uang untuk itu? Apa jangan-jangan uang jajannya dia tabung semua?"
"Hahaha, kalau begitu suamimu itu benar-benar pintar mengatur hidup, ya," canda Matilda. Ketiganya kembali tertawa.
Leon mendengar ejekan mereka, tetapi tidak marah. Sebaliknya, dia berkata kepada Catherine, "Sayang, kalau perusahaanmu butuh dana, aku bisa bantu. Aku bisa berikan 8 juta dolar."
Begitu Leon mengucapkan kalimat itu, Matilda langsung tertawa terbahak-bahak sambil memegangi perutnya.
Pakaiannya yang sudah seksi dari sananya, kini membuatnya terlihat semakin menggoda saat tertawa seperti itu.
Matilda mengejek, "Leon, kamu sedang melawak, ya? Kamu punya 8 juta dolar? Hahaha, kamu punya delapan ratus dolar saja sudah hebat."
Leon berkata, "Matilda, apa kamu seyakin itu aku tidak punya? Bagaimana kalau aku benar-benar punya 8 juta dolar?"
"Hahaha, kalau kamu benar-benar punya 8 juta dolar? Aku bersedia menuruti semua perintahmu."
Leon berkata dengan tenang, "Aku pegang ucapanmu, Matilda. Ini kamu sendiri yang bilang, loh. Jangan sampai kamu menyesal."
Bab Terakhir
#80 Bab [80]
Terakhir Diperbarui: 4/30/2026#79 Bab [79]
Terakhir Diperbarui: 4/30/2026#78 Bab [78]
Terakhir Diperbarui: 4/30/2026#77 Bab [77]
Terakhir Diperbarui: 4/30/2026#76 Bab [76]
Terakhir Diperbarui: 4/30/2026#75 Bab [75]
Terakhir Diperbarui: 4/29/2026#74 Bab [74]
Terakhir Diperbarui: 4/30/2026#73 Bab [73]
Terakhir Diperbarui: 4/30/2026#72 Bab [72]
Terakhir Diperbarui: 4/30/2026#71 Bab [71]
Terakhir Diperbarui: 4/29/2026
Anda Mungkin Suka 😍
Bapak Forbes
Ya ampun! Kata-katanya membuatku terangsang sekaligus kesal. Dia masih sama seperti dulu, brengsek yang arogan dan bossy, selalu ingin segalanya sesuai keinginannya.
"Kenapa aku harus melakukan itu?" tanyaku, merasakan kakiku mulai lemas.
"Maaf kalau aku membuatmu berpikir kamu punya pilihan," katanya sebelum menarik rambutku dan mendorong tubuhku, memaksaku menunduk dan meletakkan tanganku di atas meja kerjanya.
Astaga. Itu membuatku tersenyum, dan membuatku semakin basah. Bryce Forbes jauh lebih kasar daripada yang kubayangkan.
Anneliese Starling bisa menggunakan setiap sinonim untuk kata kekejaman dalam kamus untuk menggambarkan bos brengseknya, dan itu masih belum cukup. Bryce Forbes adalah lambang kekejaman, tapi sayangnya juga lambang hasrat yang tak tertahankan.
Sementara ketegangan antara Anne dan Bryce mencapai tingkat yang tak terkendali, Anneliese harus berjuang untuk menahan godaan dan harus membuat pilihan sulit, antara mengikuti ambisi profesionalnya atau menyerah pada hasrat terdalamnya, karena batas antara kantor dan kamar hampir sepenuhnya hilang.
Bryce tidak tahu lagi apa yang harus dilakukan untuk mengeluarkannya dari pikirannya. Untuk waktu yang lama, Anneliese Starling hanyalah gadis yang bekerja dengan ayahnya, dan kesayangan keluarganya. Tapi sayangnya bagi Bryce, dia telah menjadi wanita yang tak tergantikan dan provokatif yang bisa membuatnya gila. Bryce tidak tahu berapa lama lagi dia bisa menahan diri untuk tidak menyentuhnya.
Terlibat dalam permainan berbahaya, di mana bisnis dan kenikmatan terlarang saling terkait, Anne dan Bryce menghadapi garis tipis antara profesional dan pribadi, di mana setiap tatapan yang dipertukarkan, setiap provokasi, adalah undangan untuk menjelajahi wilayah berbahaya dan tak dikenal.
Kesayangan CEO
Dia adalah kaisar gelap yang ditakuti semua orang, dikabarkan kejam dan kejam, dan tegas, tetapi dia hanya memanjakannya tanpa hukum.
Suatu hari, reporter bertanya: "Nyonya Lu, apakah Anda memiliki sesuatu yang perlu ditakuti?"
Gu Mengmeng tidak meneteskan air mata di wajahnya.
Dia hanya takut pada dua hal sekarang.
Pertama, cium suamimu!
Kedua, suami tercinta setelah mematikan lampu!
Kecintaan Satu Malam
Dia berkata: "Kasar, tidak profesional, melempar wanita. Tidak heran seorang pria seperti Anda akan merampok seorang wanita. "
Dia mencentang bibirnya: mata tersapu di atas tubuhnya, samar-samar: "kekanak-kanakan, bandara, masalah cinta, bahkan wanita tidak bisa dipanggil, saya enggan menerima Anda." "
Dia mencibir: Tidak, aku akan menemukan seorang pria yang bersedia menerimaku.
Dia menggendongnya: Saya tidak pergi ke neraka, yang pergi ke neraka
Setelah menikah.
"Apa tiga disiplin ilmu dan delapan catatan?" Seorang kolonel menatap wanita yang telah kembali terlambat dan menatap wajah merahnya karena minum.
"Eh- "Wanita minum di kepala, orang tua tidak tahu, tetapi juga kembali tiga disiplin ilmu delapan perhatian?"
"Sepertinya pendidikan kemarin tidak cukup mendalam. Hari ini kita harus melanjutkan pendidikan kita. "Seorang kolonel akan mabuk bahu wanita, dengan kekuatan fisik untuk memberitahunya, apa yang disebut tiga disiplin ilmu, delapan perhatian.
Segera setelah di kamar datang tangisan seorang wanita: "Brengsek, aku ingin bercerai." "
Suara seorang kolonel sangat tenang: "Maaf, tentara tidak bisa bercerai." "
"Aku akan protes, uh- "
Brengsek, selalu menggunakan trik ini, dia tidak bosan ah?
Pak Limbong, Nyonya telah meninggal. Kami turut berdukacita.
Dia pernah menjadi istrinya selama tiga tahun, namun takkan pernah bisa menyaingi cintanya selama sepuluh tahun terhadap wanita lain.
Bermain Dengan Api
“Kita akan ngobrol sebentar lagi, oke?” Aku tidak bisa bicara, hanya bisa menatapnya dengan mata terbelalak sementara jantungku berdegup kencang. Aku hanya bisa berharap bukan aku yang dia incar.
Althaia bertemu dengan bos mafia berbahaya, Damiano, yang tertarik pada mata hijaunya yang besar dan polos, dan tidak bisa mengeluarkannya dari pikirannya. Althaia telah disembunyikan dari iblis berbahaya itu. Namun takdir membawanya kembali padanya. Kali ini, dia tidak akan pernah membiarkannya pergi lagi.
Putri Sang Kesatria
Saat ia berusaha mempertahankan hubungan mereka, pria itu membalasnya dengan tuduhan pedas — menyebutnya sebagai pencari untung yang tak peduli pada tanggung jawab dan kehormatan yang lebih besar.
Kini, tekadnya bulat. Dengan pedang terhunus dan hati yang teguh, ia menaiki kudanya dan pergi meninggalkan segalanya.
Sebagai putri seorang legenda, ia akan membuktikan pada dunia: seorang perempuan pun mampu memikul tanggung jawab keluarganya, dan menjadi seorang kesatria sejati — sekaligus pemimpin yang tangguh.
PUTRI SANG KESATRIA
Istri Misterius
Setelah mereka bercerai, Evelyn muncul di hadapan Dermot sebagai Dr. Kyte.
Dermot sangat mengagumi Dr. Kyte dan jatuh cinta padanya. Dermot bahkan mulai mengejar Dr. Kyte dengan penuh semangat!
Evelyn bertanya kepada Dermot, "Kamu tahu siapa aku?"
Dengan percaya diri, Dermot menjawab, "Tentu saja. Kamu adalah Dr. Kyte, seorang dokter yang sangat terampil. Selain itu, kamu juga seorang hacker kelas atas dan pendiri merek fashion mewah!"
Evelyn mendekatkan diri ke telinga Dermot dan berbisik lembut, "Sebenarnya, aku juga mantan istrimu!"
(Saya sangat merekomendasikan sebuah buku yang sangat menarik hingga saya tidak bisa berhenti membacanya selama tiga hari tiga malam. Buku ini sangat mengasyikkan dan wajib dibaca. Judul bukunya adalah "Cerai Mudah, Rujuk Sulit". Kamu bisa menemukannya dengan mencarinya di kolom pencarian.)
Setelah Bercinta di Mobil dengan CEO
Rayuan untuk Kakak Tiriku si Mafia
Ketika aku kembali ke Bali dan melanjutkan karierku sebagai dokter, aku dipaksa untuk menghadiri pernikahan ibu angkatku — dan di sanalah dia berada. Kakak tiriku ternyata adalah partner satu malamku!
Jantungku hampir berhenti berdetak.
Keluarga ayah tiriku adalah dinasti yang sangat kaya dan berkuasa di Bali, terlibat dalam jaringan bisnis yang kompleks dan diselubungi misteri, termasuk nuansa gelap serta kekerasan.
Aku ingin menjauh dari siapa pun dari keluarga mafia tradisional Indonesia ini.
Tapi kakak tiriku tidak mau melepaskanku!
Dan sekarang, dia kembali ke Bali, mengelola bisnis keluarganya dengan efisiensi yang kejam. Dia adalah perpaduan berbahaya dari kalkulasi dingin dan daya tarik yang tak terbantahkan, menarikku ke dalam jalinan takdir yang tidak bisa kuhindari.
Secara naluri aku ingin menjauhi bahaya, menjauh darinya, tetapi takdir terus mendorongku kepadanya lagi dan lagi, dan aku kecanduan padanya di luar kendaliku. Seperti apa masa depan kami?
Bacalah bukunya.
Pengantin Pengganti
Arga, laki-laki baik yang seharusnya adalah Kakak ipar kepada Mentari, tetapi justru menjadi suami. Seketika menjelma sebagai sosok dingin tak tersentuh. Dia tidak pernah ikhlas dengan kenyataan bahwa Samantha hilang dan digantikan oleh Mentari. Tak sehari pun waktu berlalu tanpa bayang mantan calon istrinya, tidak sekalipun memandang Mentari seperti sosok seharusnya. Tidak pernah ada cinta.
KEHAMILAN MANTAN ISTRI MILYARDER
Beberapa bulan kemudian Miselia mendapati dirinya hamil. Tiba-tiba Evan kembali datang dan mendeklarasikan jika Miselia adalah miliknya. Tetapi, Miselia yang kini menjadi ahli waris menolak kedatangan Evan, sang mantan suami.
Akankah CEO yang penuh teka-teki itu memenangkan cintanya kembali atau kebencian akan menang pada akhirnya?
Anak Sambung? Sang Putri Palsu Kembali ke Pangkuan Konglomerat Triliunan
Pada kehidupan sebelumnya, Ayu Hartatiberjuang mati-matian untuk mempertahankan apa yang disebut 'ikatan keluarga'. Ia bersaing sengit dengan putri kandung yang bangkit kembali, berusaha mencengkeram segalanya justru berakhir dengan kehilangan segalanya, dan mati penuh dendam.
Setelah terlahir kembali, ia memutuskan untuk melepaskan.
Siapa peduli! Ia tidak akan melayani lagi!
Dengan gesit ia membereskan koper dan mengosongkan tempatnya, pergi mencari orang tua kandungnya.
Dengan persiapan hati untuk menerima takdirnya, tapi ternyata! Ini tidak seperti yang ia bayangkan!
Bukannya katanya keluarganya miskin melarat dan tak punya apa-apa?
Lalu, dinding bata emas yang berkilauan di sekeliling ini apa ini!?
Bukannya katanya ayahnya seorang penjudi yang menghabiskan semua harta keluarga dan lelaki tak berguna?
Pria yang memiliki setengah dari bisnis properti dengan beberapa blok jalan ini, benarkah itu dia?!
Bukannya katanya ibunya seorang perempuan pemarah dengan reputasi buruk di lingkungannya?
Seniman opera legendaris yang tiketnya sangat sulit didapat ini, benarkah itu dia?!
Bukannya katanya kakak laki-lakinya seorang lajang miskin yang mengayuh becak?
Bos tambang minyak yang kaya raya karena menggali sumur minyak ini, benarkah itu dia?!
Putri kandung yang telah dicari keluarga Hartati selama delapan belas tahun akhirnya kembali.
Titan bisnis, Jason Hartati, menyatakan: "Aku memang ditakdirkan memuja anak perempuan! Hatiku gelisah jika sehari saja tidak melihat putriku!"
Seniman legendaris, Shinta Widodo, berseru: "Kekasih hatiku! Buah jiwaku! Beli saja apa pun yang Ayu inginkan!"
Raja minyak, Keven Hartati, menggeram: "Adik perempuanku bukanlah sembarang orang yang bisa kalian incar! Siapapun yang berani menginginkan adikku, minggirlah!"












