
CEO yang Membuatku Ketagihan
Eko Prasetyo · Sedang Diperbarui · 113.4k Kata
Pendahuluan
Bertahun-tahun kemudian, takdir mempertemukan mereka kembali.
“Hey, Pak Ganteng!”
“Hmph, kamu... kali ini kau tak akan bisa kabur lagi!”
Bab 1
Pukul satu dini hari, di Presidential Suite Hotel Mahkota.
Pakaian berserakan tidak beraturan di seluruh penjuru suite. Gaun sang wanita robek di sana-sini, teronggok tidak berdaya seperti kain perca.
Anisa Ananda tersadar karena guncangan.
Tubuhnya terasa seperti perahu kecil tanpa sauh di tengah lautan bergelora, terombang-ambing di atas tubuh seorang pria.
'Apa yang terjadi?'
'Bukankah aku sudah berhasil kabur?'
Saat menyadari dirinya telah dibius, dengan sisa-sisa kesadaran terakhirnya, dia menabrak pria hidung belang itu dan lari keluar dari ruangan.
Jangan-jangan dia tertangkap lagi?!
“Masih sempat melamun?”
Suara berat dan serak seorang pria berbisik di telinganya.
Bersamaan dengan itu, kedua tangan pria itu mencengkeram pinggang rampingnya, lalu dengan kekuatan otot pahanya, dia menghantam ke atas dengan keras.
“Nghh….”
Anisa Ananda menggigit bibirnya, menahan desahan yang nyaris lolos. Namun, seluruh tubuhnya bergetar hebat. Secara refleks, kedua kakinya merapat dan tangannya melingkar erat di leher pria itu, bersandar tanpa daya.
Cengkeraman Anisa membuat Ahmad Kusuma mengerang tertahan. Dengan satu gerakan cepat, tangan kanannya mendarat di bokong sintal Anisasehingga menimbulkan suara nyaring. Dia meremasnya sejenak, lalu berbisik dengan suara parau, “Desahkan namaku.”
Anisa hanya menggeleng. Air mata mulai menggenang di pelupuknya karena kenikmatan yang meluap-luap, membuat sudut matanya memerah.
Pemandangan itu justru semakin memancing gairah Ahmad Kusuma.
Dia lalu mengubah posisi, menindih Anisa di bawahnya. Satu tangannya terulur untuk mengangkat dagu Anisa, matanya seolah menyala-nyala. “Berani-beraninya kamu membiusku. Kamu harus siap menanggung akibatnya.”
Pikiran Anisa masih berkabut. Dia hanya bisa samar-samar mengenali bahwa pria di hadapannya bukanlah bos hidung belang tadi.
Pria ini memiliki tatapan mata yang dalam, rahang yang tegas, dan bahu lebar yang menutupi seluruh pandangannya. Tepat di bawah tulang selangkanya, sebuah tahi lalat hitam terlihat begitu seksi. Dada dan perutnya yang bidang, basah oleh campuran cairan yang tidak dia kenali.
Yang paling menakutkan adalah sorot matanya, seolah ingin memerasnya hingga tetes terakhir.
Perlahan, Anisa mencoba mundur.
Detik berikutnya, Ahmad Kusuma menarik pergelangan kakinya, menyeretnya kembali ke posisi semula. Dengan sekali hentak, kejantanannya yang besar dan berurat menghunjam masuk hingga ke pangkal.
Seketika tubuh Anisa melengkung ke belakang, jari-jari kakinya menegang, dan tangannya mencengkeram erat sprei yang sudah basah kuyup. Dia terengah-engah, memohon dengan suara serak bercampur isak tangis. “Kumohon… lepaskan aku….”
Semakin dia menangis, semakin bersemangat pula Ahmad Kusuma. Tanpa belas kasihan sedikit pun, pria itu membuka kedua pahanya lebar-lebar, memaksanya untuk menampung seluruh miliknya.
Lubang kenikmatannya bergetar hebat seiring dengan gerakan pria itu yang liar. Setiap kali kejantanannya ditarik keluar, dinding kewanitaannya akan menjepit erat seolah tidak rela melepaskannya.
“Bibirmu bilang tidak, tapi bagian bawahmu tidak mau melepaskanku. Lihat, nikmat sekali, kan?”
Cengkeraman itu membuat mata Ahmad memerah karena nafsu. Dia menghentakkan pinggulnya dengan kasar, menghantam hingga ke titik terdalam.
Anisa tidak lagi bisa menahan diri. “Pelan-pelan… sakit…,” desahnya.
Meski berkata begitu, bagian bawahnya justru menjepit kejantanan Ahmad semakin erat.
Ahmad tertawa serak. “Sakit? Yakin bukan nikmat?”
Diamenunduk, memeluk Anisa erat-erat. Pinggulnya bergerak dengan kecepatan kilat, menciptakan suara yang nyaring dari pertemuan kulit mereka yang terdengar begitu sensual dan memabukkan.
“Tunggu ... terlalu dalam ....”
Tiba-tiba Anisa meronta. Sensasi aneh yang belum pernah dia rasakan menjalari seluruh tubuhnya, membuatnya nyaris gila.
Jepitan Anisa membuat kening Ahmad berkeringat. Dia justru semakin mempercepat gerakannya, terus menghunjam ke dalam tubuh Anisa seolah ingin memasukkan seluruh dirinya.
“Tunggu ... sungguh, tunggu sebentar, rasanya aneh sekali ....”
“Tidak ada kata tunggu.”
Ahmad menolak permohonannya tanpa ampun. Pinggulnya bergerak begitu cepat hingga menciptakan bayangan.
Puncak kenikmatan yang dahsyat menghantam otaknya. Anisa menjerit panjang, kedua kakinya melingkar erat di pinggang kokoh Ahmad. Tubuhnya gemetar hebat selama beberapa saat.
Ahmad mengerang dalam, menekan miliknya dalam-dalam di liang Anisa saat dia melepaskan pelepasannya.
Setelah mencapai puncak, Anisa terkulai lemas, matanya kehilangan fokus.
Ahmad melepaskan pengaman yang dia pakai. Kejantanannya masih berdiri tegak, tetapi kotak pengaman di nakas sudah kosong.
Sejenak dia ragu.
Wanita di bawahnya terengah-engah, kedua kakinya masih terbuka lebar. Lubang kenikmatannya membuka dan menutup seiring napasnya, mengeluarkan cairan putih.
Meskipun tahu itu hanya pelumas, kejantanan Ahmad berdenyut nyeri.
Anisa tidak menyadari apa-apa. Sisa-sisa kenikmatan masih berkejaran di dalam tubuhnya, membuatnya merasa sedikit enggan jika semua ini berakhir.
Detik berikutnya, sebuah tekanan terasa di lubang kewanitaannya. Kepala kejantanan pria itu yang membengkak memaksa masuk dengan arogan.
Dia menatap ngeri, meronta dengan sekuat tenaga. “Jangan lagi, aku bisa mati….”
Tangan kiri Ahmad meraih kedua tangan Anisa, menggenggamnya erat di atas kepala wanita itu. Tangan kanannya membelai bibir Anisa, mengecupnya lembut. “Tidak akan,” bisiknya dengan nada yang tumben sekali terdengar lembut. “Lihat, bukankah ini pas sekali?”
Dia mendorong masuk dengan paksa, gerakannya sama sekali tidak selembut suaranya.
Rasa sakit itu perlahan berubah menjadi kenikmatan yang aneh. Secara psikologis Anisa menolak, tetapi tubuhnya secara naluriah mulai menggoyangkan pinggul, mengikuti ritme gerakan Ahmad.
Malam yang panjang baru saja dimulai.
Keesokan harinya, saat fajar baru menyingsing, Anisa terbangun karena haus.
Dia bangkit untuk minum air. Begitu kakinya menapak di lantai, dia nyaris tersungkur.
Seluruh tubuhnya terasa seperti baru saja dilindas truk berkali-kali.
Dia memungut salah satu pakaiannya yang tergeletak di lantai yang ternyata robek.
Dia lantas memungut yang lain, robek juga.
Anisa marah bukan main. Dia kembali ke tempat tidur dan tangannya mendarat di tubuh Ahmad, memukulnya dengan keras.
Namun, karena tenaganya belum pulih, pukulan itu lebih terasa seperti sebuah usapan.
Dia melirik jam. Waktu yang dia punya hanya tersisa satu jam dari jadwalnya.
Tanpa pikir panjang, dia membersihkan diri seadanya, lalu mengenakan jas milik Ahmad yang kebesaran. Dia melepas ikat pinggang pria itu dan menggunakannya untuk mengencangkan jas di pinggangnya. Untungnya, pakaian dalamnya masih bisa dipakai, jadi dia tidak perlu benar-benar telanjang di balik jas itu.
Saat sudah di dalam taksi, tangannya meraba saku jas dan menemukan sebuah kartu nama. Di bawah temaram lampu jalan, dia membacanya. [Direktur Utama Grup Sukses Makmur, Ahmad Kusuma.]
Benda ini hanya akan membawa bencana jika dia simpan. Tanpa ragu, dia melemparkannya ke luar jendela, membiarkannya lenyap ditelan sisa kegelapan fajar.
Pagi harinya, matahari sudah bersinar terang.
Ahmad menatap ruangan yang kosong dan berantakan dengan wajah muram.
'Setelah membiusku, dia kabur begitu saja?'
Dia memeriksa sekeliling dan menyadari hanya jasnya yang berisi kartu nama yang hilang.
'Apa dia mencuri kartu nama itu untuk mengancamku?'
Dia meraih ponselnya dan menelepon seseorang. “Bawakan satu setel pakaian kemari,” perintahnya dengan nada dingin.
Sepuluh menit kemudian, asistennya, Maulana Liem, tiba sambil menenteng sebuah tas belanja dari butik mewah. Wajahnya tampak cemas. “Maaf, Pak. Saya khawatir Bapak menunggu terlalu lama, jadi saya hanya sempat memesan dari butik Armani terdekat. Mohon dimaklumi untuk sementara.”
Pakaian Ahmad biasanya dibuat khusus oleh penjahit keluarga dengan bahan terbaik. Dia belum tentu nyaman memakai pakaian dari luar.
Maulana pernah punya pengalaman buruk. Gara-gara membawakan setelan darurat dari butik mewah untuk rapat penting, Ahmad memasang wajah masam seharian.
Namun, kali ini Ahmad sama sekali tidak peduli. Masih mengenakan jubah mandi yang terbuka, jari telunjuknya mengetuk-ngetuk sandaran sofa. “Cari seseorang.”
Maulana melirik sekilas kekacauan di lantai dan langsung paham apa yang terjadi. “Baik, Pak,” jawabnya.
Saat Ahmad selesai berganti pakaian, Maulana kembali dengan sebuah map berisi data. Ruangan suite itu pun sudah kembali rapi seperti semula.
Ahmad menatap foto KTP di dalam map itu. Wajah dingin di foto itu tiba-tiba membawanya kembali pada gambaran wanita itu saat mencapai puncak kenikmatan dengan mata yang kehilangan fokus. Jakunnya naik-turun dan tanpa sadar dia menyilangkan kakinya.
Setelah selesai membaca seluruh data, dia mengetuk-ngetuk sampul map itu dengan jarinya, menatap Maulana tajam. “Jadi maksudmu, dia lenyap begitu saja?”
Punggung Maulana basah oleh keringat dingin. “Saya akan kerahkan orang untuk mencarinya lagi, Pak,” jawabnya terbata-bata.
Ahmad mengibaskan tangannya. “Tidak perlu,” perintahnya dengan tenang. “Kantor pusat Grup Sukses Makmur tidak perlu pindah lokasi. Kita akan menetap di sini.”
Maulana terkejut. “Tapi, Pak, jaringan bisnis dan ekonomi di Bandung tidak sekuat di Jakarta. Tuan Besar juga berharap Bapak tetap berada di dekat beliau.”
Ahmad mengangkat kelopak matanya, tatapannya dingin menusuk. “Kamu bekerja untuk siapa?”
Bab Terakhir
#100 Bab [100] Akan Kehabisan
Terakhir Diperbarui: 4/22/2026#99 Bab [99] Apakah Kamu Sakit?
Terakhir Diperbarui: 4/22/2026#98 Bab [98] Sungguh Maaf
Terakhir Diperbarui: 4/24/2026#97 Bab [97] Kartu Hitam Milik Siapa
Terakhir Diperbarui: 4/23/2026#96 Bab [96] Apakah Tidak Melihat Harganya
Terakhir Diperbarui: 4/22/2026#95 Bab [95] Tidak Bisa Tinggal Lagi
Terakhir Diperbarui: 4/22/2026#94 Bab [94] Belum Diusir Keluar
Terakhir Diperbarui: 4/22/2026#93 Bab [93] Intuisi Wanita
Terakhir Diperbarui: 4/23/2026#92 Bab [92] Tidak Tahu Bagaimana Membalas
Terakhir Diperbarui: 4/22/2026#91 Bab [91] Seperti Angin Kencang dan Hujan Deras
Terakhir Diperbarui: 4/22/2026
Anda Mungkin Suka 😍
Putri Raja Judi: Kebangkitan Sang Putri
Sang Profesor
Suaranya penuh dengan beban dan urgensi
dan aku segera menurut sebelum dia mengarahkan pinggulku.
Tubuh kami bertemu dengan irama yang keras dan marah.
Aku semakin basah dan panas saat mendengarkan suara kami bercinta.
"Sial, vaginamu gila."
Setelah satu malam panas dengan seorang pria asing yang dia temui di klub, Dalia Campbell tidak mengira akan bertemu Noah Anderson lagi. Kemudian Senin pagi tiba, dan orang yang masuk ke ruang kuliah sebagai dosen adalah pria asing dari klub itu. Ketegangan meningkat dan Dalia berusaha sekuat tenaga untuk menjauhinya karena dia tidak ingin terganggu oleh siapa pun atau apa pun - ada juga fakta bahwa dia benar-benar terlarang - tetapi ketika dia menjadi asisten dosennya, batasan hubungan dosen/mahasiswa mereka menjadi kabur.
Cinta Terburu-buru Sang CEO
Bermain Dengan Api
“Kita akan ngobrol sebentar lagi, oke?” Aku tidak bisa bicara, hanya bisa menatapnya dengan mata terbelalak sementara jantungku berdegup kencang. Aku hanya bisa berharap bukan aku yang dia incar.
Althaia bertemu dengan bos mafia berbahaya, Damiano, yang tertarik pada mata hijaunya yang besar dan polos, dan tidak bisa mengeluarkannya dari pikirannya. Althaia telah disembunyikan dari iblis berbahaya itu. Namun takdir membawanya kembali padanya. Kali ini, dia tidak akan pernah membiarkannya pergi lagi.
Ayo! Mas Leng!
Dia berkata: "Garis hidup Anda begitu lama, itu berarti bahwa sumpah Anda dapat dilakukan untuk waktu yang lama, wanita yang Anda cintai akan sangat bahagia dan bahagia ..."
"Apakah Anda ingin menjadi wanita bahagia itu?" tanyanya. "
Dia pikir dia mencintainya, tapi itu masih konspirasi.
Pada hari pernikahan, cinta lama datang dan pergi, dan melihat dinginnya pria itu sendiri dalam sekejap, dan dia tahu bahwa cinta itu berakhir lagi.
Untuk melupakan rasa sakit, lupakan dia, dia mengeluarkan jam saku menghipnotis dirinya sendiri, menghapus semua kenangan tentang dia,
Tapi pria itu tidak membiarkannya pergi, "Wanita! Tidak peduli berapa kali kau melupakanku! Aku akan memanggil kembali cintamu untukku!
Pengantin Palsu: Pembantu Manis Menjadi Nyonya Howard
Pembaca yang terhormat, karena beberapa masalah kesehatan, saya perlu memperlambat jadwal pembaruan untuk cerita kesayangan kita untuk sementara waktu. Terima kasih atas pengertian dan dukungan Anda yang terus berlanjut!
Pelacur Kakakku
"Tolong, Jake. Sekarang. Buat aku klimaks." Aku memohon.
Payton selalu menjadi gadis baik sepanjang hidupnya. Dia hanya ingin keluar dari rumah ibu dan ayah tirinya dan menjalani hidupnya sendiri. Yang tidak dia duga adalah saudara tiri yang sudah lama hilang tiba-tiba muncul dalam hidup mereka dan menjadi teman sekamarnya. Memang benar dia adalah mantan Marinir dengan perut berotot, tapi dia juga seorang mekanik motor yang suka bicara kotor padanya. Kata-katanya membuat Payton bergetar dalam antisipasi, dan tangannya membuat tubuhnya berkedut dan kejang.
Anak Sambung? Sang Putri Palsu Kembali ke Pangkuan Konglomerat Triliunan
Pada kehidupan sebelumnya, Ayu Hartatiberjuang mati-matian untuk mempertahankan apa yang disebut 'ikatan keluarga'. Ia bersaing sengit dengan putri kandung yang bangkit kembali, berusaha mencengkeram segalanya justru berakhir dengan kehilangan segalanya, dan mati penuh dendam.
Setelah terlahir kembali, ia memutuskan untuk melepaskan.
Siapa peduli! Ia tidak akan melayani lagi!
Dengan gesit ia membereskan koper dan mengosongkan tempatnya, pergi mencari orang tua kandungnya.
Dengan persiapan hati untuk menerima takdirnya, tapi ternyata! Ini tidak seperti yang ia bayangkan!
Bukannya katanya keluarganya miskin melarat dan tak punya apa-apa?
Lalu, dinding bata emas yang berkilauan di sekeliling ini apa ini!?
Bukannya katanya ayahnya seorang penjudi yang menghabiskan semua harta keluarga dan lelaki tak berguna?
Pria yang memiliki setengah dari bisnis properti dengan beberapa blok jalan ini, benarkah itu dia?!
Bukannya katanya ibunya seorang perempuan pemarah dengan reputasi buruk di lingkungannya?
Seniman opera legendaris yang tiketnya sangat sulit didapat ini, benarkah itu dia?!
Bukannya katanya kakak laki-lakinya seorang lajang miskin yang mengayuh becak?
Bos tambang minyak yang kaya raya karena menggali sumur minyak ini, benarkah itu dia?!
Putri kandung yang telah dicari keluarga Hartati selama delapan belas tahun akhirnya kembali.
Titan bisnis, Jason Hartati, menyatakan: "Aku memang ditakdirkan memuja anak perempuan! Hatiku gelisah jika sehari saja tidak melihat putriku!"
Seniman legendaris, Shinta Widodo, berseru: "Kekasih hatiku! Buah jiwaku! Beli saja apa pun yang Ayu inginkan!"
Raja minyak, Keven Hartati, menggeram: "Adik perempuanku bukanlah sembarang orang yang bisa kalian incar! Siapapun yang berani menginginkan adikku, minggirlah!"
Mami, Papi Memintamu Kembali
Enam tahun kemudian, Binar kembali ke tanah air dengan dua anak kembar yang cerdas dan menggemaskan, sekarang dia telah menjadi dokter yang berbakat dan terkenal dan banyak pria hebat yang jatuh cinta padanya!
Mantan suaminya, Barra, sekarang menyesal dan ingin kembali pada pelukannya. Akankah Binar memaafkan sang mantan?
“Mami, Papi memintamu kembali? Apakah Mami masih mencintainya?”
Setelah Bercinta di Mobil dengan CEO
Rayuan untuk Kakak Tiriku si Mafia
Ketika aku kembali ke Bali dan melanjutkan karierku sebagai dokter, aku dipaksa untuk menghadiri pernikahan ibu angkatku — dan di sanalah dia berada. Kakak tiriku ternyata adalah partner satu malamku!
Jantungku hampir berhenti berdetak.
Keluarga ayah tiriku adalah dinasti yang sangat kaya dan berkuasa di Bali, terlibat dalam jaringan bisnis yang kompleks dan diselubungi misteri, termasuk nuansa gelap serta kekerasan.
Aku ingin menjauh dari siapa pun dari keluarga mafia tradisional Indonesia ini.
Tapi kakak tiriku tidak mau melepaskanku!
Dan sekarang, dia kembali ke Bali, mengelola bisnis keluarganya dengan efisiensi yang kejam. Dia adalah perpaduan berbahaya dari kalkulasi dingin dan daya tarik yang tak terbantahkan, menarikku ke dalam jalinan takdir yang tidak bisa kuhindari.
Secara naluri aku ingin menjauhi bahaya, menjauh darinya, tetapi takdir terus mendorongku kepadanya lagi dan lagi, dan aku kecanduan padanya di luar kendaliku. Seperti apa masa depan kami?
Bacalah bukunya.
Pak Limbong, Nyonya telah meninggal. Kami turut berdukacita.
Dia pernah menjadi istrinya selama tiga tahun, namun takkan pernah bisa menyaingi cintanya selama sepuluh tahun terhadap wanita lain.












