
Dokter Forensik Mawar
Wanda Tantomo · Sedang Diperbarui · 123.0k Kata
Pendahuluan
Tapi gadis bernama Nara itu balas menyerang: "Kalau aku tidak cocok jadi dokter forensik, kamu juga tidak pantas jadi polisi!"
Nara, dengan kata-katanya yang tajam, sering membuat Ferdi terdiam. Ferdi pikir, satu-satunya yang kuat dari gadis ini cuma mulutnya. Tim ini pasti bakal bubar!
Namun, Nara membuktikan dirinya dengan membawa jantung korban yang berdarah: "Siap rekam, Ferdi!" Ferdi menahan mual sambil memberi isyarat.
Yang membuatnya semakin terpukul: Nara yang terlihat lemah ternyata bertarung lebih garang darinya, sampai-sampai Ferdi sendiri hampir mundur. Dikira hanya kutu buku yang bisa membedah mayat, ternyata dia ahli menyusun strategi dan berbohong dengan meyakinkan!
Ketika atasan menawarkan untuk memindahkan Nara, Ferdi justru menghalangi: "Kalau perlu yang pergi, aku saja. Dia harus tetap di sini!"
Bab 1
Lapas Lima Semarang. Suara bariton Setyo Wibowo yang berat memecah keheningan di ruang interogasi yang pengap.
"Aku mabuk berat waktu itu. Di lantai bawah, aku melihat seorang gadis sedang menari di dekat jendela. Dia cantik sekali. Jantungku berdesir hebat. Didorong pengaruh alkohol, aku mendobrak masuk ke rumahnya ...."
"Mereka melarangku menyentuh gadis itu, jadi aku bunuh mereka semua. Saat gadis itu menangis di bawahku, aku merasakan kenikmatan yang belum pernah kurasakan sebelumnya."
Setyo Wibowo terkekeh pelan, tawa yang terdengar kosong. Jika diperhatikan saksama, tatapannya hampa, seolah jiwanya sedang tidak berada di sana, seperti orang yang terhipnotis.
Sebuah suara bening dan tenang menuntunnya menelusuri lorong ingatan.
"Kamu membunuh gadis itu juga, lalu meninggalkan rumahnya. Setelah itu?"
Setyo Wibowo memiringkan kepalanya, menyeringai lebar. "Aku melewati toko bunga, membeli seikat mawar, lalu pergi ke Gang Cikapundung, ke kediaman Keluarga Ramadhan."
"Terdengar suara piano dari dalam rumah itu. Aku masuk, mendorong pintu, dan aku melihat ... aku melihat ...." Suaranya tiba-tiba melemah. Keningnya berkerut dalam, seolah menahan sakit.
Nara Wijaya bertanya dengan nada lembut, "Apa yang kamu lihat? Jangan terburu-buru, ingat pelan-pelan."
Adegan malam itu berputar cepat di kepala Setyo Wibowo. Keraguan melintas di matanya, hingga sebuah ingatan yang teramat amis dan berdarah menyentaknya kembali pada kenyataan.
Sadar akan apa yang baru saja dia ucapkan, Setyo Wibowo menatap Nara Wijaya dengan tatapan horor. "Siapa kamu sebenarnya! Kenapa ingatanku bisa kau kendalikan!"
Nara Wijaya mengepalkan tangannya di bawah meja. Dia tidak menjawab. Dalam hati dia mengeluh, waktu hipnotisnya terlalu singkat. Selalu terputus di momen krusial.
Nara Wijaya menarik napas panjang, lalu bertanya lagi, "Setelah itu, apa yang terjadi pada Keluarga Ramadhan?"
Setyo Wibowo menendang meja dengan keras hingga bergetar. "Mana kutahu! Itu sudah lima tahun lalu, siapa peduli? Memangnya kau ingat apa yang kau lakukan lima tahun lalu?"
Tatapan Nara Wijaya datar, tanpa emosi sedikit pun. Tenang, seolah sedang menatap mayat. Seperti genangan air yang mematikan.
Setyo Wibowo, seorang terpidana mati yang sadis, entah mengapa merasa ciut nyalinya melihat ekspresi wanita itu.
Seorang sipir penjara berkata dengan ragu, "Ibu Wijaya, waktunya habis. Dia harus kembali ke sel."
Nara Wijaya bangkit berdiri, matanya tak lepas dari Setyo. "Kalau kau ingat sesuatu, sampaikan lewat sipir."
Setyo Wibowo meludah. "Tidak akan pernah."
"Tidak, kau pasti akan mengingatnya," ucap Nara Wijaya singkat.
Keluar dari gerbang Lapas Lima, sinar matahari Semarang yang terik jatuh menimpa tubuh Nara Wijaya, terasa berat. Dia mengembuskan napas kasar, membuang beban di dada. Ada kenangan yang memang terpahat begitu dalam, tak mungkin hilang.
Ponsel di saku blazernya terus bergetar. Nara melirik layar. Panggilan dari Pak Gunawan.
Dia mengangkatnya. "Halo, Pak Gunawan. Baik, saya mengerti. Saya akan segera melapor ke lokasi."
Sepuluh menit sebelumnya.
Ferdi Ramadhan keluar rumah hanya mengenakan pakaian tidur yang kusut. Rambutnya berantakan seperti sarang burung, dan dagunya dipenuhi sisa-sisa janggut yang belum dicukur berhari-hari akibat penyelidikan maraton.
Dia baru saja sampai di rumah dan tidur kurang dari satu jam.
Hujan deras mengguyur semalam. Takut merusak TKP, Ferdi membungkus sepatunya dengan plastik pelindung sebelum melangkah masuk ke area yang dibatasi garis polisi. Nada bicaranya sedingin es, "Korban kali ini kehilangan bagian tubuh apa?"
Ini sudah kasus pembunuhan keempat bulan ini. Modusnya mirip, tetapi tanpa titik temu yang jelas.
Tanggal tiga Oktober, laporan dari sebuah galeri seni. Korban ditemukan tewas tergantung di langit-langit dengan kedua telinga yang diiris hingga putus.
Lalu tanggal sepuluh, korban ditemukan di kawasan vila elit. Wajahnya dikuliti hidup-hidup hingga menyisakan daging merah, tergantung di pintu gerbang.
Tanggal tujuh belas, korban ditemukan tergantung dengan hidung yang dipotong.
Hari ini, tanggal dua puluh empat. Tepat satu minggu jaraknya. Kesamaan kasus ini hanya satu, korbannya perempuan, dimutilasi bagian wajahnya, lalu digantung.
Pelakunya sangat keji. Dokter forensik mengatakan bahwa semua korban dimutilasi dalam keadaan sadar sebelum akhirnya tewas.
Yang paling membuat Ferdi Ramadhan murka adalah kemampuan anti-investigasi si pembunuh yang sangat tinggi. Mereka sudah menyelidik begitu lama, tetapi bayangan pelaku pun tak terlihat, sementara korban terus bertambah.
Arif Hidayat, asistennya, berwajah pucat saat menjawab, "Kedua matanya, Pak. Mayatnya tergantung di pohon."
Ferdi Ramadhan mengernyit, berjalan perlahan mendekat. Rongga mata korban tampak kosong melompong, darah merah segar masih menetes satu demi satu ke tanah yang becek. Namun, dia tidak melihat ada tim medis di sana.
Bangun tidur dengan paksa, hasil nihil, ditambah tekanan dari atasan membuat sumbu emosinya memendek. "Mana dokter forensiknya? Kenapa jam segini belum sampai!"
Arif Hidayat menggeleng, sama bingungnya.
Tepat saat itu, ponsel Ferdi berdering. Pak Gunawan. Ini atasan langsungnya, mau tak mau dia harus menelan amarahnya. "Siap, Pak Gunawan. Ada perintah?"
Ferdi mengacak rambutnya yang sudah kusut, bersandar pada batang pohon tempat mayat itu tergantung, mendengarkan dengan wajah masam.
"Dokter forensik baru sebentar lagi sampai. Dia agak penakut, jadi tolong simpan dulu temperamen burukmu itu. Dia orang kiriman langsung dari Polda, pernah memecahkan Kasus Mutilasi 319. Perlakukan dia dengan baik, mengerti?"
Ferdi Ramadhan memijat pelipisnya, menyahut dengan nada setengah menyindir, "Pak Gunawan, Bapak tahu kan situasi kasus ini segenting apa? Bapak malah kirim anak baru? Siapa yang mau membimbingnya?"
"Apalagi ini posisi dokter forensik. Kalau dia menangis lihat mayat, siapa yang mau membujuknya?"
Hampir saja Ferdi kelepasan bicara, 'Kalau Bapak tidak bisa bantu memecahkan kasus, setidaknya jangan menambah beban kerja saya.'
"Polda mau memberinya kredit prestasi, itu urusan Polda. Jangan biarkan dia mengacau di sini."
Suara Pak Gunawan berubah serius, "Dia itu di tingkat nasional."
Ferdi mendengar seseorang memanggilnya. Dia memutar bola mata, memotong ucapan atasannya. "Pak Gunawan, ada petunjuk baru. Saya harus cek dulu." Dia mematikan sambungan.
Dua orang dari Unit Inafis dan IT berjalan mendekat.
Adi Nugroho, pria dengan wajah baby face yang penuh kekhawatiran, sungguh tidak terlihat seperti polisi.
"Pak Ferdi," lapor Adi, "Hujan semalam bikin kacau. Jejak kaki terlalu berantakan. Butuh waktu agak lama untuk memilah mana jejak pelaku dan mana yang bukan."
Bayu Wibowo, si ahli IT yang tampak kaku dengan potongan rambut cepak dan laptop di pelukan, bicara dengan nada datar, "Hutan kota ini tidak ada CCTV di bagian dalamnya. Beberapa hari ini pengunjung juga ramai. Melacaknya butuh waktu."
Adi Nugroho menghela napas panjang. "Ini sudah korban keempat. Kalau detail kasus ini bocor ke media, satu negara bisa gempar. Pelakunya pasti psikopat gila."
Ferdi Ramadhan menekan lidahnya ke bagian dalam pipi, menatap mayat di atasnya. Karena dokter forensik belum datang, mereka tidak berani menurunkan jenazah, takut ada bukti yang rusak.
Tatapannya mengeras, kilat kelam melintas di matanya. "Meski pelakunya jelmaan arwah penasaran sekalipun, akan kuseret dia keluar dari neraka paling dalam!"
Taman Naga Sumber adalah taman kota terbesar di Semarang. Di luar garis polisi, kerumunan warga sudah mulai terbentuk. Pelapornya adalah petugas kebersihan tua yang kini sedang dimintai keterangan oleh petugas lain.
Ferdi mengamati sekeliling. Kecuali area hutan kecil ini, Taman Naga Sumber sebenarnya dipenuhi CCTV.
Tiga korban sebelumnya dibunuh di tempat tersembunyi. Kali ini, pelaku memilih tempat yang relatif terbuka.
Apakah ini provokasi untuk polisi?
Tiba-tiba, Arif Hidayat berlari tergesa-gesa. "Pak Ferdi! Dokter forensik ... dokter forensiknya sudah datang, tapi ...."
Belum sempat Arif menyelesaikan kalimatnya, sosok Nara Wijaya sudah muncul dalam pandangan mereka.
Tingginya hanya sekitar 160 sentimeter, rambut pendek sebahu, dan wajahnya masih menyisakan sedikit lemak bayi yang membuatnya terlihat sangat muda. Namun, di balik wajah polos itu, tubuhnya terbentuk matang dan proporsional. Sepasang matanya yang hitam jernih memancarkan aura manja, seolah dia adalah tuan putri yang salah masuk tempat bermain.
Ferdi Ramadhan mengerutkan kening dalam-dalam, langsung menoleh pada Arif.
"Suruh dia pulang. Panggilkan dokter forensik yang lebih senior."
Bab Terakhir
#101 Bab [101] Kakak Senior
Terakhir Diperbarui: 3/10/2026#100 Bab [100] Rela
Terakhir Diperbarui: 5/21/2026#99 Bab [99] Merona
Terakhir Diperbarui: 5/21/2026#98 Bab [98] Memarahi
Terakhir Diperbarui: 5/21/2026#97 Bab [97] Terluka
Terakhir Diperbarui: 5/21/2026#96 Bab [96] Tamparan
Terakhir Diperbarui: 5/21/2026#95 Bab [95] Sudah Menikah
Terakhir Diperbarui: 5/23/2026#94 Bab [94] Penguapan
Terakhir Diperbarui: 5/21/2026#93 Bab [93] Batas
Terakhir Diperbarui: 5/21/2026#92 Bab [92] Kecelakaan Mobil
Terakhir Diperbarui: 5/21/2026
Anda Mungkin Suka 😍
Pengantin Pengganti
Arga, laki-laki baik yang seharusnya adalah Kakak ipar kepada Mentari, tetapi justru menjadi suami. Seketika menjelma sebagai sosok dingin tak tersentuh. Dia tidak pernah ikhlas dengan kenyataan bahwa Samantha hilang dan digantikan oleh Mentari. Tak sehari pun waktu berlalu tanpa bayang mantan calon istrinya, tidak sekalipun memandang Mentari seperti sosok seharusnya. Tidak pernah ada cinta.
Foxy Wife
Cinta bukanlah perioritas hidup Deby. Satu hal yang ditekankan, ia bukan perempuan nakal, orang terjepit hidup ataupun menjual diri.
Hanya melihat 'peruntungan' hubungan bersama seorang presdir Alzero Corp. Terikat penuh ke balas dendam.
Hidup sederhana cukup, Deby tak mengharapkan hal lain.
Menjadi istri diatas kertas adalah sebab ia mau. Sementara licik, licin dan perempuan ular bukanlah pilihan terakhir.
Deby sendiri yang memposisikan diri sendiri. So..., hit with that do. Done.
Zenit Alzero pun bukan orang yang terjebak, ia yang menawarkan. Tak ada dusta antara mereka.
Deby seorang anak dari mafia yang punya dendam ke keluarga Arnais, sepupu Zenit Alzero. Deby menikah ke Zen adalah untuk akses balas dendamnya.
Bagaimana jadinya Devil bertemu evil?
Akankah hubungan mereka berjalan baik?
Semua adalah kisah cinta dan balas dendam. bisakah cinta sejati mempersatukan mereka?
Pelacur Kakakku
"Tolong, Jake. Sekarang. Buat aku klimaks." Aku memohon.
Payton selalu menjadi gadis baik sepanjang hidupnya. Dia hanya ingin keluar dari rumah ibu dan ayah tirinya dan menjalani hidupnya sendiri. Yang tidak dia duga adalah saudara tiri yang sudah lama hilang tiba-tiba muncul dalam hidup mereka dan menjadi teman sekamarnya. Memang benar dia adalah mantan Marinir dengan perut berotot, tapi dia juga seorang mekanik motor yang suka bicara kotor padanya. Kata-katanya membuat Payton bergetar dalam antisipasi, dan tangannya membuat tubuhnya berkedut dan kejang.
Kesayangan CEO
Dia adalah kaisar gelap yang ditakuti semua orang, dikabarkan kejam dan kejam, dan tegas, tetapi dia hanya memanjakannya tanpa hukum.
Suatu hari, reporter bertanya: "Nyonya Lu, apakah Anda memiliki sesuatu yang perlu ditakuti?"
Gu Mengmeng tidak meneteskan air mata di wajahnya.
Dia hanya takut pada dua hal sekarang.
Pertama, cium suamimu!
Kedua, suami tercinta setelah mematikan lampu!
Cinta Terlarang Dengan Istriku
Tak disangka atau oleh pria kulit hitam yang ketahuan tertangkap kembali, menjadi kekasih kontraknya.
Empat tahun kemudian, dia kembali dengan mengbao yang luar biasa, tetapi menunggu berjam-jam dalam lingkaran kedok pria itu di lengannya.
"Apakah Anda membutuhkan pekerjaan?" Aku menawarkannya. "
"Apakah Anda membutuhkan seorang pria?" Saya bisa. "
"Apakah Anda membutuhkan ayah susu?" Saya. "
Dia Wei tidak tahan: "Keluar dari sini!" "
Bayi dengan lengannya bersenandung membuka mulutnya, ingin mengejar kaleng ibuku, kesulitan untuk menandatangani laris terjual terlebih dahulu! "
Seseorang penuh dengan garis hitam, apakah itu disebut koran?
Bermain Dengan Api
“Kita akan ngobrol sebentar lagi, oke?” Aku tidak bisa bicara, hanya bisa menatapnya dengan mata terbelalak sementara jantungku berdegup kencang. Aku hanya bisa berharap bukan aku yang dia incar.
Althaia bertemu dengan bos mafia berbahaya, Damiano, yang tertarik pada mata hijaunya yang besar dan polos, dan tidak bisa mengeluarkannya dari pikirannya. Althaia telah disembunyikan dari iblis berbahaya itu. Namun takdir membawanya kembali padanya. Kali ini, dia tidak akan pernah membiarkannya pergi lagi.
Kesempatan Kedua Sang Miliarder
Jasmine Dupree, sahabat dan karyawan Dimitri, selalu mencintai Dimitri tanpa sepengetahuannya. Sahabat mereka, Grayson Paul dan Dimitri, tidak tahu bahwa kembalinya sahabat mereka akan mengakhiri pernikahannya. McKenzie dituduh mengkhianati Dimitri dan diusir, hanya untuk muncul kembali lima tahun kemudian sebagai dokter yang menyelamatkan nyawa sahabatnya, Grayson.
McKenzie mencoba menjauh, berjanji untuk menjauh dari Dimitri. Lima tahun berlalu dan dia masih membencinya karena mengkhianatinya, namun detail baru terungkap yang membuat Dimitri meragukan tuduhannya lima tahun lalu. Jasmine melihat kesempatan untuk mengacaukan McKenzie dan melakukannya, yang tidak diketahui Jasmine adalah bahwa Dimitri masih mencintai McKenzie dan dia masih istrinya. Dia tidak pernah menceraikannya meskipun McKenzie telah menandatangani surat cerai.
Ketika Dimitri mengetahui bahwa dia salah, dia merasa jijik dengan cara dia memperlakukannya dan mulai mencari jalan untuk kembali padanya. McKenzie Peirce di sisi lain tidak tahu bahwa dia akan diberi kesempatan kedua untuk cinta, dengan pria yang selalu dia cintai. Dengan sahabat dan keluarganya di sisinya, dia berniat untuk memenangkan kembali hati McKenzie, namun saat mereka mencoba membuat pernikahan kesempatan kedua mereka berhasil, masalah mulai muncul. Jasmine menolak untuk menyerah pada Dimitri.
Sang Putri Hamil Kabur Usai Diceraikan
Ia bertahan dalam pernikahan tanpa cinta dan gairah selama tiga tahun, dengan keras kepala percaya bahwa suatu hari suaminya akan melihat nilainya. Namun, yang tidak pernah dia duga adalah malah menerima surat cerai darinya.
Akhirnya, dia mengambil keputusan: dia tidak menginginkan lelaki yang tidak mencintainya. Maka, di tengah malam yang pekat, dia pergi membawa serta janin dalam kandungannya.
Lima tahun kemudian, dia telah bertransformasi total. Ia kini adalah ahli bedah ortopedi terkemuka, seorang hacker tingkat atas, arsitek peraih medali emas di industri konstruksi, dan bahkan terungkap sebagai pewaris konglomerat triliunan rupiah. Semua identitas rahasianya berhasil terbongkar satu persatu.
Sampai suatu hari, seseorang membongkar fakta mengejutkan bahwa di sampingnya ada dua bocah berusia empat tahun yang wajahnya mirip sekali dengan bayi kembar naga-phoenix milik seorang CEO ternama.
Melihat sertifikat perceraian mereka, sang mantan suami tak bisa lagi duduk tenang. Dengan gegas dia memojokkan mantan istrinya, mendesaknya ke dinding, dan dengan suara bergetar penuh emosi dia bertanya, "Mantan istriku yang cantik, bukankah ini saatnya kau memberiku penjelasan?"
Pengantin Mafia-Nya
"Lepasin aku!" aku menggeram.
"Kalau aku mau sekarang juga," dia mendekat, bibirnya menyentuh lembut daun telingaku.
"Aku bisa memaksamu dan melihatmu berteriak dengan nada indahmu di bawahku," bisiknya dengan suara serak.
Aku terkejut dan mencoba melepaskan tangannya dari pinggangku.
"Kamu kan istriku, bukan?" dia menggoda, giginya menggigit lembut kulitku.
Aku merasakan panas aneh yang mulai membara di dalam diriku dan aku berusaha mengendalikannya.
"Dante, lepaskan aku!" aku mendesis.
Perlahan, kepalanya naik dari leherku dan menatapku.
Dia menggerakkan jarinya di sepanjang bibirku dan senyum iblis muncul di wajahnya.
Cinta. Kejahatan. Gairah. Tokoh wanita yang kuat.
Alina Fedorov, putri yang berani dan penuh semangat dari Don mafia Rusia, dipaksa menikah melawan kehendaknya oleh ayahnya. Dan pengantinnya tak lain adalah Dante Morelli yang ditakuti, capo dei capi dari mafia Italia-Amerika yang paling kuat dan berbahaya.
Dia memiliki markas yang tersebar di seluruh Eropa dan Amerika dengan banyak capo dan underboss yang siap melayani perintahnya. Mengelola dunia bawahnya tanpa hati, dia cepat menyingkirkan siapa pun yang melawan perintahnya dan bertahun-tahun pelatihannya membuatnya siap untuk kehidupan kejahatan yang berbahaya.
Namun, semua itu tidak akan berarti ketika dia bertemu dengan Alina Fedorov yang impulsif dan mandiri.
Bisakah cinta tumbuh di antara mereka terutama ketika Dante menginginkan balas dendam pada Alina atas dosa-dosa ayahnya? Ataukah Alina mampu meruntuhkan tembok dinginnya dan membuatnya bertekuk lutut untuknya?
Bapak Forbes
Ya ampun! Kata-katanya membuatku terangsang sekaligus kesal. Dia masih sama seperti dulu, brengsek yang arogan dan bossy, selalu ingin segalanya sesuai keinginannya.
"Kenapa aku harus melakukan itu?" tanyaku, merasakan kakiku mulai lemas.
"Maaf kalau aku membuatmu berpikir kamu punya pilihan," katanya sebelum menarik rambutku dan mendorong tubuhku, memaksaku menunduk dan meletakkan tanganku di atas meja kerjanya.
Astaga. Itu membuatku tersenyum, dan membuatku semakin basah. Bryce Forbes jauh lebih kasar daripada yang kubayangkan.
Anneliese Starling bisa menggunakan setiap sinonim untuk kata kekejaman dalam kamus untuk menggambarkan bos brengseknya, dan itu masih belum cukup. Bryce Forbes adalah lambang kekejaman, tapi sayangnya juga lambang hasrat yang tak tertahankan.
Sementara ketegangan antara Anne dan Bryce mencapai tingkat yang tak terkendali, Anneliese harus berjuang untuk menahan godaan dan harus membuat pilihan sulit, antara mengikuti ambisi profesionalnya atau menyerah pada hasrat terdalamnya, karena batas antara kantor dan kamar hampir sepenuhnya hilang.
Bryce tidak tahu lagi apa yang harus dilakukan untuk mengeluarkannya dari pikirannya. Untuk waktu yang lama, Anneliese Starling hanyalah gadis yang bekerja dengan ayahnya, dan kesayangan keluarganya. Tapi sayangnya bagi Bryce, dia telah menjadi wanita yang tak tergantikan dan provokatif yang bisa membuatnya gila. Bryce tidak tahu berapa lama lagi dia bisa menahan diri untuk tidak menyentuhnya.
Terlibat dalam permainan berbahaya, di mana bisnis dan kenikmatan terlarang saling terkait, Anne dan Bryce menghadapi garis tipis antara profesional dan pribadi, di mana setiap tatapan yang dipertukarkan, setiap provokasi, adalah undangan untuk menjelajahi wilayah berbahaya dan tak dikenal.
Mami, Papi Memintamu Kembali
Enam tahun kemudian, Binar kembali ke tanah air dengan dua anak kembar yang cerdas dan menggemaskan, sekarang dia telah menjadi dokter yang berbakat dan terkenal dan banyak pria hebat yang jatuh cinta padanya!
Mantan suaminya, Barra, sekarang menyesal dan ingin kembali pada pelukannya. Akankah Binar memaafkan sang mantan?
“Mami, Papi memintamu kembali? Apakah Mami masih mencintainya?”
Mantan Istri yang Tak Terlupakan
Dia melamarku, dan kuterima. Bagaimana mungkin aku menolak pria yang sudah lama kusukai? Dia menjelaskan dengan tegas bahwa hubungan kami hanya berdasarkan uang dan seks, dan aku tidak keberatan. Dalam pernikahan tanpa cinta itu, aku sudah puas hanya bisa berada di sampingnya.
Dia mengajukan gugatan cerai, dan kusetujui. Lima tahun pernikahan berakhir dalam satu hari. Aku merasa putus asa, dan hanya berharap untuk tidak pernah melihatnya lagi.
Setelahnya, dia berkata, "Sari, mari kita menikah lagi." Aku sama sekali tidak merasa apa-apa dan menjawab, "Pak Limbong, kurasa tidak ada yang perlu kita bicarakan selain urusan bisnis."
Dia meraih pinggangku dan berkata, "Kau yakin? Anak itu baru saja memanggilku Ayah!"












