
RAHASIA TERSEMBUNYI MAFIA RUSIA
ranatalashier · Sedang Diperbarui · 214.3k Kata
Pendahuluan
RAHASIA TERSEMBUNYI MAFIA RUSIA
Gue tahu dia anak dari laki-laki yang ngebunuh bokap gue, tapi gue tetap butuh masuk ke dalam tubuhnya lagi.
Gue pengin banget ngewe dia. Begitu penginnya sampai kepala gue panas, dan kontol gue makin keras.
Bab 1
Perutku terasa melintir saat melihat pemandangan di depan mata. Ada lebih dari seratus orang berkumpul, semuanya mengenakan jas hitam atau gaun serba gelap. Kepala-kepala mereka tertunduk sopan ke arah peti yang perlahan diturunkan ke dalam liang. Tangis dan isak terdengar dari belakang—tempat aku berdiri—bersembunyi dari siapa pun yang mungkin mengenaliku.
Aku tidak sanggup menghadap mereka. Aku tidak mau. Dan, yang lebih menyesakkan, aku takut pada mereka.
Kacamata hitam besar menutupi sebagian wajahku dari kerumunan, cukup lama untuk membuatku menyaksikan Nikolai—ayahku—diturunkan ke dalam tanah. Enam kaki di bawah, kata orang-orang. Mereka berbicara pelan, bertukar kenangan indah tentang dirinya, tentang betapa Nikolai dikenal dermawan.
Aku hanya berdiri membisu, air mata panas menggenang dan membakar pelupuk. Aku mengenalnya lebih dari mereka semua, tapi aku bahkan tak bisa membuka mulut. Pendeta itu pun tidak memanggilku ke depan untuk menyampaikan sepatah kata. Tidak ada yang tahu kalau aku anaknya.
“Aku sedih Pak Nikolai meninggal dengan cara yang sama seperti istrinya. Semoga arwah mereka tenang,”
“Tapi untungnya dia nggak ninggalin anak… nggak ada yatim piatu,”
“Tapi siapa yang membunuh dia? Orang yang sama yang membunuh istrinya juga, ya?”
Bisik-bisik itu menyebar di sekelilingku. Ada yang ngawur, ada yang terdengar seperti dugaan murahan.
Tak seorang pun mengenaliku, dan aku pun tidak mengenal satu pun kerabat. Sepanjang hidupku—sepanjang keberadaanku—aku dihabiskan terkunci di salah satu kamar rumah ayahku. Aman dan terlindungi. Itu dimulai sejak ibuku dibunuh. Aku bahkan tidak tahu apa yang merenggut nyawanya, dan yang lebih menyedihkan, aku tidak datang ke pemakamannya.
Ayah menolakku keluar. Katanya dunia luar bukan untuk seseorang yang “sepolos” aku. Waktu itu aku tak mengerti maksudnya, tapi sejak hari itu dia menahan aku di dalam rumah. Dia tidak mengizinkan siapa pun tahu tentang keberadaanku. Itulah sebabnya tak ada yang tahu orang tuaku punya anak.
Aku berdiri terasing, dan semuanya… tidak terlalu buruk, sampai seseorang mendekat. Seorang perempuan menanyakan sesuatu—entah informasi apa—tapi aku pura-pura tidak dengar dan mengalihkan pandanganku ke pendeta.
Aku tumbuh tanpa bersosialisasi dengan siapa pun, dan, lebih dari itu, aku takut pada orang.
Aku tenggelam dalam duniaku sendiri saat pemakaman ayah berlangsung. Namun begitu semuanya selesai dan kulihat orang-orang mulai meninggalkan area pemakaman, rasa takutku benar-benar menancap. Aku tidak lagi punya tempat untuk pulang. Rumah ayah tidak aman untukku. Ada perasaan menggerogoti—siapa pun yang membunuh orang tuaku, pada akhirnya akan datang mencariku.
“Aku tidur di mana saja, asal bukan di rumah.”
Kalimat itu bergaung-berulang di kepalaku saat aku berjalan pelan menyusuri trotoar. Langit mulai gelap, malam turun, dan tanpa arah yang jelas aku terus melangkah—menuju apartemenku.
Tentu saja, aku sebenarnya tidak punya tempat. Dan aku tidak mengenal jalan.
Mataku menelusuri sekitar sambil berjalan. Meski malam, suasananya tampak… aman. Tidak ada orang berlalu-lalang.
Semuanya baik-baik saja—sampai aku berbelok di sudut jalan.
Dugaanku mendadak terbantahkan ketika sebuah suara keras memecah malam.
BANG!
Suara itu membuat napasku tersentak seketika.
Tembakan.
Begitu nyaring sampai telingaku berdenging, getarannya seperti menghantam rongga kepalaku.
“Aku nggak aman…”
Aku mengusap kedua tanganku yang dingin dan lembap ke rok kulit panjangku, keringat sudah muncul di tempat-tempat yang tak pernah kubayangkan bisa berkeringat. Ayah benar ketika berkata dunia ini tidak aman untuk orang sepolos aku.
Erangan keras yang menyusul membuatku menoleh mencari sumbernya.
“Bunuh dia kalau dia nggak mau ngomong yang sebenarnya!” suara marah itu terdengar, dan saat itulah mataku menangkap bayangan-bayangan berpakaian hitam pekat.
Naluri menyentakku cepat. Aku mundur perlahan, karena begitu mereka melihatku, aku mati. Tapi sayangnya aku tidak sempat jauh.
Ujung sepatuku menyenggol batu. Tubuhku oleng, dan jeritan kecil meluncur tanpa bisa kutahan—dan itu seperti vonis.
“Ambil jalang itu sekarang!”
Begitu mendengar kalimat itu, aku tidak membeku. Aku justru lari—sekuat-kuatnya—secepat yang kakiku sanggup, tanpa berani menoleh untuk melihat siapa pemilik suara penuh amarah itu.
Namun itu sia-sia. Anak buahnya mengejarku, berlari dengan kecepatan yang sama—bahkan mungkin lebih cepat.
Jantungku berdentam tak karuan, seperti ingin menerobos keluar dari dadaku.
Mereka masih mengejar. Suara sepatu mereka memukul aspal, menghantam telingaku, menyakitkan. Aku ingin meringkuk saja, menutup diri, mati—daripada tertangkap dan dibawa oleh orang-orang yang bahkan tidak kukenal.
Aku berlari sekuat tenaga, nyaris tersandung gaun panjang menjuntai yang menyapu lantai. Tapi aku tak berhenti sampai berhasil menerobos salah satu toilet umum, lalu menghantam daun pintunya dan menguncinya—sekalian, untuk memastikan. Jemariku gemetar saat meraba kait kunci kuningan.
Begitu kuncinya mengatup, aku mengumpat pelan dan menoleh cepat ke sekeliling. Mataku menyapu ruangan, mencari celah—apa pun—tempat aku bisa kabur.
Jantungku berdentam liar ketika pandanganku menangkap sebuah jendela kecil. Letaknya agak tinggi, agak jauh, tapi aku tak peduli.
“Sial! Kamu mau ngapain?” Suara ketakutan dari belakang membuat jantungku serasa jatuh dari dada.
“Kenapa kamu mau manjat jendela?” tanya orang asing itu. Seorang perempuan berambut pirang.
“T-tolong…!” suaraku pecah. “Ada... ada laki-laki... mereka mau bunuh aku. Tolong, bantu aku keluar dari kamar mandi ini.” Dia orang asing, tapi aku tak sempat menahan diri. Aku runtuh di depan dia begitu saja.
Belum sempat dia menjawab, kami sama-sama mendengar gedoran keras di pintu. Mereka berusaha mendobrak paksa.
Wajah perempuan itu mendadak pucat saat dia sadar.
“Astaga, kamu ngapain sampai mereka ngejar kamu? Gimana aku bisa bantu cepat?” Suaranya ikut panik.
“Bantu aku naik ke jendela,” sahutku, air mata panas sudah mengalir deras.
“Cewek sialan itu di sini!” Aku membeku saat mendengar salah satu suara laki-laki. Mereka sudah masuk ke area toilet, mencari-cari.
“Boss' skazal Verni etu suku zhivoy.”
Bahasa Rusia. Mereka bicara bahasa Rusia. Sial—sial banget.
“Aku coba bantu...” Perempuan itu berhenti di tengah kalimat ketika melihat mereka mendekat. Sebelum aku sempat bereaksi, dia cepat-cepat mendorongku ke belakang punggungnya dan menghadang para lelaki bermasker itu.
“Kalian... tolong, bisa nggak biarin dia per—”
Dor.
Dalam hitungan detik, darah muncrat ke wajahku. Perempuan di depanku ambruk ke lantai.
Aku membeku, seluruh tubuhku seperti lepas. Ya Tuhan. Mereka membunuhnya tanpa ampun... sama seperti lelaki pertama yang kulihat tewas. Aku nyaris berteriak minta bumi menelanku hidup-hidup saat melihat mereka mendekat.
Aku melihat si pembunuh memasukkan pistolnya ke saku, tapi aku sama sekali tak bisa bergerak.
Seolah kakiku menempel ke lantai. Air mata saja yang terus jatuh, sementara darah perempuan itu menggenang dan merembes di sekitarku.
“Aku sumpah, aku nggak lihat apa-apa.” Begitu salah satu dari mereka melangkahi jasad perempuan itu dan berjalan ke arahku, aku refleks mundur selangkah.
Bibirku gemetar. Aku menatapnya dengan mata basah.
“Kalau kamu nggak mau wajah cantikmu rusak, diam dan ikut sama kami baik-baik,” desis salah satu dari mereka.
“Nggak... aku nggak mau. Aku nggak ngapa-ngapain... aku nggak lihat apa-apa.”
Aku menggeleng keras, mencoba mundur lagi, tapi dia langsung meraihku. Cengkeramannya di lenganku menguat saat aku berusaha melepaskan diri.
“Aku sumpah aku nggak... aku nggak bakal bilang ke siapa pun... lepasin—” Baru aku berteriak, telapak tangan bersarung menutup mulutku rapat-rapat.
“Aku nggak bakal bilang siapa pun, tolong jangan bunuh aku.” Suaraku tercekik di balik sarung tangan. Aku meronta, mencoba menepis tangannya dari mulutku.
“Aku sumpah...” Air mata panas menggenang di pelupuk, tubuhku gemetar, tapi cengkeramannya malah makin keras.
Aku bakal mati. Aku bakal mati kayak orang tuaku.
Kesadaran itu menghantamku saat aku terus berjuang—dan terus gagal.
Keadaan makin buruk ketika dia memutar tubuhku. Punggungku dipaksa menempel ke dadanya, tubuhku dikunci. Tangan bersarung itu masih menutup mulutku, sementara tangan satunya menyelipkan rambutku ke belakang telinga, lalu dia berbisik.
“Aku udah bilang kamu harus nurut, tapi kamu bandel. Sekarang aku—”
Aku menggeleng, menolak mendengar kelanjutannya. Namun sebelum otakku sempat mencerna apa pun, sehelai kain putih ditekan ke hidung dan mulutku.
Aku menjerit keras, tapi suaranya teredam. Aku meronta, sia-sia. Dalam hitungan detik, tubuhku mulai lemas, seakan kain itu mencekik napasku—tapi sebelum aku jatuh, ada yang menangkap tubuhku dan menahanku saat aku masih memberontak. Aku menahan napas, tapi bau kimia dari kain itu tetap menembus inderaku.
Kakiku menendang, tanganku memukul-mukul, tapi aku kalah. Pada akhirnya aku menghirupnya, dan tubuhku mulai mati rasa.
Mataku mulai terpejam, aku memaksa untuk tetap membuka—gagal. Air mata panas yang tadi menggenang terasa dingin di pipi. Tubuhku makin dingin. Perlawanan yang kutahan habis-habisan berakhir begitu saja. Saat aku menarik satu napas terakhir yang bergetar, kebas menyapu seluruh tubuhku, dan dunia di sekelilingku runtuh jadi gelap.
Bab Terakhir
#225 sekarang masalah
Terakhir Diperbarui: 4/25/2026#224 membuatnya kesal
Terakhir Diperbarui: 4/25/2026#223 tidak taat padanya
Terakhir Diperbarui: 4/25/2026#222 Melawan dia
Terakhir Diperbarui: 4/25/2026#221 Awasi dia
Terakhir Diperbarui: 4/25/2026#220 Latih dia
Terakhir Diperbarui: 4/25/2026#219 satu-satunya
Terakhir Diperbarui: 4/25/2026#218 menghukumnya
Terakhir Diperbarui: 4/25/2026#217 Dia bukan apa-apa
Terakhir Diperbarui: 4/25/2026#216 Ini dia
Terakhir Diperbarui: 4/25/2026
Anda Mungkin Suka 😍
Cinta Terburu-buru Sang CEO
Ayah Sahabat Terbaikku
Tiga tahun lalu, setelah kehilangan istrinya secara tragis, Pak Crane, seorang pria yang sangat tampan, kini menjadi seorang miliarder pekerja keras, simbol kesuksesan dan rasa sakit yang tak terucapkan. Dunianya bersinggungan dengan Elona melalui sahabatnya, jalan yang mereka tinggali, dan persahabatannya dengan ayah Elona.
Suatu hari yang menentukan, sebuah kesalahan kecil mengubah segalanya. Elona secara tidak sengaja mengirimkan serangkaian foto yang agak terbuka kepada Pak Crane, yang seharusnya dikirimkan kepada sahabatnya. Saat dia duduk di meja rapat, Pak Crane menerima gambar-gambar tak terduga tersebut. Pandangannya tertahan di layar, dia harus membuat pilihan.
Apakah dia akan menghadapi pesan yang tidak disengaja itu, mempertaruhkan persahabatan yang rapuh dan mungkin membangkitkan emosi yang tak terduga?
Ataukah dia akan bergulat dengan keinginannya sendiri dalam diam, mencari cara untuk menavigasi wilayah yang belum terpetakan ini tanpa mengganggu kehidupan di sekitarnya?
Flavour Its Yours
"Kak Sean, walau kau tidak mencintaiku. Tapi, aku akan tetap berusaha menjadi istri yang terbaik untukmu."
-Anna-
"Kalau kau tau aku tidak mencintaimu, kenapa memilih untuk tetap menerima perjodohan ini?"
-Sean-
Pengantin Palsu: Pembantu Manis Menjadi Nyonya Howard
Pembaca yang terhormat, karena beberapa masalah kesehatan, saya perlu memperlambat jadwal pembaruan untuk cerita kesayangan kita untuk sementara waktu. Terima kasih atas pengertian dan dukungan Anda yang terus berlanjut!
Setelah Bercinta di Mobil dengan CEO
Sang Putri Hamil Kabur Usai Diceraikan
Ia bertahan dalam pernikahan tanpa cinta dan gairah selama tiga tahun, dengan keras kepala percaya bahwa suatu hari suaminya akan melihat nilainya. Namun, yang tidak pernah dia duga adalah malah menerima surat cerai darinya.
Akhirnya, dia mengambil keputusan: dia tidak menginginkan lelaki yang tidak mencintainya. Maka, di tengah malam yang pekat, dia pergi membawa serta janin dalam kandungannya.
Lima tahun kemudian, dia telah bertransformasi total. Ia kini adalah ahli bedah ortopedi terkemuka, seorang hacker tingkat atas, arsitek peraih medali emas di industri konstruksi, dan bahkan terungkap sebagai pewaris konglomerat triliunan rupiah. Semua identitas rahasianya berhasil terbongkar satu persatu.
Sampai suatu hari, seseorang membongkar fakta mengejutkan bahwa di sampingnya ada dua bocah berusia empat tahun yang wajahnya mirip sekali dengan bayi kembar naga-phoenix milik seorang CEO ternama.
Melihat sertifikat perceraian mereka, sang mantan suami tak bisa lagi duduk tenang. Dengan gegas dia memojokkan mantan istrinya, mendesaknya ke dinding, dan dengan suara bergetar penuh emosi dia bertanya, "Mantan istriku yang cantik, bukankah ini saatnya kau memberiku penjelasan?"
Bermain Dengan Api
“Kita akan ngobrol sebentar lagi, oke?” Aku tidak bisa bicara, hanya bisa menatapnya dengan mata terbelalak sementara jantungku berdegup kencang. Aku hanya bisa berharap bukan aku yang dia incar.
Althaia bertemu dengan bos mafia berbahaya, Damiano, yang tertarik pada mata hijaunya yang besar dan polos, dan tidak bisa mengeluarkannya dari pikirannya. Althaia telah disembunyikan dari iblis berbahaya itu. Namun takdir membawanya kembali padanya. Kali ini, dia tidak akan pernah membiarkannya pergi lagi.
Rayuan untuk Kakak Tiriku si Mafia
Ketika aku kembali ke Bali dan melanjutkan karierku sebagai dokter, aku dipaksa untuk menghadiri pernikahan ibu angkatku — dan di sanalah dia berada. Kakak tiriku ternyata adalah partner satu malamku!
Jantungku hampir berhenti berdetak.
Keluarga ayah tiriku adalah dinasti yang sangat kaya dan berkuasa di Bali, terlibat dalam jaringan bisnis yang kompleks dan diselubungi misteri, termasuk nuansa gelap serta kekerasan.
Aku ingin menjauh dari siapa pun dari keluarga mafia tradisional Indonesia ini.
Tapi kakak tiriku tidak mau melepaskanku!
Dan sekarang, dia kembali ke Bali, mengelola bisnis keluarganya dengan efisiensi yang kejam. Dia adalah perpaduan berbahaya dari kalkulasi dingin dan daya tarik yang tak terbantahkan, menarikku ke dalam jalinan takdir yang tidak bisa kuhindari.
Secara naluri aku ingin menjauhi bahaya, menjauh darinya, tetapi takdir terus mendorongku kepadanya lagi dan lagi, dan aku kecanduan padanya di luar kendaliku. Seperti apa masa depan kami?
Bacalah bukunya.
Cinta Manis dengan Suamiku Milyarder
Dalam sebuah wawancara, Sari mengaku masih single, menyebabkan sensasi besar.
"Nyonya Limbong bercerai" langsung melesat ke puncak trending search.
Semua orang tahu Ari Limbong adalah taktisi yang kejam.
Persis ketika semua orang mengira dia akan menyikat habis Sari, sebuah akun baru terdaftar memberi komentar di profil pribadi Sari: "Bersimpuh di lantai atau di hadapanku, pilih!"
Mami, Papi Memintamu Kembali
Enam tahun kemudian, Binar kembali ke tanah air dengan dua anak kembar yang cerdas dan menggemaskan, sekarang dia telah menjadi dokter yang berbakat dan terkenal dan banyak pria hebat yang jatuh cinta padanya!
Mantan suaminya, Barra, sekarang menyesal dan ingin kembali pada pelukannya. Akankah Binar memaafkan sang mantan?
“Mami, Papi memintamu kembali? Apakah Mami masih mencintainya?”
Istri Misterius
Setelah mereka bercerai, Evelyn muncul di hadapan Dermot sebagai Dr. Kyte.
Dermot sangat mengagumi Dr. Kyte dan jatuh cinta padanya. Dermot bahkan mulai mengejar Dr. Kyte dengan penuh semangat!
Evelyn bertanya kepada Dermot, "Kamu tahu siapa aku?"
Dengan percaya diri, Dermot menjawab, "Tentu saja. Kamu adalah Dr. Kyte, seorang dokter yang sangat terampil. Selain itu, kamu juga seorang hacker kelas atas dan pendiri merek fashion mewah!"
Evelyn mendekatkan diri ke telinga Dermot dan berbisik lembut, "Sebenarnya, aku juga mantan istrimu!"
(Saya sangat merekomendasikan sebuah buku yang sangat menarik hingga saya tidak bisa berhenti membacanya selama tiga hari tiga malam. Buku ini sangat mengasyikkan dan wajib dibaca. Judul bukunya adalah "Cerai Mudah, Rujuk Sulit". Kamu bisa menemukannya dengan mencarinya di kolom pencarian.)
Putri Sang Kesatria
Saat ia berusaha mempertahankan hubungan mereka, pria itu membalasnya dengan tuduhan pedas — menyebutnya sebagai pencari untung yang tak peduli pada tanggung jawab dan kehormatan yang lebih besar.
Kini, tekadnya bulat. Dengan pedang terhunus dan hati yang teguh, ia menaiki kudanya dan pergi meninggalkan segalanya.
Sebagai putri seorang legenda, ia akan membuktikan pada dunia: seorang perempuan pun mampu memikul tanggung jawab keluarganya, dan menjadi seorang kesatria sejati — sekaligus pemimpin yang tangguh.
PUTRI SANG KESATRIA












