
EVE YANG TERLARANG
Olivia Chigozie · Sedang Diperbarui · 251.0k Kata
Pendahuluan
Malam yang dipenuhi darah dan api merenggut nyawa kedua orang tuanya, Evelyn Miller lari menyelamatkan diri—sampai Mario Morelli, pewaris keluarga mafia berpengaruh di New York, menariknya dari ambang maut.
Terseret masuk ke dunia Morelli yang berkilau namun mematikan, Evelyn bertemu ayah Mario—raja yang dingin, memikat, dan berbahaya, yang menggoda kewarasannya sampai nyaris habis.
Terjebak di antara sang putra yang menyelamatkannya dan sang ayah yang bisa menghancurkannya, Evelyn menemukan kematian orang tuanya terkait dengan keluarga Morelli. Kini, dia harus memilih antara cinta dan balas dendam—sebelum keduanya lebih dulu menghancurkannya.
Bab 1
POV EVE
DOR!
DOR!
Kami membeku ketika suara tembakan meledak dari ruang keluarga.
“Cari yang lain!” suara pria asing yang keras menerobos, membuat jantungku berdegup liar.
“Temukan mereka!” suara asing lain menyusul.
Bayangan ayahku ditembak di luar sana membuat tubuhku gemetar ketakutan. Aku melangkah ke arah pintu menuju dapur, tapi tangan ibu langsung menarikku kembali.
Ibu mendorongku ke pelukan Annamarie—pengasuhku—yang segera memegangku erat.
“Bawa dia. Lewat pintu belakang. Sekarang,” perintah ibu sambil menatap ke arah pintu dapur.
“Baik, Bu. Ayo, Nak,” kata Annamarie, menyeretku pelan.
“Enggak. Bu, aku nggak mau pergi tanpa Ibu.” Suaraku nyaris pecah, kakiku bergerak ingin kembali ke ibu, tapi ibu mendorongku lagi ke Annamarie.
“Bawa dia pergi, kubilang. Pergi sekarang!” bisik ibu dengan tegas, setengah membentak. Air mataku langsung jatuh saat Annamarie menarikku keluar lewat pintu belakang.
Kami lari, menyusuri arah pepohonan.
BUUM!
Ledakan keras menghentikan langkah kami seketika. Aku menoleh.
Rumah kami terbakar.
Rasanya perutku kosong, jantungku jatuh ke dasar perut.
“Ibu!” aku menjerit, melangkah cepat tapi lemah menuju rumah, namun Annamarie—yang kupanggil Nana—menangkapku.
“Nak, jangan.”
“Ibu!” aku menangis, lututku ambruk ke tanah.
Nana memelukku saat aku menangis tersedu-sedu.
“Kita harus terus jalan, Nak.”
Aku menggeleng keras. “Nggak. Orangtuaku. Ayah! Ibu!” Aku terisak menatap rumahku.
Semua dilalap api.
Siapa yang tega melakukan ini pada kami?
Siapa laki-laki itu?!
Kenapa mereka melakukan ini?!
“Ayo. Tempat ini berbahaya. Kita harus bawa kamu ke tempat aman. Ibumu ingin kamu selamat. Kita harus menghormati permintaan terakhirnya.”
Dadaku mengencang, tangisku makin pecah.
“Ayo, Nak,” kata Nana, membantu aku berdiri, lalu kami masuk lebih dalam ke hutan.
Kami berjalan jauh—rasanya seperti satu jam—dan Nana tak pernah melepaskan genggaman tanganku.
Tak lama kemudian, kami sampai di sebuah kabin yang asing. Nana melepas tanganku dan mengeluarkan sebuah kunci dari saku, membuatku mengernyit.
Dia membuka pintu kabin, lalu menoleh padaku dan mengulurkan tangan. Apa pun yang terjadi, aku tetap meraih tangannya dan mengikutinya masuk.
Di dalam gelap dan membuat merinding. Bau kayu dan debu menempel di udara. Nana menyalakan beberapa lilin sampai cahaya kuningnya menyebar, memperlihatkan ruangan tua yang seperti sudah lama ditinggalkan.
Ada sofa tua, meja kecil, gorden putih kusam di jendela, dan kepala banteng tergantung di dinding.
Seperti tak ada orang yang datang ke sini sejak lama. Nana menghampiriku membawa satu lilin, menarik perhatianku.
“Ayo, Nak. Nana antar ke kamar,” katanya, meletakkan tangan di bahuku dan menuntunku ke ruangan dalam.
Di kamar itu ada ranjang susun yang rapi dengan seprai putih. Mataku menyapu sekeliling: sebuah kursi di samping ranjang, meja kecil, satu kepala banteng lagi di dinding—yang membuatku makin merinding—dan gorden putih yang sudah usang di jendela.
“Duduk ya, Sayang,” kata Nana, membuatku duduk di ranjang. Ranjangnya mengeluarkan bunyi lemah saat aku menindihnya. Aku menatap seprai, menggosok telapak tanganku di atasnya, lalu meletakkan tangan di paha telanjangkku. Setetes air mata jatuh dan mendarat di punggung tanganku. Dadaku nyeri sekali, membuat air mata lain mengalir.
“Ini buat menghangatkan,” Nana berkata, menyerahkan selimut hitam.
“Terima kasih,” bisikku nyaris tak terdengar, menerima selimut itu. Angin dingin menyapu kulitku, membuatku menoleh ke jendela.
Angin meniup gorden yang berkibar masuk lewat celah.
“Jendelanya pecah. Tapi selimut ini bisa mencegah kamu masuk angin,” kata Nana.
Aku mengangguk, menunduk.
“Oh, Nak,” ujarnya, duduk di sebelahku. Tangannya kembali mendarat di bahuku.
“Orangtua aku... sudah meninggal, Nana.” Aku terisak. Hatiku seperti terus disobek.
Nana menarikku lebih dekat. Aku menyandarkan kepala di bahunya.
“Nana ikut sedih, Sayang,” katanya, mengelus rambutku pelan.
Aku tersedu-sedu, membayangkan wajah orangtuaku.
Ayah. Dia ditembak dua kali.
Ibu pasti mengejarnya... lalu terbakar di dalam rumah. Aku nggak percaya semua ini terjadi padaku.
“Siapa orang-orang nggak berperikemanusiaan itu, Nana? Kita salah apa sama mereka?” tanyaku di sela tangis.
“Aku juga bingung seperti kamu, Nak. Nana nggak tahu mereka siapa. Kamu tahu sendiri... orang kaya itu punya musuh,” katanya, membuatku mengangkat kepala dari bahunya dan menatapnya.
Dia menatapku dengan cemas.
“Maksud Nana apa? Papa punya musuh?”
Nana mengangkat bahu. “Cuma itu penjelasannya, Nak.” Tangannya merapikan sehelai rambutku, menyelipkannya ke belakang telinga.
“Tapi Papa orangnya baik. Dia… dia orang yang baik. Kita orang baik. Kenapa ada yang mau nyakitin kita?”
“Nak,” panggilnya pelan, telapak tangannya menutup punggung tanganku. “Sebagus apa pun seseorang, tetap saja ada yang bisa membencinya. Kamu nggak kepikiran, di luar sana ada orang-orang iri, yang dengki sama keluarga kamu karena kalian berada, kelihatan berkelas?”
“Itu nggak adil. Mama Papa kerja keras sampai bisa seperti sekarang. Kenapa ada orang yang sampai mau ngebunuh mereka cuma karena pencapaian mereka? Aku nggak ngerti.” Dadaku mencengkeram saat kata-kata itu keluar.
“Aku nggak ngerti, Nana. Ini kejam. Mama Papa udah nggak ada. Mama Papa udah nggak ada, Nana!” aku menangis.
“Ssst, Sayang,” bujuknya lirih, menarik kepalaku ke bahunya lalu memelukku erat.
“Gimana mungkin orang yang punya hati tega ngelakuin ini ke kita? Kenapa, Nana? Kenapa? Ini nggak adil,” isakku, getir, sambil menggenggam tangan Nana. Bayangan wajah Papa yang tersenyum memenuhi kepalaku.
Senyum Mama juga. Kami seharusnya bawain Papa makanan penutup di ruang tamu. Kami mau ngobrol. Malam ini seharusnya berjalan seperti malam-malam lainnya.
Kenapa ini terjadi?
Kenapa?
“Kamu harus tidur, Sayang. Sini, rebahan.” Nana menggeser tubuhku pelan.
Aku meringkuk menyamping, tersedu-sedu kecil saat Nana menyelimutiku. Dia mendekat, mengecup pelipisku.
Lalu dia melangkah ke arah pintu.
“Nana?”
“Iya, Sayang?” jawabnya, menoleh.
“Tolong temenin aku. Aku nggak mau sendirian.”
“Nana sama kamu, Nak. Nana di ruang depan. Nana bakal nengok kamu tiap sepuluh menit, ya?”
Aku mengangguk kecil.
“Sekarang tidur, ya.”
Aku menyandarkan kepala saat Nana keluar dari kamar.
Aku telentang, menatap langit-langit tua yang dipenuhi sarang laba-laba.
Aku memikirkan Mama dan Papa, membuat dadaku makin sesak.
Aku nggak percaya aku yatim piatu sekarang.
Cuma dalam semalam.
Mama Papa hilang.
Ya Tuhan, nggak mungkin. Ini nggak terjadi sama aku.
Hatiku ngilu luar biasa saat aku kembali miring. Aku mencengkeram selimut kuat-kuat, menangis tanpa suara.
Pa, Ma. Bilang ini mimpi buruk.
Bilang aku bakal bangun sebentar lagi dan lihat kalian berdua.
Ya Tuhan…
Aku memejamkan mata, sementara suara tembakan itu berulang di telingaku. Mama memaksaku ikut Nana. Hanya untuk Mama ikut terbunuh juga.
Dentuman api membuatku tersentak.
Ya Tuhan, kenapa?!
Kenapa Kau biarkan ini terjadi pada kami? Pada aku?!
Aku harus hidup gimana tanpa mereka?!
Gimana?!
Cahaya menyentuh wajahku dari arah jendela. Aku menoleh dan melihat bulan purnama.
Air mata kembali mengalir saat aku menarik pandanganku dari bulan. Aku memejamkan mata, dan tak lama kemudian, tidur menyeretku pergi.
Aku membuka mata karena hembusan angin dingin yang masuk dari jendela. Tubuhku menggigil.
Aku menoleh ke sekeliling dan langsung mengenali tempat ini. Dadaku mengencang saat menyadari semuanya bukan mimpi. Aku masih di pondok ini dan Mama Papa benar-benar sudah mati.
Aku duduk, ranjang mengeluarkan bunyi lirih yang rapuh. Wajahku penuh jejak air mata yang mengering, terbantu oleh angin.
Aku berdiri dan berjalan ke jendela, mengabaikan dinginnya udara. Aku menyingkap tirai dan baru sadar jendela itu benar-benar terbuka.
Tirai ini satu-satunya yang menutupinya. Nggak ada kaca, nggak ada papan. Tempat ini tua sekali.
Aku menghela napas sambil menatap bulan. Tanganku meremas liontin di leher, teringat bagaimana Mama memberikannya saat ulang tahunku, dan setetes air mata jatuh lagi.
Suara pintu berderit menarik perhatianku ke arah depan.
Aku melangkah pelan tanpa suara menuju ambang kamar dan mengintip ruang depan. Aku melihat Nana berdiri di depan pintu masuk yang terbuka, dan kelihatannya dia sedang bicara dengan seseorang.
Keningku berkerut.
Dia ngomong sama siapa?
Aku nggak bisa lihat orang itu dengan jelas.
“Di mana dia?”
Jantungku seperti berhenti saat mendengar suara laki-laki yang familiar.
Aku pernah dengar di mana?
Ya Tuhan…
Itu suara yang sama dari rumah kami. Pria yang menembak Papa.
Bab Terakhir
#159 Chapter 160 (Final)
Terakhir Diperbarui: 4/27/2026#158 Bab 159
Terakhir Diperbarui: 4/27/2026#157 Bab 158
Terakhir Diperbarui: 4/27/2026#156 Bab 157
Terakhir Diperbarui: 4/27/2026#155 Bab 156
Terakhir Diperbarui: 4/27/2026#154 Bab 155
Terakhir Diperbarui: 4/27/2026#153 Bab 154
Terakhir Diperbarui: 4/27/2026#152 Bab 153
Terakhir Diperbarui: 4/27/2026#151 Bab 152
Terakhir Diperbarui: 4/27/2026#150 Bab 151
Terakhir Diperbarui: 4/27/2026
Anda Mungkin Suka 😍
Kecintaan Satu Malam
Dia berkata: "Kasar, tidak profesional, melempar wanita. Tidak heran seorang pria seperti Anda akan merampok seorang wanita. "
Dia mencentang bibirnya: mata tersapu di atas tubuhnya, samar-samar: "kekanak-kanakan, bandara, masalah cinta, bahkan wanita tidak bisa dipanggil, saya enggan menerima Anda." "
Dia mencibir: Tidak, aku akan menemukan seorang pria yang bersedia menerimaku.
Dia menggendongnya: Saya tidak pergi ke neraka, yang pergi ke neraka
Setelah menikah.
"Apa tiga disiplin ilmu dan delapan catatan?" Seorang kolonel menatap wanita yang telah kembali terlambat dan menatap wajah merahnya karena minum.
"Eh- "Wanita minum di kepala, orang tua tidak tahu, tetapi juga kembali tiga disiplin ilmu delapan perhatian?"
"Sepertinya pendidikan kemarin tidak cukup mendalam. Hari ini kita harus melanjutkan pendidikan kita. "Seorang kolonel akan mabuk bahu wanita, dengan kekuatan fisik untuk memberitahunya, apa yang disebut tiga disiplin ilmu, delapan perhatian.
Segera setelah di kamar datang tangisan seorang wanita: "Brengsek, aku ingin bercerai." "
Suara seorang kolonel sangat tenang: "Maaf, tentara tidak bisa bercerai." "
"Aku akan protes, uh- "
Brengsek, selalu menggunakan trik ini, dia tidak bosan ah?
Mami, Papi Memintamu Kembali
Enam tahun kemudian, Binar kembali ke tanah air dengan dua anak kembar yang cerdas dan menggemaskan, sekarang dia telah menjadi dokter yang berbakat dan terkenal dan banyak pria hebat yang jatuh cinta padanya!
Mantan suaminya, Barra, sekarang menyesal dan ingin kembali pada pelukannya. Akankah Binar memaafkan sang mantan?
“Mami, Papi memintamu kembali? Apakah Mami masih mencintainya?”
Cinta Manis dengan Suamiku Milyarder
Dalam sebuah wawancara, Sari mengaku masih single, menyebabkan sensasi besar.
"Nyonya Limbong bercerai" langsung melesat ke puncak trending search.
Semua orang tahu Ari Limbong adalah taktisi yang kejam.
Persis ketika semua orang mengira dia akan menyikat habis Sari, sebuah akun baru terdaftar memberi komentar di profil pribadi Sari: "Bersimpuh di lantai atau di hadapanku, pilih!"
Ayah Sahabat Terbaikku
Tiga tahun lalu, setelah kehilangan istrinya secara tragis, Pak Crane, seorang pria yang sangat tampan, kini menjadi seorang miliarder pekerja keras, simbol kesuksesan dan rasa sakit yang tak terucapkan. Dunianya bersinggungan dengan Elona melalui sahabatnya, jalan yang mereka tinggali, dan persahabatannya dengan ayah Elona.
Suatu hari yang menentukan, sebuah kesalahan kecil mengubah segalanya. Elona secara tidak sengaja mengirimkan serangkaian foto yang agak terbuka kepada Pak Crane, yang seharusnya dikirimkan kepada sahabatnya. Saat dia duduk di meja rapat, Pak Crane menerima gambar-gambar tak terduga tersebut. Pandangannya tertahan di layar, dia harus membuat pilihan.
Apakah dia akan menghadapi pesan yang tidak disengaja itu, mempertaruhkan persahabatan yang rapuh dan mungkin membangkitkan emosi yang tak terduga?
Ataukah dia akan bergulat dengan keinginannya sendiri dalam diam, mencari cara untuk menavigasi wilayah yang belum terpetakan ini tanpa mengganggu kehidupan di sekitarnya?
Dimanjakan oleh Miliarder setelah Dikhianati
Emily dan suaminya yang miliarder berada dalam pernikahan kontrak; dia berharap bisa memenangkan cintanya melalui usaha. Namun, ketika suaminya muncul dengan seorang wanita hamil, dia putus asa. Setelah diusir, Emily yang tunawisma diambil oleh seorang miliarder misterius. Siapa dia? Bagaimana dia mengenal Emily? Yang lebih penting, Emily hamil.
Cinta dan Nafsu: Skandal di Keluargaku
Ibuku meninggal sejak aku kecil, dan ayahku yang baik hati serta kuat telah mengambil peran untuk merawat anak-anakku di rumah. Segala upaya dan obat-obatan telah kucoba untuk mengembalikan fungsi ereksiku yang normal, namun semuanya sia-sia. Suatu hari, saat berselancar di internet, tanpa sengaja aku menemukan literatur dewasa yang melibatkan hubungan antara ayah mertua dan menantu, yang tanpa kusadari langsung membuatku terpikat dan terangsang.
Berbaring di samping istriku yang sedang tidur dengan tenang, aku mulai membayangkan wajahnya pada karakter menantu dalam cerita itu, yang membuatku terangsang sampai tingkat yang luar biasa. Aku bahkan menemukan bahwa membayangkan istriku bersama ayahku sendiri saat aku memuaskan diri sendiri, terasa lebih memuaskan daripada bercinta dengannya secara langsung. Menyadari bahwa aku tanpa sengaja telah membuka kotak Pandora, aku mengakui bahwa tidak ada jalan kembali dari kegembiraan baru yang tak terkendali ini...
Setelah Bercinta di Mobil dengan CEO
Rayuan untuk Kakak Tiriku si Mafia
Ketika aku kembali ke Bali dan melanjutkan karierku sebagai dokter, aku dipaksa untuk menghadiri pernikahan ibu angkatku — dan di sanalah dia berada. Kakak tiriku ternyata adalah partner satu malamku!
Jantungku hampir berhenti berdetak.
Keluarga ayah tiriku adalah dinasti yang sangat kaya dan berkuasa di Bali, terlibat dalam jaringan bisnis yang kompleks dan diselubungi misteri, termasuk nuansa gelap serta kekerasan.
Aku ingin menjauh dari siapa pun dari keluarga mafia tradisional Indonesia ini.
Tapi kakak tiriku tidak mau melepaskanku!
Dan sekarang, dia kembali ke Bali, mengelola bisnis keluarganya dengan efisiensi yang kejam. Dia adalah perpaduan berbahaya dari kalkulasi dingin dan daya tarik yang tak terbantahkan, menarikku ke dalam jalinan takdir yang tidak bisa kuhindari.
Secara naluri aku ingin menjauhi bahaya, menjauh darinya, tetapi takdir terus mendorongku kepadanya lagi dan lagi, dan aku kecanduan padanya di luar kendaliku. Seperti apa masa depan kami?
Bacalah bukunya.
Sang Profesor
Suaranya penuh dengan beban dan urgensi
dan aku segera menurut sebelum dia mengarahkan pinggulku.
Tubuh kami bertemu dengan irama yang keras dan marah.
Aku semakin basah dan panas saat mendengarkan suara kami bercinta.
"Sial, vaginamu gila."
Setelah satu malam panas dengan seorang pria asing yang dia temui di klub, Dalia Campbell tidak mengira akan bertemu Noah Anderson lagi. Kemudian Senin pagi tiba, dan orang yang masuk ke ruang kuliah sebagai dosen adalah pria asing dari klub itu. Ketegangan meningkat dan Dalia berusaha sekuat tenaga untuk menjauhinya karena dia tidak ingin terganggu oleh siapa pun atau apa pun - ada juga fakta bahwa dia benar-benar terlarang - tetapi ketika dia menjadi asisten dosennya, batasan hubungan dosen/mahasiswa mereka menjadi kabur.
Bapak Ryan
Dia mendekat dengan ekspresi gelap dan lapar,
begitu dekat,
tangannya meraih wajahku, dan dia menekan tubuhnya ke tubuhku.
Mulutnya mengambil milikku dengan rakus, sedikit kasar.
Lidahnya membuatku terengah-engah.
"Kalau kamu tidak ikut denganku, aku akan meniduri kamu di sini." Dia berbisik.
Katherine menjaga keperawanannya selama bertahun-tahun bahkan setelah dia berusia 18 tahun. Tapi suatu hari, dia bertemu dengan seorang pria yang sangat seksual, Nathan Ryan, di klub. Dia memiliki mata biru paling menggoda yang pernah dia lihat, dagu yang tegas, rambut pirang keemasan, bibir penuh, sempurna, dan senyum yang luar biasa, dengan gigi yang sempurna dan lesung pipit yang sialan itu. Sangat seksi.
Dia dan dia memiliki malam yang indah dan panas...
Katherine berpikir dia mungkin tidak akan bertemu pria itu lagi.
Tapi takdir punya rencana lain.
Katherine akan mengambil pekerjaan sebagai asisten seorang miliarder yang memiliki salah satu perusahaan terbesar di negara ini dan dikenal sebagai pria yang menaklukkan, otoritatif, dan sangat menggoda. Dia adalah Nathan Ryan!
Apakah Kate bisa menahan pesona pria yang menarik, kuat, dan menggoda ini?
Baca untuk mengetahui hubungan yang terombang-ambing antara kemarahan dan hasrat yang tak terkendali.
Peringatan: R18+, Hanya untuk pembaca dewasa.
Anak Sambung? Sang Putri Palsu Kembali ke Pangkuan Konglomerat Triliunan
Pada kehidupan sebelumnya, Ayu Hartatiberjuang mati-matian untuk mempertahankan apa yang disebut 'ikatan keluarga'. Ia bersaing sengit dengan putri kandung yang bangkit kembali, berusaha mencengkeram segalanya justru berakhir dengan kehilangan segalanya, dan mati penuh dendam.
Setelah terlahir kembali, ia memutuskan untuk melepaskan.
Siapa peduli! Ia tidak akan melayani lagi!
Dengan gesit ia membereskan koper dan mengosongkan tempatnya, pergi mencari orang tua kandungnya.
Dengan persiapan hati untuk menerima takdirnya, tapi ternyata! Ini tidak seperti yang ia bayangkan!
Bukannya katanya keluarganya miskin melarat dan tak punya apa-apa?
Lalu, dinding bata emas yang berkilauan di sekeliling ini apa ini!?
Bukannya katanya ayahnya seorang penjudi yang menghabiskan semua harta keluarga dan lelaki tak berguna?
Pria yang memiliki setengah dari bisnis properti dengan beberapa blok jalan ini, benarkah itu dia?!
Bukannya katanya ibunya seorang perempuan pemarah dengan reputasi buruk di lingkungannya?
Seniman opera legendaris yang tiketnya sangat sulit didapat ini, benarkah itu dia?!
Bukannya katanya kakak laki-lakinya seorang lajang miskin yang mengayuh becak?
Bos tambang minyak yang kaya raya karena menggali sumur minyak ini, benarkah itu dia?!
Putri kandung yang telah dicari keluarga Hartati selama delapan belas tahun akhirnya kembali.
Titan bisnis, Jason Hartati, menyatakan: "Aku memang ditakdirkan memuja anak perempuan! Hatiku gelisah jika sehari saja tidak melihat putriku!"
Seniman legendaris, Shinta Widodo, berseru: "Kekasih hatiku! Buah jiwaku! Beli saja apa pun yang Ayu inginkan!"
Raja minyak, Keven Hartati, menggeram: "Adik perempuanku bukanlah sembarang orang yang bisa kalian incar! Siapapun yang berani menginginkan adikku, minggirlah!"
Pelacur Kakakku
"Tolong, Jake. Sekarang. Buat aku klimaks." Aku memohon.
Payton selalu menjadi gadis baik sepanjang hidupnya. Dia hanya ingin keluar dari rumah ibu dan ayah tirinya dan menjalani hidupnya sendiri. Yang tidak dia duga adalah saudara tiri yang sudah lama hilang tiba-tiba muncul dalam hidup mereka dan menjadi teman sekamarnya. Memang benar dia adalah mantan Marinir dengan perut berotot, tapi dia juga seorang mekanik motor yang suka bicara kotor padanya. Kata-katanya membuat Payton bergetar dalam antisipasi, dan tangannya membuat tubuhnya berkedut dan kejang.












