
Dibeli oleh Pangeran Milyarder
· Sedang Diperbarui · 147.9k Kata
Pendahuluan
Dibeli oleh Pangeran Milyuner diciptakan oleh Theresa Oliver, seorang penulis eGlobal Creative Publishing.
Bab 1
"Hai, bu! Ada apa?" Setelah melihat siapa yang menelepon, Ari Douglas–mahasiswi tahun kedua–langsung mengangkatnya pada dering pertama. "Mau aku bawakan sesuatu untuk makan malam nanti?" Biasanya Ari tinggal di asrama di Universitas New York dan akan pulang kerumah untuk mengunjungi ibu dan adiknya pada akhir pekan. Tapi dia tidak pulang minggu lalu, jadi dia akan pulang malam ini untuk menebusnya.
"Tidak perlu khawatir tentang itu sekarang." Suara ibunya terdengar lembut, sama seperti ketika dia masih kecil dan ibunya tidak ingin membuat dia khawatir.
"Ada apa, bu?" Ari berhenti di trotoar kampus dan memiringkan kepalanya ke arah ponsel untuk mendengarkan dengan lebih jelas.
Ibunya menghela napas. "Ari, tidak ada yang perlu dikhawatirkan, tapi Henley pingsan di lintasan lari hari ini."
"Apa?" Suara Ari meninggi beberapa oktaf.
Lintasan lari merupakan olahraga kesukaan adiknya, saat dia tidak ada kelas untuk dihadiri, dia akan menghabiskan setiap waktu berlatih untuk lomba.
Ari memindahkan telepon ke telinganya yang lain dan menggelengkan kepala. "Aku sudah duga suatu hari dia pasti akan pingsan karena terlalu memaksakan diri! Apakah dia baik-baik saja?"
"Dia baik-baik saja." Ari dapat mendengar senyum dalam nada suara ibunya yang berusaha untuk tetap tegar. "Mereka memintanya untuk menginap dan menjalankan beberapa tes, tapi tidak ada yang perlu dikhawatirkan."
"Aku akan segera kesana." Ari kembali berjalan ke arah kamar asramanya. "Di kamar mana dia dirawat?"
Ari mendengarkan, dia berusaha mengingat informasi yang diberikan sambil mempercepat langkahnya dan menahan diri untuk tidak berlari. Ketika masuk ke kamar, dia segera mengucapkan selamat tinggal pada ibunya dan mematikan telepon. Dia kemudian mengambil tas duffel miliknya dan mulai memasukkan beberapa barang ke dalam tas, untuk berjaga-jaga, dia mengemasi barang-barang yang cukup untuk beberapa hari.
"Ada kebakaran?" Tanya Vickie. Vickie Thompson dan Ari berteman baik sejak menjadi teman sekamar di tahun pertama mereka. Sekarang mereka sudah di tahun kedua dan sangat menantikan sisa tahun mereka di kampus. Ari berpikir untuk melanjutkan kuliahnya ke jenjang Magister setelah menyelesaikan kuliahnya di jurusan Menulis Kreatif terlebih dahulu.
"Henley pingsan di lintasan lari hari ini." Ari dengan cepat mengambil beberapa barang dari lemari dan laci kemudian melemparkannya ke ranjang.
Mata cokelat Vickie terbelalak, sangat kontras dengan rambut dan kulitnya yang berwarna cokelat muda. "Apakah dia baik-baik saja?"
Ari mengedikkan bahunya tanpa memperlambat langkahnya. "Dia di rumah sakit." Dia kemudian menutup dan menyampirkan tasnya ke bahu. "Tolong beri tahu pada dosen aku tidak akan hadir pada kelas besok. Aku akan mengirimkan pesan padanya ketika sempat." Ari mengikat rambut cokelat panjangnya menjadi kuncir kuda, hal yang biasa dia lakukan ketika sedang terburu-buru.
Vickie memeluknya. "Hati-hati saat menyetir." Dia kemudian melepaskan pelukannya dan menatap Ari, "dan jangan mengebut."
Ari menyeringai. "Baik, bu." Beberapa menit kemudian, Ari sudah berada di dalam perjalanan menuju Queens dengan mobil VW kodok miliknya, berharap tidak ada hal serius yang terjadi.
Di rumah sakit, Ari melihat ibunya di dalam ruangan dan segera menghampiri untuk memeluknya. "Bagaimana keadaannya?"
Celeste melepaskan pelukannya dan menuntun Ari ke kursi terdekat di ruang tunggu. "Seperti yang ibu bilang, ini harusnya bukan apa-apa, tapi dokter ingin melakukan beberapa tes."
Ari tidak ingin membuat ibunya lebih khawatir lagi, tapi dia merasa dokter tidak mungkin menyuruh orang tinggal untuk melakukan tes tanpa alasan. "Di mana dia sekarang?"
Ibunya mengedikkan kepalanya ke arah pintu. "Mereka sedang melakukan tes, setelah selesai mereka akan menempatkannya di ruangan."
Ari mengangguk, kemudian menghembuskan napas dalam-dalam.
Ibunya meremas tangan Ari dengan lembut. "Jangan khawatir, kecuali memang ada hal yang perlu kita khawatirkan."
Ari tersenyum lemah, "Aku hanya berharap ada sesuatu yang bisa aku lakukan untuk membantu."
Mereka merasa telah menunggu berhari-hari ketika malam itu dokter membuka pintu. "Nyonya Douglas?"
"Di sini!" Ucap Celeste sambil mengangkat tangannya.
Dokter itu menyeberangi ruangan dengan alis yang menyatu khawatir dan bibir terkatup membentuk garis lurus. "Mari bicara sebentar."
Ibunya mengangguk, namun Ari merasa khawatir. Dokter tidak mungkin mengajak bicara secara pribadi tanpa alasan.
Dokter menunggu mereka masuk ke ruangan dan menutup pintu.
"Bagaimana keadaan Henley?" Tanya Celeste cemas, sebuah kerutan terbentuk diantara alisnya.
Dokter menghela napas. "Hasilnya belum pasti, kita akan tahu secara pasti setelah menjalankan beberapa tes lagi."
"Kira-kira apa hasilnya?" Tanya Ari tanpa dapat menahan ketegangannya. Dia benci saat dokter bicara berbelit-belit, akan lebih baik apabila mereka bicara langsung ke intinya.
"Leukemia," dokter berkata datar.
Celeste membelalak. "Apa Anda yakin?"
"Kami tidak akan tahu pasti sampai tes lain dijalankan," ulang dokter sambil menatap mereka dengan mata sedih. "Tapi, ya, saya khawatir begitu."
Air mata ibunya mengalir, dia tidak bisa berbicara sepatah kata pun.
Ari meremas tangan ibunya untuk memberikan dukungan. "Apa yang dapat kami lakukan?"
Dokter kemudian menghabiskan satu jam berikutnya untuk memberitahu mereka mengenai pengobatan kemoterapi dan Transplantasi Sel Punca setelah masa remisi. Banyaknya informasi membuat Ari pusing.
Setelah dokter meninggalkan ruangan, ibunya menatap Ari dan berkata dengan suara pelan, "Ari, ibu tidak punya asuransi." Setelah ayah Ari meninggalkan mereka enam tahun yang lalu, ibunya bekerja sebagai pelayan di sebuah restoran lokal. Meskipun tipnya lumayan, namun tidak ada keuntungan lainnya. Tentu saja, tidak ada asuransi.
"Jangan khawatir, bu." Dia memeluk ibunya. "Semuanya akan baik-baik saja. Kita akan pikirkan suatu cara." Saat ia merasakan air mata ibunya di pundaknya, Ari diam-diam bertekad untuk melakukan apapun juga demi membantu adiknya.
"Bu, aku ingin ke kantin di bawah untuk minum kopi." Ari berdiri dan merenggangkan tubuhnya di tengah malam, kesulitan untuk tidur. "Ibu mau?"
Celeste menggeleng. "Tidak, Sayang, terima kasih."
Ari mengangkat alisnya. "Apakah ibu akan baik-baik saja sendirian?"
Ibunya mengangguk. "Ya, tentu saja. Ibu akan baik-baik saja." Dia kemudian memaksakan senyum. "Hei! Seharusnya ibu yang mengurus kamu, bukan sebaliknya."
Ari tersenyum. "Ibu, kita pasti bisa melalui ini bersama." Dia kemudian memeluk ibunya dengan singkat. "Lagipula, ibu tidak perlu melindungiku lagi. Aku bukan anak kecil lagi."
Celeste tertawa. "Sayang, kau memang sudah bukan anak kecil lagi dari dulu. Ibu rasa kau terlahir sebagai orang dewasa."
Ari tertawa kecil kemudian turun ke kantin, merenungkan ke mana dia harus mencari uang untuk pengobatan Henley. Kecuali mencuri di bank, tidak ada yang cara lain untuk mendapatkan uang banyak. Dikarenakan harus membayar biaya kuliah Henley dan dirinya, uang yang tersisa tidak banyak. Ari memutuskan untuk membatalkan sisa kelasnya dan berhenti kuliah sampai dia menemukan jalan keluar.
Ari kemudian dengan serius mempertimbangkan untuk merampok bank. Dia bisa berpura-pura membawa pistol dan masuk ke bank. Hanya di sanalah tersedia uang yang dia butuhkan...
Ide-ide bermunculan di kepala Ari dan sebuah rencana sudah mulai terbentuk saat dia memasuki kantin. Normalnya, dia tidak mungkin mempertimbangkan untuk merampok bank, namun situasi yang sulit membutuhkan tindakan yang drastis. Dia berjalan di area antrean kantin, namun dikarenakan di jam-jam sekarang semua harus dilakukan dengan sendiri, Ari membuatkan dirinya segelas kopi dan berjalan ke kasir.
Di depannya tersedia gelas dengan beberapa pensil di dalamnya. "Boleh aku pinjam satu?"
Kasir mengayunkan tangan ke arah pensil dan tersenyum. "Silakan."
Ari mengambil satu pensil dan selembar serbet lalu melihat sekeliling dan tidak menemukan orang satu pun disana. Ari menghela napas lega, dia sedang tidak ingin mengobrol saat ini. Setelah membayar, dia memilih meja di pojok ruangan. Dia membutuhkan waktu untuk berpikir dan membuat rencana.
Ari membuat daftar beberapa cara untuk dirinya bisa mendapatkan uang. Merampok bank. Cek. Mengambil pinjaman. Cek. Dia menatap serbet itu sebentar, membaliknya dan mulai menulis rencana untuk merampok bank, ketika sebuah suara menyadarkannya dari lamunan.
"Maaf mengganggu, apakah ada yang duduk disini?"
Ari mendongak dan menghela napas sambil menutupi tisu tadi dengan tangannya. Ternyata seorang perawat dari ruang gawat darurat. Ari menggeleng dan mengisyaratkan dengan tangannya. "Duduklah." Dia kemudian menghela napas. "Maaf, tapi kurasa aku tidak akan jadi teman mengobrol yang baik malam ini."
Perawat itu memakai tanda pengenal dengan tulisan MELISSA. Dia menyesap kopinya. "Aku harap kamu tidak keberatan, tapi aku mendengar apa yang dokter katakan tadi di ruang tunggu. Aku turut berduka."
Ari memiringkan kepalanya. "Terima kasih, tapi ini belum berakhir."
Melisa mengangkat alis dan menatapnya khawatir. "Yah, jangan lakukan sesuatu yang bodoh. Akan ada jalan keluarnya."
Ari kembali menyesap kopinya. "Begini. Aku menghargai perhatianmu, tapi tidak akan ada yang mau membantu mahasiswi miskin tanpa asuransi."
"Aku harap itu tidak benar." Melissa menatap matanya. "Ini bukan urusanku, tapi apakah kau ada ide bagaimana mendapatkan uang?"
Ari tersenyum sinis. "Selain merampok bank? Tidak ada."
"Jangan lakukan itu." Melissa tersenyum dan mencondongkan badannya sambil berkata penuh konspirasi. "Aku punya ide."
Bab Terakhir
#147 Bab 147
Terakhir Diperbarui: 3/12/2026#146 Bab 146
Terakhir Diperbarui: 3/12/2026#145 Bab 145
Terakhir Diperbarui: 3/12/2026#144 Bab 144
Terakhir Diperbarui: 3/12/2026#143 Bab 143
Terakhir Diperbarui: 3/12/2026#142 Bab 142
Terakhir Diperbarui: 3/12/2026#141 Bab 141
Terakhir Diperbarui: 3/12/2026#140 Bab 140
Terakhir Diperbarui: 3/12/2026#139 Bab 139
Terakhir Diperbarui: 3/12/2026#138 Bab 138
Terakhir Diperbarui: 3/12/2026
Anda Mungkin Suka 😍
Putri Sang Kesatria
Saat ia berusaha mempertahankan hubungan mereka, pria itu membalasnya dengan tuduhan pedas — menyebutnya sebagai pencari untung yang tak peduli pada tanggung jawab dan kehormatan yang lebih besar.
Kini, tekadnya bulat. Dengan pedang terhunus dan hati yang teguh, ia menaiki kudanya dan pergi meninggalkan segalanya.
Sebagai putri seorang legenda, ia akan membuktikan pada dunia: seorang perempuan pun mampu memikul tanggung jawab keluarganya, dan menjadi seorang kesatria sejati — sekaligus pemimpin yang tangguh.
PUTRI SANG KESATRIA
Boneka Iblis
"Rileks, ya." Aku mencium bokong kirinya dan memutar jariku di dalamnya, lalu mendorongnya dengan keras.
"Ahh!"
Dia mengeluarkan erangan panas saat aku menyentuh titik sensitifnya, dan aku mendekati payudara kanannya, menandainya dengan gigitan dan hisapan. Aku ingin semua orang tahu besok bahwa dia sekarang punya seorang pria, pria yang akan menjadi satu-satunya pemiliknya. Setiap gerakannya akan kuketahui, hanya aku yang bisa memilikinya. Aku akan membunuh siapa pun yang berani mendekati boneka kecilku yang cantik ini.
Hidup Aurelia berubah drastis ketika dia dituduh salah membawa ganja di dalam ranselnya, dia dikirim ke Penjara Horizon yang terkenal, yang dikenal sebagai neraka di bumi. Di lingkungan di mana hukum dan ketertiban tampak seperti ilusi belaka, Aurelia mendapati dirinya dikelilingi oleh penjahat kejam dan bayangan menyeramkan yang mengintai di setiap sudut penjara.
Putus asa untuk bertahan hidup dan melarikan diri dari mimpi buruk ini, Aurelia menarik perhatian Iblis yang ditakuti, pemimpin tertinggi penjara itu. Dengan aura kekuasaan dan dominasi mutlaknya, Iblis melihatnya sebagai mangsa yang menggoda, bertekad untuk memilikinya sebagai miliknya. Saat dia berjuang untuk bertahan hidup di lingkungan di mana kekerasan merajalela, dia mendapati dirinya terlibat dalam permainan kucing dan tikus yang berbahaya dengan Iblis.
Di antara kegelapan penjara dan bayangan koridor, Aurelia berjuang untuk menjaga kemanusiaannya tetap utuh, bahkan saat dia mencoba mengubahnya menjadi boneka patuh. Di dunia di mana garis antara kebaikan dan kejahatan kabur, dia harus menemukan cara untuk menolak godaannya sebelum terlambat.
"Boneka Iblis" adalah kisah tentang keberanian, pengorbanan, dan penebusan di tempat di mana harapan adalah kemewahan langka dan bertahan hidup adalah perjuangan sehari-hari.
Pengantin Mafia-Nya
"Lepasin aku!" aku menggeram.
"Kalau aku mau sekarang juga," dia mendekat, bibirnya menyentuh lembut daun telingaku.
"Aku bisa memaksamu dan melihatmu berteriak dengan nada indahmu di bawahku," bisiknya dengan suara serak.
Aku terkejut dan mencoba melepaskan tangannya dari pinggangku.
"Kamu kan istriku, bukan?" dia menggoda, giginya menggigit lembut kulitku.
Aku merasakan panas aneh yang mulai membara di dalam diriku dan aku berusaha mengendalikannya.
"Dante, lepaskan aku!" aku mendesis.
Perlahan, kepalanya naik dari leherku dan menatapku.
Dia menggerakkan jarinya di sepanjang bibirku dan senyum iblis muncul di wajahnya.
Cinta. Kejahatan. Gairah. Tokoh wanita yang kuat.
Alina Fedorov, putri yang berani dan penuh semangat dari Don mafia Rusia, dipaksa menikah melawan kehendaknya oleh ayahnya. Dan pengantinnya tak lain adalah Dante Morelli yang ditakuti, capo dei capi dari mafia Italia-Amerika yang paling kuat dan berbahaya.
Dia memiliki markas yang tersebar di seluruh Eropa dan Amerika dengan banyak capo dan underboss yang siap melayani perintahnya. Mengelola dunia bawahnya tanpa hati, dia cepat menyingkirkan siapa pun yang melawan perintahnya dan bertahun-tahun pelatihannya membuatnya siap untuk kehidupan kejahatan yang berbahaya.
Namun, semua itu tidak akan berarti ketika dia bertemu dengan Alina Fedorov yang impulsif dan mandiri.
Bisakah cinta tumbuh di antara mereka terutama ketika Dante menginginkan balas dendam pada Alina atas dosa-dosa ayahnya? Ataukah Alina mampu meruntuhkan tembok dinginnya dan membuatnya bertekuk lutut untuknya?
Jatuh Cinta dengan Miliarder Dominan
(Pembaruan harian dengan tiga bab)
Dimanjakan oleh Miliarder setelah Dikhianati
Emily dan suaminya yang miliarder berada dalam pernikahan kontrak; dia berharap bisa memenangkan cintanya melalui usaha. Namun, ketika suaminya muncul dengan seorang wanita hamil, dia putus asa. Setelah diusir, Emily yang tunawisma diambil oleh seorang miliarder misterius. Siapa dia? Bagaimana dia mengenal Emily? Yang lebih penting, Emily hamil.
Bapak Forbes
Ya ampun! Kata-katanya membuatku terangsang sekaligus kesal. Dia masih sama seperti dulu, brengsek yang arogan dan bossy, selalu ingin segalanya sesuai keinginannya.
"Kenapa aku harus melakukan itu?" tanyaku, merasakan kakiku mulai lemas.
"Maaf kalau aku membuatmu berpikir kamu punya pilihan," katanya sebelum menarik rambutku dan mendorong tubuhku, memaksaku menunduk dan meletakkan tanganku di atas meja kerjanya.
Astaga. Itu membuatku tersenyum, dan membuatku semakin basah. Bryce Forbes jauh lebih kasar daripada yang kubayangkan.
Anneliese Starling bisa menggunakan setiap sinonim untuk kata kekejaman dalam kamus untuk menggambarkan bos brengseknya, dan itu masih belum cukup. Bryce Forbes adalah lambang kekejaman, tapi sayangnya juga lambang hasrat yang tak tertahankan.
Sementara ketegangan antara Anne dan Bryce mencapai tingkat yang tak terkendali, Anneliese harus berjuang untuk menahan godaan dan harus membuat pilihan sulit, antara mengikuti ambisi profesionalnya atau menyerah pada hasrat terdalamnya, karena batas antara kantor dan kamar hampir sepenuhnya hilang.
Bryce tidak tahu lagi apa yang harus dilakukan untuk mengeluarkannya dari pikirannya. Untuk waktu yang lama, Anneliese Starling hanyalah gadis yang bekerja dengan ayahnya, dan kesayangan keluarganya. Tapi sayangnya bagi Bryce, dia telah menjadi wanita yang tak tergantikan dan provokatif yang bisa membuatnya gila. Bryce tidak tahu berapa lama lagi dia bisa menahan diri untuk tidak menyentuhnya.
Terlibat dalam permainan berbahaya, di mana bisnis dan kenikmatan terlarang saling terkait, Anne dan Bryce menghadapi garis tipis antara profesional dan pribadi, di mana setiap tatapan yang dipertukarkan, setiap provokasi, adalah undangan untuk menjelajahi wilayah berbahaya dan tak dikenal.
Anak Sambung? Sang Putri Palsu Kembali ke Pangkuan Konglomerat Triliunan
Pada kehidupan sebelumnya, Ayu Hartatiberjuang mati-matian untuk mempertahankan apa yang disebut 'ikatan keluarga'. Ia bersaing sengit dengan putri kandung yang bangkit kembali, berusaha mencengkeram segalanya justru berakhir dengan kehilangan segalanya, dan mati penuh dendam.
Setelah terlahir kembali, ia memutuskan untuk melepaskan.
Siapa peduli! Ia tidak akan melayani lagi!
Dengan gesit ia membereskan koper dan mengosongkan tempatnya, pergi mencari orang tua kandungnya.
Dengan persiapan hati untuk menerima takdirnya, tapi ternyata! Ini tidak seperti yang ia bayangkan!
Bukannya katanya keluarganya miskin melarat dan tak punya apa-apa?
Lalu, dinding bata emas yang berkilauan di sekeliling ini apa ini!?
Bukannya katanya ayahnya seorang penjudi yang menghabiskan semua harta keluarga dan lelaki tak berguna?
Pria yang memiliki setengah dari bisnis properti dengan beberapa blok jalan ini, benarkah itu dia?!
Bukannya katanya ibunya seorang perempuan pemarah dengan reputasi buruk di lingkungannya?
Seniman opera legendaris yang tiketnya sangat sulit didapat ini, benarkah itu dia?!
Bukannya katanya kakak laki-lakinya seorang lajang miskin yang mengayuh becak?
Bos tambang minyak yang kaya raya karena menggali sumur minyak ini, benarkah itu dia?!
Putri kandung yang telah dicari keluarga Hartati selama delapan belas tahun akhirnya kembali.
Titan bisnis, Jason Hartati, menyatakan: "Aku memang ditakdirkan memuja anak perempuan! Hatiku gelisah jika sehari saja tidak melihat putriku!"
Seniman legendaris, Shinta Widodo, berseru: "Kekasih hatiku! Buah jiwaku! Beli saja apa pun yang Ayu inginkan!"
Raja minyak, Keven Hartati, menggeram: "Adik perempuanku bukanlah sembarang orang yang bisa kalian incar! Siapapun yang berani menginginkan adikku, minggirlah!"
7 Malam dengan Tuan Black
"Apa yang kamu lakukan?" Dakota mencengkeram pergelangan tanganku sebelum mereka menyentuh tubuhnya.
"Menyentuhmu." Bisikan keluar dari bibirku dan aku melihat matanya menyipit padaku seolah aku telah menghinanya.
"Emara. Kamu tidak akan menyentuhku. Hari ini atau kapan pun."
Jari-jarinya yang kuat meraih tanganku dan menempatkannya dengan tegas di atas kepalaku.
"Aku di sini bukan untuk bercinta denganmu. Kita hanya akan bercinta."
Peringatan: Buku Dewasa 🔞
. . ......................................................................................................
Dakota Black adalah pria yang diselimuti karisma dan kekuasaan.
Tapi aku membuatnya menjadi monster.
Tiga tahun lalu, aku mengirimnya ke penjara. Secara tidak sengaja.
Dan sekarang dia kembali untuk membalas dendam padaku.
"Tujuh malam." Katanya. "Aku menghabiskan tujuh malam di penjara busuk itu. Aku memberimu tujuh malam untuk tinggal bersamaku. Tidur denganku. Dan aku akan membebaskanmu dari dosamu."
Dia berjanji untuk menghancurkan hidupku demi pemandangan yang bagus jika aku tidak mengikuti perintahnya.
Pelacur pribadinya, begitu dia memanggilku.
🔻KONTEN DEWASA🔻
Gadis Gemerlap
Namun di luar dugaan, dia membalas dengan tamparan yang menyakitkan! Ternyata dia bergelar doktor dan adalah ilmuwan ternama. Dia juara catur nasional, investor jenius, legenda bela diri... Saat prestasi tak terbantahkan ini terungkap satu per satu, tak terhitung orang mengejarnya.
Sementara itu, Tuan Phillips, legenda bisnis yang dulu memandangnya dengan hina, kini panik: Itu istriku! Menyingkir kalian!
Pengantin Palsu: Pembantu Manis Menjadi Nyonya Howard
Pembaca yang terhormat, karena beberapa masalah kesehatan, saya perlu memperlambat jadwal pembaruan untuk cerita kesayangan kita untuk sementara waktu. Terima kasih atas pengertian dan dukungan Anda yang terus berlanjut!
Pelacur Kakakku
"Tolong, Jake. Sekarang. Buat aku klimaks." Aku memohon.
Payton selalu menjadi gadis baik sepanjang hidupnya. Dia hanya ingin keluar dari rumah ibu dan ayah tirinya dan menjalani hidupnya sendiri. Yang tidak dia duga adalah saudara tiri yang sudah lama hilang tiba-tiba muncul dalam hidup mereka dan menjadi teman sekamarnya. Memang benar dia adalah mantan Marinir dengan perut berotot, tapi dia juga seorang mekanik motor yang suka bicara kotor padanya. Kata-katanya membuat Payton bergetar dalam antisipasi, dan tangannya membuat tubuhnya berkedut dan kejang.












