Cepat, CEO! Kejar Mantan yang Kabur!

Cepat, CEO! Kejar Mantan yang Kabur!

Linda Lim · Sedang Diperbarui · 135.9k Kata

947
Populer
951
Dilihat
0
Ditambahkan
Tambah ke Rak
Mulai Membaca
Bagikan:facebooktwitterpinterestwhatsappreddit

Pendahuluan

Aku mengikutinya sejak usiaku delapan belas tahun, selalu yakin bahwa aku berbeda dari yang lain.
Hingga kemudian, ia membawa pulang seorang gadis. Pemalu, penakut, persis seperti diriku dulu.
Menyaksikannya membanjiri gadis itu dengan segala perhatian yang pernah ia tahan untukku, barulah aku tersadar: aku tak pernah menjadi keistimewaan. Dialah satu-satunya.
Pada tahun kesepuluh mengikutinya, dengan hati yang luka tapi mantap, aku memilih untuk pergi.

Bab 1

Hari ini keluarga besar Lukman mengadakan makan malam di rumah. Di meja makan, beberapa lelaki yang duduk mengelilingi meja tak henti-hentinya melirik ke arah Melati Handayani.

Di bawah meja, tanpa ada yang sadar, Adrian Lukman sudah mengait pelan betis Melati dengan ujung sepatunya.

Melihat Melati tersenyum basa-basi pada lelaki lain, berpura-pura ramah seolah semuanya baik-baik saja, yang ada di benak Adrian cuma satu, kalau bisa dia ingin menelanjangi perempuan itu saat itu juga dan menghabisinya sampai tak bersisa.

Melati tersentak kecil, hampir saja garpu di tangannya terjatuh ke piring.

Dia buru-buru berdiri, mencari alasan, berkata pelan kalau dia mau ke kamar mandi. Adrian juga langsung ikut berdiri, seolah hanya kebetulan, lalu menyusul ke lantai atas dan mengurungnya di salah satu kamar.

Melati menahan dadanya dengan telapak tangan, berdiri di depan Adrian. “Adrian, jangan.”

“Menurut kamu aku nggak bisa?”

Mata Adrian menyipit, sudut bibirnya terangkat dengan senyum yang penuh makna sekaligus sangat tidak sopan.

Di punggung Melati ada satu tahi lalat merah, tepat di bawah tengkuk. Setiap kali dia menunduk, tahi lalat itu akan tampak sebentar lalu menghilang lagi di balik kerah, dan setiap melihatnya, tenggorokan Adrian seperti kering kerontang.

“Pak Adrian, jangan di sini ....”

“Diam.”

Menurutnya, Melati sudah terlalu banyak bicara. Dia menarik paksa kancing bajunya yang berderet-deret sampai terlepas, menekan tubuh Melati ke daun pintu, lalu membenamkan kepala dan menggigit keras tahi lalat merah itu, sementara pinggulnya menghantam tanpa ampun.

Mata Melati memerah, bibir bawah nyaris digigit sampai putus. Dia menahan diri sekuat tenaga agar tidak mengeluarkan suara apa pun.

Namun, malam itu Adrian seperti orang kalap. Tubuh Melati sampai terhuyung, dunia di sekelilingnya berputar-putar, dan akhirnya, dari sela gigi dan bibirnya juga lolos desahan pelan yang tidak bisa dia kendalikan.

Begitu mendengar suara itu, Adrian bukannya malah berhenti, justru makin menjadi-jadi. Dia kembali menghantamnya lagi.

Sampai tiba-tiba, dari bagian bawah perut Melati menjalar nyeri yang tajam, menusuk. Dia panik dan berusaha mendorong tubuh lelaki di belakangnya sekuat tenaga.

“Adrian, sakit!”

Suaranya bergetar, bercampur nada memohon. Namun, Adrian sama sekali tidak menghiraukan.

Pada akhirnya, satu-satunya yang bisa Melati lakukan adalah menggigit.

“Ah—sial ....”

Rasa perih di lidah membuat Adrian tersadar. Dia mendelik tak terima ke arah Melati. “Kamu…!”

Belum sempat lanjut memaki, hidungnya tiba-tiba menangkap bau anyir. Melati memegangi perut, pelan-pelan berjongkok di lantai.

Begitu mengikuti arah pandang Melati, Adrian melihat darah mengalir di antara kedua kaki Melati. Dia mendecakkan lidah, terdengar jengkel.

“Mens, ya? Ribet banget.”

Nafsu yang tadinya menggebu langsung lenyap. Dia masuk ke kamar mandi, mencuci diri seadanya, dan ketika keluar, Melati masih saja berjongkok di tempat yang sama.

“Adrian, perutku sakit ....”

Mata Melati berkaca-kaca. Wajahnya pucat pasi, tubuhnya bergetar pelan menahan rasa sakit yang tak ada putusnya.

Adrian melemparkan jasnya ke arah Melati, sekenanya. “Pakai itu, keluar lewat pintu belakang. Jangan sampai ganggu acara di bawah.”

Tanpa menunggu jawaban, dia membuka pintu dan pergi begitu saja.

Entah berapa lama sampai rasa sakitnya sedikit mereda, barulah Melati berusaha berdiri. Dia mengenakan bajunya lagi dengan gerakan pelan, membenahi diri sekenanya, lalu keluar lewat pintu belakang rumah, seperti yang diperintahkan.

Ketika dia didorong keluar dari ruang operasi, kepala Melati masih terasa kosong.

Baru tadi pagi dia diberi tahu bahwa dia sebenarnya sedang hamil. Dan sekarang, bayi itu sudah tidak ada.

Dokter yang mendorong brankarnya menatap bingung ke arah Melati yang kosong menatap langit-langit, lalu menghela napas pelan. “Anak muda zaman sekarang nggak tahu jaga diri, ya. Hamil muda itu paling gampang keguguran. Suami kamu sudah datang?”

Melati menatap tetesan infus yang turun satu-satu, matanya tak fokus. Seolah dia sama sekali tidak mendengar pertanyaan barusan.

Perempuan di ranjang sebelah buru-buru meraih tas Melati yang dia titipkan tadi. “Waktu dia datang ke IGD, dia sendirian, Dok. Semua barangnya ada di saya, dia bahkan belum ....”

“Saya belum menikah.”

Suara Melati terdengar serak. Dia memaksa tubuhnya untuk tegak, duduk perlahan, lalu menerima formulir yang disodorkan dokter dan mulai mengisinya.

Saat baru menuliskan namanya, kertas di tangannya basah. Baru saat itu dia sadar kalau dia menangis.

Dia dan Adrian kehilangan anak mereka. Paling tidak, hal itu memang pantas ditangisi.

Seharian itu dia hanya terbaring di rumah sakit. Dari sepuluh tahun dia bekerja, baru kali ini dia absen tanpa izin.

Menjelang jam sebelas malam, ponselnya akhirnya bergetar. Nama Adrian muncul di layar.

“Bolos seharian, istirahatnya sudah cukup, kan? Ke Bar Malam Biru sekarang.”

Di seberang terdengar suara musik keras bercampur suara orang tertawa, gaduh dan kacau. Di sela suara bising itu, Melati juga samar-samar mendengar ada seseorang yang sedang dibujuk minum. Baru saat itu dia teringat bahwa hari ini ulang tahun Sari Pratama, teman dekat Adrian. Harusnya malam ini dia ada di sana untuk membantu Adrian menolak minuman.

Melati baru akan menjelaskan bahwa dia sedang di rumah sakit ketika suara dingin Adrian memotong, terdengar tak sabaran. “Kamu punya waktu dua puluh menit. Jangan paksa aku ulang dua kali.”

Sambungan telepon terputus, nada sibuk terdengar berulang-ulang.

Melati tahu, Adrian sedang marah.

Dia bangkit perlahan, berjalan ke ruang perawat dan meminta obat pereda nyeri. Setelah menelan satu butir dengan bantuan segelas air putih, barulah dia keluar dari rumah sakit.

Di dalam taksi menuju bar, dia merias wajahnya secepat mungkin. Memanfaatkan pantulan kaca jendela dan kamera depan ponsel. Di pinggir jalan, dia turun sebentar hanya untuk membeli gaun murah di kios kecil, lalu berganti pakaian di toilet umum yang pengap.

Fitur wajah Melati memang menonjol. Setelah diberi sentuhan make up tipis, seluruh aura dirinya berubah, ada kesan dingin yang elegan.

Ketika sampai di Bar Malam Biru, seorang pelayan yang sudah mengenalnya langsung menyapanya sambil tersenyum lebar. “Nona Melati, Pak Adrian di ruang 209.”

Melati mengangguk singkat, tidak banyak bicara, lalu melangkah ke lantai dua.

Begitu pintu ruang VIP dibuka, seseorang langsung menariknya masuk dengan keras. Suara Adrian menyusul kemudian, dingin dan datar. “Sari, ini Melati. Dia alergi alkohol, jangan keterlaluan.”

Sari Pratama, lelaki yang malam itu berulang tahun, langsung melingkarkan lengannya ke pinggang Melati. “Melati, dari dulu gue suruh lo ikut gue aja, lo nggak mau juga! Tuh lihat, si Adrian mah berat sebelah. Sayang banget sama cewek kecilnya sampai-sampai nyuruh lo yang datang buat ngeladeni gue.”

“Sekarang mumpung gue ulang tahun, dia titip lo. Dia bilang lo utang gue satu gelas dari tahun lalu, jadi lo ganti pakai tiga gelas malam ini. Kalau nggak, nggak usah ngomong soal ‘harga diri’ segala.”

Melati memicingkan mata, membiarkan pupilnya menyesuaikan dengan remang lampu bar. Baru setelah itu dia bisa melihat jelas gadis yang duduk mepet di sisi Adrian.

Dia mengenali wajah itu. Itu Melinda Lestari, intern baru di bagian sekretariat kantor.

Melinda memeluk lengan Adrian erat-erat, seolah itu satu-satunya pegangan yang dia punya. Matanya basah, tampak panik, lalu menatap Melati dengan ragu. “Kak Melati, maaf… Aku baru pertama kali ikut acara begini. Pak Adrian cuma ... jagain aku dikit.”

Di sudut matanya terkumpul air, membuatnya terlihat seperti anak kelinci yang ketakutan. Refleks, siapa pun yang melihat pasti ingin melindunginya.

Adrian menarik Melinda lebih dekat, merengkuhnya ke dalam pelukan. “Kamu nggak salah apa-apa. Dia sekretaris, urus ginian memang kerjaan dia. Sudah, jangan takut.”

Kata-kata itu membuat pikiran Melati sempat kosong beberapa detik.

Selama ini, dia tidak pernah mendengar Adrian bicara selembut itu padanya.

Orang-orang di sekeliling jelas juga menangkap cara Adrian membela gadis itu. Satu per satu mereka bergantian ikut menenangkan Melinda. Sementara itu, Melinda terus saja melirik Melati, seolah benar-benar tidak mengerti apa-apa.

Melati menunduk, menatap lantai sesaat.

Di dalam hati, semuanya sudah jelas.

Tamu yang datang ke pesta ulang tahun Sari malam ini adalah orang-orang dari lingkaran sosial atas—pengusaha, pejabat, anak orang kaya. Adrian datang membawa seorang gadis muda dan menjaganya sedemikian rupa, jelas itu bukan sekadar sopan santun. Itu pengumuman halus bahwa perempuan ini spesial.

Sedangkan Melati Handayani? Hanya sekretaris yang dipanggil ke sini untuk menahan gelas demi bosnya.

Dia menarik napas panjang, menelan rasa perih di perut yang belum hilang sepenuhnya. Lalu meraih gelas yang disodorkan Sari.

“Pak Sari, selamat ulang tahun. Ini dari saya.”

Minum alkohol di hari yang sama dengan operasi kuretase? Itu sama saja bunuh diri.

Namun, Adrian hanya duduk di sana, menyaksikan semuanya. Mata dingin, ekspresi datar, membiarkan Melati menegak gelas demi gelas tanpa sekalipun menghentikannya.

Entah apa yang dibisikkan Melinda pada Adrian kemudian, lelaki itu akhirnya berdiri. “Maaf, gadis kecilnya ngantuk. Gue antar pulang dulu.”

Seisi ruangan langsung bersorak, beberapa mencibir, “Parah, bro. Teman ditinggal, gebetan dibela. Gila, berat sebelah banget.”

Adrian hanya tertawa ringan, melambaikan tangan. Dia tak sekalipun menoleh ke arah Melati sebelum keluar.

Jam tiga pagi lewat, Melati baru keluar dari bar dalam keadaan hampir limbung. Kepalanya berat, perutnya senut-senut, dan langkahnya goyah.

Begitu di luar pintu, dia melihat mobil Adrian parkir di depan. Tanpa memikir panjang, dia membuka pintu belakang dan menjatuhkan diri di jok, tertidur begitu saja.

Dalam keadaan setengah sadar, dia merasakan napas panas seorang lelaki menyentuh wajahnya. Tangan besar dengan kulit kasar meraba, meremas, mempermainkan tubuhnya tanpa rasa iba.

Melati tersentak bangun. Begitu menyadari perubahan di tubuh Adrian, dia berusaha meronta. Namun, dalam hitungan detik, kedua tangannya sudah ditarik ke atas kepala dan diikat dengan dasi.

Adrian mendekap pinggangnya erat-erat, seolah takut dia menghilang. Bibirnya menelusuri kulit di dada Melati, menaburkan kecupan-kecupan rapat yang membuatnya sulit bernapas.

Mengingat bagaimana Sari tadi berulang kali melingkarkan tangannya di pinggang Melati saat bercanda, Adrian mendadak kesal sendiri. Dia membalas dengan menggigit keras sisi pinggang Melati, tepat di bagian daging yang lunak.

“Ah! Adrian! Kamu gila, ya?!”

Rasa sakit yang tajam membuat air mata Melati langsung mengalir. Adrian hanya menyeringai, puas dengan reaksi itu. Lalu dengan satu gerakan dia membuka ikat pinggangnya sendiri, berusaha mengangkat rok Melati.

Begitu melihat celana dalam di antara kakinya, dia mendesis pelan, mengumpat. Bagaimana bisa dia lupa kejadian kemarin?

Melati segera duduk tegak dan menarik dasi dari pergelangan tangannya, napasnya masih belum teratur. Pipinya masih memanas, entah karena alkohol atau ulah Adrian, dan dia benar-benar tidak mengerti lagi apa yang sebenarnya dia mau.

Menatap bagian bawah tubuh Adrian yang masih tegang, Melati tiba-tiba teringat mata besar Melinda yang tampak begitu polos. Pertanyaan pun lolos dari bibirnya sebelum sempat dia tahan. “Kenapa kamu nggak nginap di tempat dia aja?”

“Dia masih kecil. Belum pantas buat hal-hal begini.”

Adrian mengangkat dagu Melati dengan ujung jarinya, mengusap lembut bibir yang tadi sudah dia lumuri gigitan.

Tenggorokan Melati tercekat. Kata-katanya seolah tercekat.

Untuk melindungi Melinda, dia bisa bersikap sangat hati-hati. Namun, untuk menjadikan tubuh Melati sebagai sasaran pelampiasan, dia sama sekali tidak kenal ragu.

Dia memaksa suaranya keluar, rasanya seperti menelan pecahan kaca. “Kamu ... suka dia?”

“Hmm.”

Melati tidak yakin apakah itu sekadar gumaman atau persetujuan. Namun sebelum dia sempat mencerna, Adrian sudah mendorongnya kembali, menekan tubuhnya di antara kedua pahanya.

“Kalau bawah nggak bisa dipakai,” bisiknya datar, “pakai atas aja.”

Bab Terakhir

Anda Mungkin Suka 😍

Gadis Gemerlap

Gadis Gemerlap

3.6k Dilihat · Sedang Diperbarui · Budi Santoso
Setelah bersatu kembali dengan orang tua kandungnya, Sari dikenal sebagai seorang pecundang. Di kuliahnya, dia menjilat, suka berkelahi, dan bolos setiap hari. Bahkan pertunangannya dengan keluarga Rahman putus akibat kehidupan pribadinya yang berantakan! Semua orang menanti kehancurannya.

Namun di luar dugaan, dia membalas dengan tamparan yang menyakitkan! Ternyata dia bergelar doktor dan adalah ilmuwan ternama. Dia juara catur nasional, investor jenius, legenda bela diri... Saat prestasi tak terbantahkan ini terungkap satu per satu, tak terhitung orang mengejarnya.

Sementara itu, Tuan Phillips, legenda bisnis yang dulu memandangnya dengan hina, kini panik: Itu istriku! Menyingkir kalian!
Mantan Istri yang Tak Terlupakan

Mantan Istri yang Tak Terlupakan

9.1k Dilihat · Sedang Diperbarui · Dewi Sartika
Momen paling memalukan dalam hidupku adalah ketika ayahku mengusir ibu dan aku keluar dari rumah. Setelah insiden itulah aku menerobos masuk ke dalam kehidupan Ari Limbong. Sejak saat itu, duniamu hancur berantakan, dan satu-satunya harapanku hanyalah menua bersamanya.

Dia melamarku, dan kuterima. Bagaimana mungkin aku menolak pria yang sudah lama kusukai? Dia menjelaskan dengan tegas bahwa hubungan kami hanya berdasarkan uang dan seks, dan aku tidak keberatan. Dalam pernikahan tanpa cinta itu, aku sudah puas hanya bisa berada di sampingnya.

Dia mengajukan gugatan cerai, dan kusetujui. Lima tahun pernikahan berakhir dalam satu hari. Aku merasa putus asa, dan hanya berharap untuk tidak pernah melihatnya lagi.

Setelahnya, dia berkata, "Sari, mari kita menikah lagi." Aku sama sekali tidak merasa apa-apa dan menjawab, "Pak Limbong, kurasa tidak ada yang perlu kita bicarakan selain urusan bisnis."

Dia meraih pinggangku dan berkata, "Kau yakin? Anak itu baru saja memanggilku Ayah!"
Ketika Aku Mencintaimu

Ketika Aku Mencintaimu

1k Dilihat · Selesai · Yulinda Li
Cinta. Bolehkah seorang Shakila memperjuangkannya? Bertahan atas nama CINTA.
Bahagia. Meski terkadang, Shakila tahu untuk saat ini ia belum mendapatkan cinta.

Memperjuangkan cinta sepihaknya. Mengejar laki-laki yang telah memiliki seorang kekasih. Tapi, bukankah seseorang memiliki sebuah alasan ketika ia memutuskan untuk terus berjuang?

Shakila bukanlah seorang pelakor, namun tanpa sengaja sebuah peristiwa membuat dirinya dapat menikah dengan pria impiannya.
Tentu saja, hal tersebut merupakan sebuah keberuntungan baginya. Namun, berbanding terbalik dengan Delvin Arsalan Davendra. Bos Shakila itu menganggap jika pernikahannya adalah salah. Benar-benar salah. Tetapi, untuk saat ini ia tak mungkin menceraikan Shakila dengan cepatnya.

Lantas, bagaimana dengan saat yang akan datang? Apa Delvin masih menganggap jika pernikahannya adalah kesalahan? Atau malah sebaliknya?
Putri Sang Kesatria

Putri Sang Kesatria

4.8k Dilihat · Sedang Diperbarui · Rangga Wijaya
Dengan hati penuh harap, ia menanti di rumah selama tiga tahun yang panjang. Namun, kabar yang diterimanya justru kemenangan sang pahlawan dan pernikahannya dengan wanita lain.

Saat ia berusaha mempertahankan hubungan mereka, pria itu membalasnya dengan tuduhan pedas — menyebutnya sebagai pencari untung yang tak peduli pada tanggung jawab dan kehormatan yang lebih besar.

Kini, tekadnya bulat. Dengan pedang terhunus dan hati yang teguh, ia menaiki kudanya dan pergi meninggalkan segalanya.

Sebagai putri seorang legenda, ia akan membuktikan pada dunia: seorang perempuan pun mampu memikul tanggung jawab keluarganya, dan menjadi seorang kesatria sejati — sekaligus pemimpin yang tangguh.

PUTRI SANG KESATRIA
Lahir Kembali Dengan Tangan Master

Lahir Kembali Dengan Tangan Master

1.1k Dilihat · Selesai · PageProfit Studio
Xiao Yi, yang aslinya adalah master alkimia dari Sekolah Xuanyi, meninggal secara tak terduga dan dirasuki oleh seorang pemuda terpencil di Kota Haicheng. Ia terlahir kembali di museum pengobatan Tiongkok. Keterampilan akupunktur empat-xiang yang telah lama hilang muncul kembali, dan berbagai obat mujarab muncul kembali mengejutkan dunia. Grandmaster senang bisa pergi ke kota, kembali ke puncak masa lalu!
Cinta Terburu-buru Sang CEO

Cinta Terburu-buru Sang CEO

13.7k Dilihat · Sedang Diperbarui · Budi Santoso
Setelah pengantinnya kabur, dia terpaksa menikahi keluarga kaya raya dengan reputasi buruk, menjadi Nyonya Fajar. Saat hamil dua bulan, sang suami memberinya surat cerai dan pergi tanpa ampun. Bertahun-tahun kemudian, dia telah menjadi seorang selebriti yang bersinar, dikelilingi banyak pelamar. Melihat anak lelaki yang sangat tampan di dekatnya, pria itu tersenyum sinis: "Hei, putramu mirip sekali denganku!" "Kita sudah cerai!" hardik wanita itu, menahan amarah.
Ayo! Mas Leng!

Ayo! Mas Leng!

562 Dilihat · Selesai · PageProfit Studio
Dia adalah "ayah baptis elektronik" paling terkenal di dunia, dia adalah seorang psikolog yang tidak diheralkan.
Dia berkata: "Garis hidup Anda begitu lama, itu berarti bahwa sumpah Anda dapat dilakukan untuk waktu yang lama, wanita yang Anda cintai akan sangat bahagia dan bahagia ..."
"Apakah Anda ingin menjadi wanita bahagia itu?" tanyanya. "
Dia pikir dia mencintainya, tapi itu masih konspirasi.
Pada hari pernikahan, cinta lama datang dan pergi, dan melihat dinginnya pria itu sendiri dalam sekejap, dan dia tahu bahwa cinta itu berakhir lagi.
Untuk melupakan rasa sakit, lupakan dia, dia mengeluarkan jam saku menghipnotis dirinya sendiri, menghapus semua kenangan tentang dia,
Tapi pria itu tidak membiarkannya pergi, "Wanita! Tidak peduli berapa kali kau melupakanku! Aku akan memanggil kembali cintamu untukku!
Cinta dan Nafsu: Skandal di Keluargaku

Cinta dan Nafsu: Skandal di Keluargaku

15.8k Dilihat · Sedang Diperbarui · Rangga Wijaya
Namaku Kevin. Di usia tiga puluh tahun, aku dikaruniai seorang istri yang baik, cantik, dan memesona, terkenal dengan tubuhnya yang menakjubkan, serta keluarga yang bahagia. Penyesalan terbesarku berawal dari sebuah kecelakaan mobil yang merusak ginjalku dan membuatku menjadi impoten. Meskipun berada di dekat istriku yang menggairahkan dan penuh hasrat, aku merasa tidak mampu mencapai ereksi.

Ibuku meninggal sejak aku kecil, dan ayahku yang baik hati serta kuat telah mengambil peran untuk merawat anak-anakku di rumah. Segala upaya dan obat-obatan telah kucoba untuk mengembalikan fungsi ereksiku yang normal, namun semuanya sia-sia. Suatu hari, saat berselancar di internet, tanpa sengaja aku menemukan literatur dewasa yang melibatkan hubungan antara ayah mertua dan menantu, yang tanpa kusadari langsung membuatku terpikat dan terangsang.

Berbaring di samping istriku yang sedang tidur dengan tenang, aku mulai membayangkan wajahnya pada karakter menantu dalam cerita itu, yang membuatku terangsang sampai tingkat yang luar biasa. Aku bahkan menemukan bahwa membayangkan istriku bersama ayahku sendiri saat aku memuaskan diri sendiri, terasa lebih memuaskan daripada bercinta dengannya secara langsung. Menyadari bahwa aku tanpa sengaja telah membuka kotak Pandora, aku mengakui bahwa tidak ada jalan kembali dari kegembiraan baru yang tak terkendali ini...
Boneka Iblis

Boneka Iblis

12.3k Dilihat · Selesai · Williane Kassia
Aku menambahkan satu jari lagi, merasakan ketegangannya meningkat saat jariku menjelajahi setiap inci vaginanya.

"Rileks, ya." Aku mencium bokong kirinya dan memutar jariku di dalamnya, lalu mendorongnya dengan keras.

"Ahh!"

Dia mengeluarkan erangan panas saat aku menyentuh titik sensitifnya, dan aku mendekati payudara kanannya, menandainya dengan gigitan dan hisapan. Aku ingin semua orang tahu besok bahwa dia sekarang punya seorang pria, pria yang akan menjadi satu-satunya pemiliknya. Setiap gerakannya akan kuketahui, hanya aku yang bisa memilikinya. Aku akan membunuh siapa pun yang berani mendekati boneka kecilku yang cantik ini.


Hidup Aurelia berubah drastis ketika dia dituduh salah membawa ganja di dalam ranselnya, dia dikirim ke Penjara Horizon yang terkenal, yang dikenal sebagai neraka di bumi. Di lingkungan di mana hukum dan ketertiban tampak seperti ilusi belaka, Aurelia mendapati dirinya dikelilingi oleh penjahat kejam dan bayangan menyeramkan yang mengintai di setiap sudut penjara.

Putus asa untuk bertahan hidup dan melarikan diri dari mimpi buruk ini, Aurelia menarik perhatian Iblis yang ditakuti, pemimpin tertinggi penjara itu. Dengan aura kekuasaan dan dominasi mutlaknya, Iblis melihatnya sebagai mangsa yang menggoda, bertekad untuk memilikinya sebagai miliknya. Saat dia berjuang untuk bertahan hidup di lingkungan di mana kekerasan merajalela, dia mendapati dirinya terlibat dalam permainan kucing dan tikus yang berbahaya dengan Iblis.

Di antara kegelapan penjara dan bayangan koridor, Aurelia berjuang untuk menjaga kemanusiaannya tetap utuh, bahkan saat dia mencoba mengubahnya menjadi boneka patuh. Di dunia di mana garis antara kebaikan dan kejahatan kabur, dia harus menemukan cara untuk menolak godaannya sebelum terlambat.

"Boneka Iblis" adalah kisah tentang keberanian, pengorbanan, dan penebusan di tempat di mana harapan adalah kemewahan langka dan bertahan hidup adalah perjuangan sehari-hari.
Kecintaan Satu Malam

Kecintaan Satu Malam

666 Dilihat · Selesai · PageProfit Studio
Sebelum menikah.
Dia berkata: "Kasar, tidak profesional, melempar wanita. Tidak heran seorang pria seperti Anda akan merampok seorang wanita. "
Dia mencentang bibirnya: mata tersapu di atas tubuhnya, samar-samar: "kekanak-kanakan, bandara, masalah cinta, bahkan wanita tidak bisa dipanggil, saya enggan menerima Anda." "
Dia mencibir: Tidak, aku akan menemukan seorang pria yang bersedia menerimaku.
Dia menggendongnya: Saya tidak pergi ke neraka, yang pergi ke neraka
Setelah menikah.
"Apa tiga disiplin ilmu dan delapan catatan?" Seorang kolonel menatap wanita yang telah kembali terlambat dan menatap wajah merahnya karena minum.
"Eh- "Wanita minum di kepala, orang tua tidak tahu, tetapi juga kembali tiga disiplin ilmu delapan perhatian?"
"Sepertinya pendidikan kemarin tidak cukup mendalam. Hari ini kita harus melanjutkan pendidikan kita. "Seorang kolonel akan mabuk bahu wanita, dengan kekuatan fisik untuk memberitahunya, apa yang disebut tiga disiplin ilmu, delapan perhatian.
Segera setelah di kamar datang tangisan seorang wanita: "Brengsek, aku ingin bercerai." "
Suara seorang kolonel sangat tenang: "Maaf, tentara tidak bisa bercerai." "
"Aku akan protes, uh- "
Brengsek, selalu menggunakan trik ini, dia tidak bosan ah?
Pengantin Pengganti

Pengantin Pengganti

1.6k Dilihat · Selesai · Miss Yulie 2
Mentari si pengantin dadakan. Terpaksa menggantikan posisi Kakak kembarnya, Samantha yang hilang di hari pernikahan. Namun, menjadi pengantin dadakan tak cukup menyelesaikan masalah. Tidak ada cinta, tidak ada perlakuan istimewa. Hanya cemoohan dan hal menyakitkan yang Mentari dapat.

Arga, laki-laki baik yang seharusnya adalah Kakak ipar kepada Mentari, tetapi justru menjadi suami. Seketika menjelma sebagai sosok dingin tak tersentuh. Dia tidak pernah ikhlas dengan kenyataan bahwa Samantha hilang dan digantikan oleh Mentari. Tak sehari pun waktu berlalu tanpa bayang mantan calon istrinya, tidak sekalipun memandang Mentari seperti sosok seharusnya. Tidak pernah ada cinta.
Cinta Manis dengan Suamiku Milyarder

Cinta Manis dengan Suamiku Milyarder

4.3k Dilihat · Sedang Diperbarui · Dewi Sartika
Setelah bertahun-tahun menghilang, Sari tiba-tiba mengumumkan comebacknya, membuat para penggemarnya menangis haru.
Dalam sebuah wawancara, Sari mengaku masih single, menyebabkan sensasi besar.
"Nyonya Limbong bercerai" langsung melesat ke puncak trending search.
Semua orang tahu Ari Limbong adalah taktisi yang kejam.
Persis ketika semua orang mengira dia akan menyikat habis Sari, sebuah akun baru terdaftar memberi komentar di profil pribadi Sari: "Bersimpuh di lantai atau di hadapanku, pilih!"