
Cepat, CEO! Kejar Mantan yang Kabur!
Linda Lim · Sedang Diperbarui · 135.9k Kata
Pendahuluan
Hingga kemudian, ia membawa pulang seorang gadis. Pemalu, penakut, persis seperti diriku dulu.
Menyaksikannya membanjiri gadis itu dengan segala perhatian yang pernah ia tahan untukku, barulah aku tersadar: aku tak pernah menjadi keistimewaan. Dialah satu-satunya.
Pada tahun kesepuluh mengikutinya, dengan hati yang luka tapi mantap, aku memilih untuk pergi.
Bab 1
Hari ini keluarga besar Lukman mengadakan makan malam di rumah. Di meja makan, beberapa lelaki yang duduk mengelilingi meja tak henti-hentinya melirik ke arah Melati Handayani.
Di bawah meja, tanpa ada yang sadar, Adrian Lukman sudah mengait pelan betis Melati dengan ujung sepatunya.
Melihat Melati tersenyum basa-basi pada lelaki lain, berpura-pura ramah seolah semuanya baik-baik saja, yang ada di benak Adrian cuma satu, kalau bisa dia ingin menelanjangi perempuan itu saat itu juga dan menghabisinya sampai tak bersisa.
Melati tersentak kecil, hampir saja garpu di tangannya terjatuh ke piring.
Dia buru-buru berdiri, mencari alasan, berkata pelan kalau dia mau ke kamar mandi. Adrian juga langsung ikut berdiri, seolah hanya kebetulan, lalu menyusul ke lantai atas dan mengurungnya di salah satu kamar.
Melati menahan dadanya dengan telapak tangan, berdiri di depan Adrian. “Adrian, jangan.”
“Menurut kamu aku nggak bisa?”
Mata Adrian menyipit, sudut bibirnya terangkat dengan senyum yang penuh makna sekaligus sangat tidak sopan.
Di punggung Melati ada satu tahi lalat merah, tepat di bawah tengkuk. Setiap kali dia menunduk, tahi lalat itu akan tampak sebentar lalu menghilang lagi di balik kerah, dan setiap melihatnya, tenggorokan Adrian seperti kering kerontang.
“Pak Adrian, jangan di sini ....”
“Diam.”
Menurutnya, Melati sudah terlalu banyak bicara. Dia menarik paksa kancing bajunya yang berderet-deret sampai terlepas, menekan tubuh Melati ke daun pintu, lalu membenamkan kepala dan menggigit keras tahi lalat merah itu, sementara pinggulnya menghantam tanpa ampun.
Mata Melati memerah, bibir bawah nyaris digigit sampai putus. Dia menahan diri sekuat tenaga agar tidak mengeluarkan suara apa pun.
Namun, malam itu Adrian seperti orang kalap. Tubuh Melati sampai terhuyung, dunia di sekelilingnya berputar-putar, dan akhirnya, dari sela gigi dan bibirnya juga lolos desahan pelan yang tidak bisa dia kendalikan.
Begitu mendengar suara itu, Adrian bukannya malah berhenti, justru makin menjadi-jadi. Dia kembali menghantamnya lagi.
Sampai tiba-tiba, dari bagian bawah perut Melati menjalar nyeri yang tajam, menusuk. Dia panik dan berusaha mendorong tubuh lelaki di belakangnya sekuat tenaga.
“Adrian, sakit!”
Suaranya bergetar, bercampur nada memohon. Namun, Adrian sama sekali tidak menghiraukan.
Pada akhirnya, satu-satunya yang bisa Melati lakukan adalah menggigit.
“Ah—sial ....”
Rasa perih di lidah membuat Adrian tersadar. Dia mendelik tak terima ke arah Melati. “Kamu…!”
Belum sempat lanjut memaki, hidungnya tiba-tiba menangkap bau anyir. Melati memegangi perut, pelan-pelan berjongkok di lantai.
Begitu mengikuti arah pandang Melati, Adrian melihat darah mengalir di antara kedua kaki Melati. Dia mendecakkan lidah, terdengar jengkel.
“Mens, ya? Ribet banget.”
Nafsu yang tadinya menggebu langsung lenyap. Dia masuk ke kamar mandi, mencuci diri seadanya, dan ketika keluar, Melati masih saja berjongkok di tempat yang sama.
“Adrian, perutku sakit ....”
Mata Melati berkaca-kaca. Wajahnya pucat pasi, tubuhnya bergetar pelan menahan rasa sakit yang tak ada putusnya.
Adrian melemparkan jasnya ke arah Melati, sekenanya. “Pakai itu, keluar lewat pintu belakang. Jangan sampai ganggu acara di bawah.”
Tanpa menunggu jawaban, dia membuka pintu dan pergi begitu saja.
Entah berapa lama sampai rasa sakitnya sedikit mereda, barulah Melati berusaha berdiri. Dia mengenakan bajunya lagi dengan gerakan pelan, membenahi diri sekenanya, lalu keluar lewat pintu belakang rumah, seperti yang diperintahkan.
Ketika dia didorong keluar dari ruang operasi, kepala Melati masih terasa kosong.
Baru tadi pagi dia diberi tahu bahwa dia sebenarnya sedang hamil. Dan sekarang, bayi itu sudah tidak ada.
Dokter yang mendorong brankarnya menatap bingung ke arah Melati yang kosong menatap langit-langit, lalu menghela napas pelan. “Anak muda zaman sekarang nggak tahu jaga diri, ya. Hamil muda itu paling gampang keguguran. Suami kamu sudah datang?”
Melati menatap tetesan infus yang turun satu-satu, matanya tak fokus. Seolah dia sama sekali tidak mendengar pertanyaan barusan.
Perempuan di ranjang sebelah buru-buru meraih tas Melati yang dia titipkan tadi. “Waktu dia datang ke IGD, dia sendirian, Dok. Semua barangnya ada di saya, dia bahkan belum ....”
“Saya belum menikah.”
Suara Melati terdengar serak. Dia memaksa tubuhnya untuk tegak, duduk perlahan, lalu menerima formulir yang disodorkan dokter dan mulai mengisinya.
Saat baru menuliskan namanya, kertas di tangannya basah. Baru saat itu dia sadar kalau dia menangis.
Dia dan Adrian kehilangan anak mereka. Paling tidak, hal itu memang pantas ditangisi.
Seharian itu dia hanya terbaring di rumah sakit. Dari sepuluh tahun dia bekerja, baru kali ini dia absen tanpa izin.
Menjelang jam sebelas malam, ponselnya akhirnya bergetar. Nama Adrian muncul di layar.
“Bolos seharian, istirahatnya sudah cukup, kan? Ke Bar Malam Biru sekarang.”
Di seberang terdengar suara musik keras bercampur suara orang tertawa, gaduh dan kacau. Di sela suara bising itu, Melati juga samar-samar mendengar ada seseorang yang sedang dibujuk minum. Baru saat itu dia teringat bahwa hari ini ulang tahun Sari Pratama, teman dekat Adrian. Harusnya malam ini dia ada di sana untuk membantu Adrian menolak minuman.
Melati baru akan menjelaskan bahwa dia sedang di rumah sakit ketika suara dingin Adrian memotong, terdengar tak sabaran. “Kamu punya waktu dua puluh menit. Jangan paksa aku ulang dua kali.”
Sambungan telepon terputus, nada sibuk terdengar berulang-ulang.
Melati tahu, Adrian sedang marah.
Dia bangkit perlahan, berjalan ke ruang perawat dan meminta obat pereda nyeri. Setelah menelan satu butir dengan bantuan segelas air putih, barulah dia keluar dari rumah sakit.
Di dalam taksi menuju bar, dia merias wajahnya secepat mungkin. Memanfaatkan pantulan kaca jendela dan kamera depan ponsel. Di pinggir jalan, dia turun sebentar hanya untuk membeli gaun murah di kios kecil, lalu berganti pakaian di toilet umum yang pengap.
Fitur wajah Melati memang menonjol. Setelah diberi sentuhan make up tipis, seluruh aura dirinya berubah, ada kesan dingin yang elegan.
Ketika sampai di Bar Malam Biru, seorang pelayan yang sudah mengenalnya langsung menyapanya sambil tersenyum lebar. “Nona Melati, Pak Adrian di ruang 209.”
Melati mengangguk singkat, tidak banyak bicara, lalu melangkah ke lantai dua.
Begitu pintu ruang VIP dibuka, seseorang langsung menariknya masuk dengan keras. Suara Adrian menyusul kemudian, dingin dan datar. “Sari, ini Melati. Dia alergi alkohol, jangan keterlaluan.”
Sari Pratama, lelaki yang malam itu berulang tahun, langsung melingkarkan lengannya ke pinggang Melati. “Melati, dari dulu gue suruh lo ikut gue aja, lo nggak mau juga! Tuh lihat, si Adrian mah berat sebelah. Sayang banget sama cewek kecilnya sampai-sampai nyuruh lo yang datang buat ngeladeni gue.”
“Sekarang mumpung gue ulang tahun, dia titip lo. Dia bilang lo utang gue satu gelas dari tahun lalu, jadi lo ganti pakai tiga gelas malam ini. Kalau nggak, nggak usah ngomong soal ‘harga diri’ segala.”
Melati memicingkan mata, membiarkan pupilnya menyesuaikan dengan remang lampu bar. Baru setelah itu dia bisa melihat jelas gadis yang duduk mepet di sisi Adrian.
Dia mengenali wajah itu. Itu Melinda Lestari, intern baru di bagian sekretariat kantor.
Melinda memeluk lengan Adrian erat-erat, seolah itu satu-satunya pegangan yang dia punya. Matanya basah, tampak panik, lalu menatap Melati dengan ragu. “Kak Melati, maaf… Aku baru pertama kali ikut acara begini. Pak Adrian cuma ... jagain aku dikit.”
Di sudut matanya terkumpul air, membuatnya terlihat seperti anak kelinci yang ketakutan. Refleks, siapa pun yang melihat pasti ingin melindunginya.
Adrian menarik Melinda lebih dekat, merengkuhnya ke dalam pelukan. “Kamu nggak salah apa-apa. Dia sekretaris, urus ginian memang kerjaan dia. Sudah, jangan takut.”
Kata-kata itu membuat pikiran Melati sempat kosong beberapa detik.
Selama ini, dia tidak pernah mendengar Adrian bicara selembut itu padanya.
Orang-orang di sekeliling jelas juga menangkap cara Adrian membela gadis itu. Satu per satu mereka bergantian ikut menenangkan Melinda. Sementara itu, Melinda terus saja melirik Melati, seolah benar-benar tidak mengerti apa-apa.
Melati menunduk, menatap lantai sesaat.
Di dalam hati, semuanya sudah jelas.
Tamu yang datang ke pesta ulang tahun Sari malam ini adalah orang-orang dari lingkaran sosial atas—pengusaha, pejabat, anak orang kaya. Adrian datang membawa seorang gadis muda dan menjaganya sedemikian rupa, jelas itu bukan sekadar sopan santun. Itu pengumuman halus bahwa perempuan ini spesial.
Sedangkan Melati Handayani? Hanya sekretaris yang dipanggil ke sini untuk menahan gelas demi bosnya.
Dia menarik napas panjang, menelan rasa perih di perut yang belum hilang sepenuhnya. Lalu meraih gelas yang disodorkan Sari.
“Pak Sari, selamat ulang tahun. Ini dari saya.”
Minum alkohol di hari yang sama dengan operasi kuretase? Itu sama saja bunuh diri.
Namun, Adrian hanya duduk di sana, menyaksikan semuanya. Mata dingin, ekspresi datar, membiarkan Melati menegak gelas demi gelas tanpa sekalipun menghentikannya.
Entah apa yang dibisikkan Melinda pada Adrian kemudian, lelaki itu akhirnya berdiri. “Maaf, gadis kecilnya ngantuk. Gue antar pulang dulu.”
Seisi ruangan langsung bersorak, beberapa mencibir, “Parah, bro. Teman ditinggal, gebetan dibela. Gila, berat sebelah banget.”
Adrian hanya tertawa ringan, melambaikan tangan. Dia tak sekalipun menoleh ke arah Melati sebelum keluar.
Jam tiga pagi lewat, Melati baru keluar dari bar dalam keadaan hampir limbung. Kepalanya berat, perutnya senut-senut, dan langkahnya goyah.
Begitu di luar pintu, dia melihat mobil Adrian parkir di depan. Tanpa memikir panjang, dia membuka pintu belakang dan menjatuhkan diri di jok, tertidur begitu saja.
Dalam keadaan setengah sadar, dia merasakan napas panas seorang lelaki menyentuh wajahnya. Tangan besar dengan kulit kasar meraba, meremas, mempermainkan tubuhnya tanpa rasa iba.
Melati tersentak bangun. Begitu menyadari perubahan di tubuh Adrian, dia berusaha meronta. Namun, dalam hitungan detik, kedua tangannya sudah ditarik ke atas kepala dan diikat dengan dasi.
Adrian mendekap pinggangnya erat-erat, seolah takut dia menghilang. Bibirnya menelusuri kulit di dada Melati, menaburkan kecupan-kecupan rapat yang membuatnya sulit bernapas.
Mengingat bagaimana Sari tadi berulang kali melingkarkan tangannya di pinggang Melati saat bercanda, Adrian mendadak kesal sendiri. Dia membalas dengan menggigit keras sisi pinggang Melati, tepat di bagian daging yang lunak.
“Ah! Adrian! Kamu gila, ya?!”
Rasa sakit yang tajam membuat air mata Melati langsung mengalir. Adrian hanya menyeringai, puas dengan reaksi itu. Lalu dengan satu gerakan dia membuka ikat pinggangnya sendiri, berusaha mengangkat rok Melati.
Begitu melihat celana dalam di antara kakinya, dia mendesis pelan, mengumpat. Bagaimana bisa dia lupa kejadian kemarin?
Melati segera duduk tegak dan menarik dasi dari pergelangan tangannya, napasnya masih belum teratur. Pipinya masih memanas, entah karena alkohol atau ulah Adrian, dan dia benar-benar tidak mengerti lagi apa yang sebenarnya dia mau.
Menatap bagian bawah tubuh Adrian yang masih tegang, Melati tiba-tiba teringat mata besar Melinda yang tampak begitu polos. Pertanyaan pun lolos dari bibirnya sebelum sempat dia tahan. “Kenapa kamu nggak nginap di tempat dia aja?”
“Dia masih kecil. Belum pantas buat hal-hal begini.”
Adrian mengangkat dagu Melati dengan ujung jarinya, mengusap lembut bibir yang tadi sudah dia lumuri gigitan.
Tenggorokan Melati tercekat. Kata-katanya seolah tercekat.
Untuk melindungi Melinda, dia bisa bersikap sangat hati-hati. Namun, untuk menjadikan tubuh Melati sebagai sasaran pelampiasan, dia sama sekali tidak kenal ragu.
Dia memaksa suaranya keluar, rasanya seperti menelan pecahan kaca. “Kamu ... suka dia?”
“Hmm.”
Melati tidak yakin apakah itu sekadar gumaman atau persetujuan. Namun sebelum dia sempat mencerna, Adrian sudah mendorongnya kembali, menekan tubuhnya di antara kedua pahanya.
“Kalau bawah nggak bisa dipakai,” bisiknya datar, “pakai atas aja.”
Bab Terakhir
#100 Bab [100] Nilai Lebih
Terakhir Diperbarui: 5/20/2026#99 Bab [99] Tertipu
Terakhir Diperbarui: 5/21/2026#98 Bab [98] Bukan Pacar
Terakhir Diperbarui: 5/20/2026#97 Bab [97] Pelacur
Terakhir Diperbarui: 5/21/2026#96 Bab [96] Belajar Berenang
Terakhir Diperbarui: 5/19/2026#95 Bab [95] Aturan
Terakhir Diperbarui: 5/20/2026#94 Bab [94] Suka Harus Direbut
Terakhir Diperbarui: 5/20/2026#93 Bab [93] Puas dengan Penampilanku?
Terakhir Diperbarui: 5/19/2026#92 Bab [92] Segera Keluar
Terakhir Diperbarui: 5/20/2026#91 Bab [91] Istriku
Terakhir Diperbarui: 5/20/2026
Anda Mungkin Suka 😍
Boneka Iblis
"Rileks, ya." Aku mencium bokong kirinya dan memutar jariku di dalamnya, lalu mendorongnya dengan keras.
"Ahh!"
Dia mengeluarkan erangan panas saat aku menyentuh titik sensitifnya, dan aku mendekati payudara kanannya, menandainya dengan gigitan dan hisapan. Aku ingin semua orang tahu besok bahwa dia sekarang punya seorang pria, pria yang akan menjadi satu-satunya pemiliknya. Setiap gerakannya akan kuketahui, hanya aku yang bisa memilikinya. Aku akan membunuh siapa pun yang berani mendekati boneka kecilku yang cantik ini.
Hidup Aurelia berubah drastis ketika dia dituduh salah membawa ganja di dalam ranselnya, dia dikirim ke Penjara Horizon yang terkenal, yang dikenal sebagai neraka di bumi. Di lingkungan di mana hukum dan ketertiban tampak seperti ilusi belaka, Aurelia mendapati dirinya dikelilingi oleh penjahat kejam dan bayangan menyeramkan yang mengintai di setiap sudut penjara.
Putus asa untuk bertahan hidup dan melarikan diri dari mimpi buruk ini, Aurelia menarik perhatian Iblis yang ditakuti, pemimpin tertinggi penjara itu. Dengan aura kekuasaan dan dominasi mutlaknya, Iblis melihatnya sebagai mangsa yang menggoda, bertekad untuk memilikinya sebagai miliknya. Saat dia berjuang untuk bertahan hidup di lingkungan di mana kekerasan merajalela, dia mendapati dirinya terlibat dalam permainan kucing dan tikus yang berbahaya dengan Iblis.
Di antara kegelapan penjara dan bayangan koridor, Aurelia berjuang untuk menjaga kemanusiaannya tetap utuh, bahkan saat dia mencoba mengubahnya menjadi boneka patuh. Di dunia di mana garis antara kebaikan dan kejahatan kabur, dia harus menemukan cara untuk menolak godaannya sebelum terlambat.
"Boneka Iblis" adalah kisah tentang keberanian, pengorbanan, dan penebusan di tempat di mana harapan adalah kemewahan langka dan bertahan hidup adalah perjuangan sehari-hari.
Kesempatan Kedua Sang Miliarder
Jasmine Dupree, sahabat dan karyawan Dimitri, selalu mencintai Dimitri tanpa sepengetahuannya. Sahabat mereka, Grayson Paul dan Dimitri, tidak tahu bahwa kembalinya sahabat mereka akan mengakhiri pernikahannya. McKenzie dituduh mengkhianati Dimitri dan diusir, hanya untuk muncul kembali lima tahun kemudian sebagai dokter yang menyelamatkan nyawa sahabatnya, Grayson.
McKenzie mencoba menjauh, berjanji untuk menjauh dari Dimitri. Lima tahun berlalu dan dia masih membencinya karena mengkhianatinya, namun detail baru terungkap yang membuat Dimitri meragukan tuduhannya lima tahun lalu. Jasmine melihat kesempatan untuk mengacaukan McKenzie dan melakukannya, yang tidak diketahui Jasmine adalah bahwa Dimitri masih mencintai McKenzie dan dia masih istrinya. Dia tidak pernah menceraikannya meskipun McKenzie telah menandatangani surat cerai.
Ketika Dimitri mengetahui bahwa dia salah, dia merasa jijik dengan cara dia memperlakukannya dan mulai mencari jalan untuk kembali padanya. McKenzie Peirce di sisi lain tidak tahu bahwa dia akan diberi kesempatan kedua untuk cinta, dengan pria yang selalu dia cintai. Dengan sahabat dan keluarganya di sisinya, dia berniat untuk memenangkan kembali hati McKenzie, namun saat mereka mencoba membuat pernikahan kesempatan kedua mereka berhasil, masalah mulai muncul. Jasmine menolak untuk menyerah pada Dimitri.
Istri Mantan yang Terperangkap
Meskipun mereka telah menikah dan bersama selama dua tahun, hubungan mereka tidak berarti sebanyak kembalinya Debbie bagi Martin.
Martin, demi mengobati penyakit Debbie, dengan kejam mengabaikan kehamilan Patricia dan dengan kejam mengikatnya di meja operasi. Martin tidak punya hati, dia membuat Patricia merasa tak berdaya, yang mendorongnya untuk pergi ke negeri asing.
Namun, Martin tidak akan pernah menyerah pada Patricia, meskipun dia membencinya. Dia tidak bisa menyangkal bahwa dia memiliki ketertarikan yang tak bisa dijelaskan terhadap Patricia. Mungkinkah Martin, tanpa disadari, telah jatuh cinta pada Patricia?
Ketika dia kembali dari luar negeri, anak kecil di samping Patricia itu anak siapa? Mengapa dia sangat mirip dengan Martin, si iblis berwujud manusia?
Pelatih Kecantikan
Keputusan ini bukan karena alasan yang rumit atau berbelit-belit, tapi simpel saja, karena dia miskin dan tak punya banyak pilihan!
Sama-sama baru lulus setengah tahun, Chu Fei sekarang hanya mendapatkan gaji kurang dari dua juta rupiah per bulan, hidupnya pas-pasan. Tapi pacarnya, Li Ran, bisa mendapatkan lebih dari empat juta per bulan. Dan baru-baru ini, dia menerima bonus akhir tahun sebesar lima belas juta! Kalau dihitung-hitung, penghasilannya hampir mencapai tujuh belas atau delapan belas juta per bulan, sepuluh kali lipat dari gaji Chu Fei!
Itulah bedanya.
7 Malam dengan Tuan Black
"Apa yang kamu lakukan?" Dakota mencengkeram pergelangan tanganku sebelum mereka menyentuh tubuhnya.
"Menyentuhmu." Bisikan keluar dari bibirku dan aku melihat matanya menyipit padaku seolah aku telah menghinanya.
"Emara. Kamu tidak akan menyentuhku. Hari ini atau kapan pun."
Jari-jarinya yang kuat meraih tanganku dan menempatkannya dengan tegas di atas kepalaku.
"Aku di sini bukan untuk bercinta denganmu. Kita hanya akan bercinta."
Peringatan: Buku Dewasa 🔞
. . ......................................................................................................
Dakota Black adalah pria yang diselimuti karisma dan kekuasaan.
Tapi aku membuatnya menjadi monster.
Tiga tahun lalu, aku mengirimnya ke penjara. Secara tidak sengaja.
Dan sekarang dia kembali untuk membalas dendam padaku.
"Tujuh malam." Katanya. "Aku menghabiskan tujuh malam di penjara busuk itu. Aku memberimu tujuh malam untuk tinggal bersamaku. Tidur denganku. Dan aku akan membebaskanmu dari dosamu."
Dia berjanji untuk menghancurkan hidupku demi pemandangan yang bagus jika aku tidak mengikuti perintahnya.
Pelacur pribadinya, begitu dia memanggilku.
🔻KONTEN DEWASA🔻
Perselingkuhan Tersembunyi: Istriku Jatuh Cinta pada Ayahku
Ibu saya meninggal saat saya masih kecil, dan ayah saya yang baik hati dan kuat telah mengambil peran merawat anak-anak saya di rumah. Mencoba berbagai macam pengobatan untuk mengembalikan fungsi ereksi normal tidak membuahkan hasil. Suatu hari, saat menjelajahi internet, saya menemukan literatur dewasa yang melibatkan mertua laki-laki dan menantu perempuan, yang entah bagaimana langsung menarik dan membangkitkan gairah saya.
Berbaring di samping istri saya yang tidur dengan tenang, saya mulai membayangkan wajahnya pada karakter menantu perempuan dari cerita tersebut, yang membangkitkan gairah saya dengan luar biasa. Saya bahkan menemukan bahwa membayangkan istri saya bersama ayah saya saat saya memuaskan diri sendiri lebih memuaskan daripada berhubungan intim dengannya. Menyadari bahwa saya secara tidak sengaja membuka kotak Pandora, saya mengakui bahwa tidak ada jalan kembali dari kegembiraan baru yang tak terkendali ini...
Sekejap Keindahan
Baru saja sampai di luar pintu, terdengar suara ibu mertua, Bu Meiling, yang terdengar begitu menggoda.
Kemudian terdengar suara erangan dan bisikan aneh...
Bapak Ryan
Dia mendekat dengan ekspresi gelap dan lapar,
begitu dekat,
tangannya meraih wajahku, dan dia menekan tubuhnya ke tubuhku.
Mulutnya mengambil milikku dengan rakus, sedikit kasar.
Lidahnya membuatku terengah-engah.
"Kalau kamu tidak ikut denganku, aku akan meniduri kamu di sini." Dia berbisik.
Katherine menjaga keperawanannya selama bertahun-tahun bahkan setelah dia berusia 18 tahun. Tapi suatu hari, dia bertemu dengan seorang pria yang sangat seksual, Nathan Ryan, di klub. Dia memiliki mata biru paling menggoda yang pernah dia lihat, dagu yang tegas, rambut pirang keemasan, bibir penuh, sempurna, dan senyum yang luar biasa, dengan gigi yang sempurna dan lesung pipit yang sialan itu. Sangat seksi.
Dia dan dia memiliki malam yang indah dan panas...
Katherine berpikir dia mungkin tidak akan bertemu pria itu lagi.
Tapi takdir punya rencana lain.
Katherine akan mengambil pekerjaan sebagai asisten seorang miliarder yang memiliki salah satu perusahaan terbesar di negara ini dan dikenal sebagai pria yang menaklukkan, otoritatif, dan sangat menggoda. Dia adalah Nathan Ryan!
Apakah Kate bisa menahan pesona pria yang menarik, kuat, dan menggoda ini?
Baca untuk mengetahui hubungan yang terombang-ambing antara kemarahan dan hasrat yang tak terkendali.
Peringatan: R18+, Hanya untuk pembaca dewasa.
Putri Raja Judi: Kebangkitan Sang Putri
Rayuan untuk Kakak Tiriku si Mafia
Ketika aku kembali ke Bali dan melanjutkan karierku sebagai dokter, aku dipaksa untuk menghadiri pernikahan ibu angkatku — dan di sanalah dia berada. Kakak tiriku ternyata adalah partner satu malamku!
Jantungku hampir berhenti berdetak.
Keluarga ayah tiriku adalah dinasti yang sangat kaya dan berkuasa di Bali, terlibat dalam jaringan bisnis yang kompleks dan diselubungi misteri, termasuk nuansa gelap serta kekerasan.
Aku ingin menjauh dari siapa pun dari keluarga mafia tradisional Indonesia ini.
Tapi kakak tiriku tidak mau melepaskanku!
Dan sekarang, dia kembali ke Bali, mengelola bisnis keluarganya dengan efisiensi yang kejam. Dia adalah perpaduan berbahaya dari kalkulasi dingin dan daya tarik yang tak terbantahkan, menarikku ke dalam jalinan takdir yang tidak bisa kuhindari.
Secara naluri aku ingin menjauhi bahaya, menjauh darinya, tetapi takdir terus mendorongku kepadanya lagi dan lagi, dan aku kecanduan padanya di luar kendaliku. Seperti apa masa depan kami?
Bacalah bukunya.
Istri Misterius
Setelah mereka bercerai, Evelyn muncul di hadapan Dermot sebagai Dr. Kyte.
Dermot sangat mengagumi Dr. Kyte dan jatuh cinta padanya. Dermot bahkan mulai mengejar Dr. Kyte dengan penuh semangat!
Evelyn bertanya kepada Dermot, "Kamu tahu siapa aku?"
Dengan percaya diri, Dermot menjawab, "Tentu saja. Kamu adalah Dr. Kyte, seorang dokter yang sangat terampil. Selain itu, kamu juga seorang hacker kelas atas dan pendiri merek fashion mewah!"
Evelyn mendekatkan diri ke telinga Dermot dan berbisik lembut, "Sebenarnya, aku juga mantan istrimu!"
(Saya sangat merekomendasikan sebuah buku yang sangat menarik hingga saya tidak bisa berhenti membacanya selama tiga hari tiga malam. Buku ini sangat mengasyikkan dan wajib dibaca. Judul bukunya adalah "Cerai Mudah, Rujuk Sulit". Kamu bisa menemukannya dengan mencarinya di kolom pencarian.)
Dipilih oleh Si Kembar Vampir
Sentuhan Lucien terasa dingin, namun aku terbakar panas dengan hasrat, penuh nafsu dan kebutuhan.
Bibirnya begitu lembut dan dia menciumku dengan kebutuhan yang sama yang membuat celana dalamku basah.
Tiba-tiba pintu terbuka dan saudara kembarnya masuk, mata merahnya melihat adegan itu saat aku terkejut dan merasa nikmat karena Lucien memasukkan jarinya ke dalam vaginaku yang basah.
Violet sudah terbiasa dengan perlakuan buruk dan perselingkuhan pasangannya. Tidak seperti dia bisa pergi kemana-mana, dia adalah Beta dan semua usaha pelariannya selalu berakhir dengan kekerasan.
Tetapi kemudian dia melampaui batas dengan menjualnya kepada Vampir Kembar yang terkenal.
Reed dan Liam Knight, Pangeran vampir abadi yang terkutuk yang telah bersumpah untuk tidak pernah menerima pasangan jiwa, memenangkan permainan judi melawan pasangan Violet dan untuk menghukumnya, mereka menuntut satu hal yang seharusnya sangat berharga bagi seorang werewolf, pasangannya.
Namun alih-alih melawan, dia dengan sukarela menyerahkannya kepada mereka.
Ketika mereka melihatnya, mereka berdua jatuh cinta pada pandangan pertama.
Mereka menyimpulkan bahwa itu pasti sihir mengingat ada aura misterius di sekitarnya. Mereka bahkan curiga bahwa pasangannya telah mengirimnya dengan misi untuk menghancurkan mereka.
Jadi mereka menjadikannya pelayan mereka tetapi takdir memiliki rencana berbeda dan Pangeran Kembar akan diuji kehendaknya secara mendalam.
Baca lebih lanjut untuk mengetahui bagaimana kisah harem terbalik ini berakhir.












